Apakah Kecerdasan Buatan Benar-benar Cerdas?

Apakah Kecerdasan Buatan Benar-benar Cerdas?

Naviri.Org - Dalam serial film Iron Man, kita mengenal kecerdasan buatan yang disebut Jarvis, yang membantu Tony Stark alias Iron Man saat bekerja dan melakukan eksperimen-eksperimen. Tampak dalam film, Tony Stark bisa menyerahkan tugas-tugas tertentu pada Jarvis, sang kecerdasan buatan, lalu Jarvis akan menyelesaikan tugas itu. Apakah Jarvis benar-benar cerdas? Apakah kecerdasan buatan benar-benar bisa berpikir?

Jawaban atas pertanyaan “Apakah sebuah mesin bisa berpikir?” telah menghantui para peneliti dan inovator sejak awal perkembangan komputer.

Pada 1950, matematikawan penemu Mesin Enigma yang menjadi cikal bakal komputer, Alan Turing, mengajukan usulan: sebuah mesin dapat dididik seperti anak-anak. Sementara pada 1955, inventor bahasa pemrogaman LISP John McCarthy menciptakan kata "kecerdasan buatan" untuk pertama kali.

Tidak lama kemudian, para peneliti kecerdasan buatan mulai menggunakan komputer untuk mengenali gambar, menerjemahkan bahasa, dan memahami instruksi, tidak hanya dalam bentuk kode tetapi juga dalam bahasa normal. Kegiatan ini jamak dilakukan pada periode 1960-an dan 1970.

Gagasan bahwa komputer akan mengembangkan kemampuan untuk berbicara dan berpikir pun merasuk dalam semesta wacana budaya populer. Film 2001: A Space Odyssey (1968) menampilkan robot HAL (Heuristically Programmed Algorithmic) 9000 yang mampu berbicara, bermain catur dengan manusia, dan merawat pesawat luar angkasa.

Beberapa di antaranya menyajikan kecerdasan buatan sebagai katastrofi (malapetaka) dalam peradaban manusia, misalnya Colossus: The Forbin Project (1970). Film tersebut menampilkan komputer berkedip besar yang membawa dunia ke ambang kehancuran nuklir.

Sementara itu, The Terminator (1984) menyajikan "seorang" robot pembunuh yang menyerupai manusia (diperankan oleh Arnlod Schwarzenegger). Ia dikirim dari tahun 2029 ke tahun 1984 untuk membunuh Sarah Connor (Linda Hamilton), perempuan yang kelak melahirkan seorang pemimpin pembebasan manusia atas tirani robot di masa depan.

Manusia kalah, robot menang?

Meski setelah Turing perkembangan kecerdasan buatan kurang mendapatkan suplai dana, semangatnya tetap terjaga oleh sejumlah penulis fiksi-ilmiah era 1980-an dan 1990-an. Bahkan mereka membawa kecerdasan buatan ke tingkat lanjut: sebuah komputer menjadi mampu secara mandiri merancang cara untuk mencapai tujuan tertentu, melakukan evaluasi terhadap tindakannya, memodifikasi perangkat lunaknya, dan mereproduksi dirinya sendiri.

Hal tersebut dicatat Paul Ford dalam artikelnya “Our Fear of Artificial Intelligence”. Menurut Ford, konsep yang dikenal dengan istiah singularitas itu dipopulerkan seorang penulis fiksi-ilmiah bernama Vernor Vinge.

Adanya konsep ini dan beberapa peristiwa di kemudian hari membuktikan bahwa robot atau kecerdasan buatan mampu menandingi manusia – DeepBlue, Al Music, mobil swakemudi, dsb – membawa pemahaman masyarakat bahwa di masa depan kecerdasan buatan memiliki kemampuan berpikir lebih tinggi dibandingkan manusia. Pada 2005, inventor Ray Kurzweil memprediksi singularitas akan terjadi pada 2045.

Nomura Research Institue (NRI), pada Februari 2017, merilis survei di tiga negara – Jerman, Amerika Serikat, dan Inggris – mengenai kecerdasan buatan. Salah satu pertanyaan NRI, “Apakah masyarakat sadar akan adanya singularitas pada 2045?”

Hasilnya, hanya 9 persen responden dari Jepang, 19 persen dari AS, dan 9 persen dari Jerman yang sadar bahwa hal tersebut bakal terjadi. Sementara 55 persen responden dari Jepang, 44 persen dari AS, dan 45 persen dari Jepang sama sekali tidak sadar dengan hal tersebut.

NRI juga menanyakan pendapat responden mengenai keuntungan dari kecerdasan buatan. NRI menyediakan jawaban tertutup dengan rentang skala 1, 2, 3, 4, dan 5. Semakin besar angka skala yang dipilih responden, ia dinilai semakin merasakan kecerdasan buatan menguntungkan dirinya.

Perbedaan jawaban responden di tiga negara cukup variatif. Di Jerman, ada 33 persen responden mengisi memilih skala 1, sementara 32 persen di antaranya mengisi skala 3. Hanya ada 5 persen responden di Jerman yang mengisi skala 5.

Sedangkan di Jepang, ada 11 persen responden yang mengisi skala 1, sementara 51 persen mengisi skala 3. Hanya ada 11 responden di Jepang yang mengisi skala 1.

Di AS, reponden terbelah. Sebanyak 30 persen responden mengisi skala 4, dan 5. Sedangkan 40 persen responden lainnya mengisi skala 1 dan 2.

Adanya singularitas ini pun masih problematis bagi peneliti bidang kecerdasan buatan di Aston University, Aniko Ekart. Kepada Sputnik, dia mengatakan salah satu definisi kecerdasan buatan menetapkan bahwa manusia menciptakan mesin cerdas yang tidak dapat melakukan semua hal yang sudah dapat dilakukan manusia

“Sangat sulit mengatakan kapan kita akan membuat robot sekuat manusia. Apa yang saya pikirkan sejauh ini adalah bahwa kecepatan pengembangan kecerdasan buatan sekarang ini jauh lebih cepat dibanding dua puluh tahun yang lalu. Jadi cukup sulit untuk memprediksi kapan hal itu akan terjadi,” ujar Ekart.

Baca juga: Kecerdasan Buatan, di Antara Ancaman dan Harapan

Related

Technology 3581989423319841005
item