Maya Angelou, Penulis Wanita Paling Kontroversial di Amerika

Maya Angelou, Penulis Wanita Paling Kontroversial di Amerika

Naviri Magazine - Menyebut nama penulis wanita asal Amerika, kita tidak bisa melepaskan nama Maya Angelou. Dia bukan hanya salah satu penulis berpengaruh pada masanya, namun juga penulis yang kontroversial, dan bukunya dilarang di Amerika sampai bertahun-tahun. Meski begitu, kisah dan tulisan-tulisannya telah menyentuh kehidupan orang-orang di seluruh dunia.

Terlahir dengan nama Marguerite Annie Johnson pada 1928, pengalaman hidupnya yang luar biasa menjadi titik balik penulis berdarah Afro-Amerika ini.

Kisahnya bermula dengan tragedi ketika mengalami serangan seksual dari kekasih ibunya, saat berusia tujuh tahun. Ketika pria itu tewas dihajar pamannya, Angelou merasa bersalah, dan memutuskan mogok bicara selama lima tahun.

Selama tahun-tahun itu, buku dan puisi menjadi penghiburan dan temannya yang setia. Dia membaca karya penulis kulit hitam seperti Langston Hughes, W. E. B. Du Bois, dan Paul Lawrence Dunbar, serta karya kanonik William Shakespeare, Charles Dickens, dan Edgar Allan Poe.

Angelou kemudian mengisahkan pengalaman masa kecil dan kehamilannya dalam sebuah autobiografi, berjudul I Know Why the Caged Bird Sings (1969). Buku pertamanya ini sukses dan dinominasikan untuk Penghargaan Buku Nasional, dan masuk daftar buku terlaris New York Times selama dua tahun.

Buku Angelou merinci bagaimana penulis bertahan dari perkosaan yang dialaminya, kehamilan saat remaja, dan rasisme di Amerika. Karena isinya dianggap kontroversial, I Know Why the Caged Bird Sings lantas dilarang para pejabat sekolah konservatif dan kelompok orang tua di kota-kota negara bagian di AS.

Menurut edisi baru dari Banned Books Resource Guide, yang dilansir American Library Association, autobiografi Angelou telah menuai 39 laporan dari publik atau larangan sejak 1983.

Mayoritas laporan berasal dari orang tua yang keberatan dengan penggambaran buku karena berisi adegan seksual eksplisit, termasuk pemerkosaan dan penganiayaan yang diderita oleh penulis. Buku ini juga ditentang karena “anti-putih” dan mendorong homoseksualitas.

Dalam sebuah wawancara pada 2009, Maya Angelou mengungkapkan kesedihan dan kemarahan terhadap mereka yang melarang buku.

“Saya selalu menyesal orang-orang melarang buku saya. Sering kali saya disebut [penulis yang] paling dilarang,” kata Angelou, mengacu pada I Know Why the Caged Bird Sings. "Banyak sekali buku-buku saya dilarang oleh orang-orang yang tidak pernah membaca dua kalimat pun," jelasnya, sebagaimana dikutip New African Magazine.

Untuk melarang anak muda membaca buku Angelou, orang-orang konservatif di Virginia, AS, bahkan membentuk kelompok “Parents Against Bad Books in Schools.” Mereka berasumsi buku itu tak senonoh dan diisi dengan "deskripsi penyalahgunaan narkoba, perilaku seksual eksplisit dan penyiksaan." Alhasil, kelompok itu berhasil membuat buku Angelou dilarang dari distrik sekolah Virginia.

Pelarangan buku ini juga berhasil di tempat lain di bagian selatan Amerika Serikat yang jauh. Di Alabama, empat anggota Komite Buku Teks Negara meminta agar buku itu ditolak karena, katanya, buku itu mengajarkan “kepahitan dan kebencian terhadap orang kulit putih.”

Tak berhenti di situ, di Poolesville, Maryland, I Know Why the Caged Bird Sings juga dihapus dari daftar bacaan SMA setempat karena, pemrotes menuduh, buku itu "cenderung merusak anak di bawah umur."

Terlepas dari beragam penghargaan yang diterima karya Angelou, pelarangan buku itu tak kenal lelah. Pada tahun 2009 di Huntington Beach, California, Dewan Pengawas Sekolah, John Briscoe, meminta buku Angelou dihapus dari kurikulum sekolah.

"Ini berisi adegan penganiayaan anak-anak, adegan lesbian, adegan seks remaja, dan adegan kehamilan remaja," keluh petugas dewan sekolah Ocean View di pertemuan dewan kota. "Dan ini tidak pantas untuk anak-anak di sekolah menengah atau sekolah dasar," tambah Briscoe.

Meski mengalami tantangan penghapusan, buku ini dalam satu kasus tetap dimasukkan dalam kurikulum untuk siswa di Sekolah Menengah Dowling di Des Moines, Iowa.

Mengutip American Library Association, I Know Why the Caged Bird Sings juga masih dipertahankan pada 2006 sebagai bagian dari sekolah menengah atas di kelas lanjutan Inggris di Fond du Lac, Wisconsin.

Penggunaan teknik menulis fiksi Angelou dalam dialog dan plot dalam autobiografinya ini, dikutip dari Poetry Foundation, inovatif pada masanya. Cara ini juga membantunya mengatasi hubungan yang sulit antara kebenaran dan memori. Meskipun bersifat episodik dan dibuat dengan sangat ketat, buku-bukunya tidak selalu mengikuti kronologi ketat dan disusun untuk menekankan tema.

Baca juga: Mengenal Resensi Buku dan Aneka Manfaatnya

Related

Figures 5093462486332170298

Recent

item