Ibu Rumah Tangga dan Wanita Karier, Siapa Lebih Sibuk?

 Ibu Rumah Tangga dan Wanita Karier, Siapa Lebih Sibuk?

Naviri Magazine - Ketika pria dan wanita menikah, mereka bisa sama-sama bekerja, atau bisa hanya salah satunya yang bekerja. Jika sejak semula keduanya sudah bekerja, biasanya mereka akan tetap melanjutkan pekerjaan masing-masing setelah menikah, apalagi jika belum ada anak. Biasanya, setelah punya anak, pihak istri akan berhenti bekerja dan mengurus anak di rumah.

Bagi wanita karier yang biasa sibuk di kantor atau di tempat kerja, mungkin kadang membayangkan alangkah enak menjadi ibu rumah tangga. Dalam bayangan mereka, mungkin, menjadi ibu rumah tangga tidak harus dikejar deadline pekerjaan, tidak harus mengikuti rapat-rapat membosankan, bisa duduk santai saat kerjaan di rumah selesai, dan lain-lain. Apakah memang begitu kenyataannya?

Studi terbaru mengungkap, rata-rata ibu rumah tangga bekerja 14 jam sehari, tujuh hari seminggu. Sementara di kantor, rata-rata orang menghabiskan waktu 8 jam per hari, lima hari seminggu.

Jadi, ungkapan "menjadi ibu adalah full time job" tampaknya perlu direvisi. Karena jam kerja ibu hampir 2,5 kali pekerjaan full time pada umumnya.

Temuan baru ini diungkap produsen jus Welch. Mereka menyurvei 2.000 ibu di Amerika Serikat yang punya anak usia 5 hingga 12 tahun.

Hasilnya, rata-rata ibu bekerja 98 jam dalam seminggu. Mereka biasanya mulai bekerja pukul 06.23 pagi dan selesai sekitar pukul 08.31 malam. Itu sama dengan 14 jam kerja.

Ibu adalah pekerja keras. Menurut Departemen Tenaga Kerja AS, 70 persen ibu dengan anak di bawah usia 18 tahun berstatus pekerja kantoran. Ini berarti kebanyakan ibu berusaha menyeimbangkan pekerjaan dan keluarga.

Akan tetapi studi Welch, yang dilakukan pada 5 Mei 2017 dan 11 Mei 2017 oleh Market Researchers OnePoll di bawah program nutrisi Welch, membuktikan betapa keras dan lamanya seorang ibu bekerja.

Para peneliti melaporkan, empat dari 10 ibu yang disurvei mengatakan bahwa setiap pekan mereka merasa mendapatkan serangkaian tugas yang tidak pernah selesai.

Hasil survei ini menjelaskan betapa menjadi ibu itu penuh tuntutan. "Rentetan tugas menanti tanpa henti," ujar Casey Lewis, MS, RD dan Health & Nutrition Lead di Welch.

"Ibu yang sibuk tidak hanya memiliki beban kerja yang berat, ia juga menghadapi tuntutan untuk merawat dan menjaga anggota keluarga minggu demi minggu," lanjut Lewis.

Sebuah studi pada 2013 menemukan, daftar kerja ibu rata-rata terdiri dari 26 tugas. Mulai dari mempersiapkan makanan, sampai mengatur jadwal. Seandainya ibu rumah tangga digaji, Forbes melansir angkanya sekitar 115 ribu dolar AS per tahun. Jika dikurskan ke dalam rupiah, kira-kira Rp131,8 juta per bulan.

Selain punya tanggung jawab atas tugas-tugas dan rumah, banyak ibu juga menghadapi apa yang dikenal sebagai beban mental. Beban mental ini mencakup semua daftar perencanaan yang dibuat para ibu untuk menata kehidupan mereka dan orang-orang yang bergantung padanya.

Scary Mommy menulis, beban mental ini adalah komentar yang senantiasa berlarian dalam pikiran mereka. Membayangkan bagaimana caranya menyelesaikan rentetan tugas, belum lagi pekerjaan yang tak masuk daftar tapi harus dilakukan demi menyelesaikan pekerjaan yang sebenarnya.

Sudah bekerja begitu keras, ada diskriminasi, termasuk yang dialami ibu berkantor. Bahkan, peneliti di University of Chicago pernah membuktikannya. Mereka mengirimkan resume palsu ke ratusan pengusaha. Temuannya, para ibu hanya punya kemungkinan kecil dipanggil kembali untuk wawancara kerja.

Bukti lain soal kesenjangan gaji ditunjukkan oleh penelitian. Mereka menemukan bahwa, sementara gaji laki-laki naik lebih dari enam persen ketika mereka memiliki anak, gaji perempuan justru berkurang empat persen untuk setiap anak yang mereka miliki.

Bagi perempuan yang menghasilkan uang lebih banyak dari pasangannya, keadaan juga tidak selalu lebih baik.

Penelitian dari jasa pengasuhan anak Bright Horizons menunjukkan, meskipun persentase pencari nafkah perempuan meningkat, perempuan tetap mengerjakan sebagian besar tugas rumah tangga dan keluarga. Bahkan, tanggung jawab rumah tangga untuk ibu yang bekerja hanya meningkat ketika perempuanlah yang menghasilkan lebih banyak uang.

Ibu-ibu pencari nafkah dalam rumah tangga misalnya, punya kecenderungan tiga kali lebih besar daripada para ayah pencari nafkah untuk menjadi pengatur jadwal anak-anak. Para ibu pencari nafkahlah yang cenderung memastikan semua tanggung jawab keluarga terpenuhi.

Jadi, tidak mengherankan jika 69 persen ibu yang bekerja di kantor mengatakan tanggung jawab mereka di rumah dan di tempat kerja berujung pada beban mental yang besar. Belum lagi 52 persen dari mereka mengaku kewalahan menghadapi beban mental itu.

Faktanya, kini lebih banyak perempuan yang bekerja di kantor daripada sebelumnya. Bahkan menurut Time.com, lebih banyak perempuan bekerja melewati usia pensiun daripada sebelumnya.

Sementara, keterwakilan perempuan di tempat kerja mulai tampak, ketimpangan di rumah sendiri justru begitu-begitu saja, tak ada perubahan.

Baca juga: Suami Istri Bekerja, dan Rumitnya Membina Rumah Tangga

Related

Female 3889819523199950386
item