Duh, Peneliti Menemukan Jenis Depresi yang Tidak Bisa Diobati

Duh, Peneliti Menemukan Jenis Depresi yang Tidak Bisa Diobati

Naviri Magazine - Depresi adalah masalah yang sering kali sulit diungkapkan oleh penderitanya. Pasalnya, belum semua orang bisa memahami penyakit ini. Karenanya, ketika penderita depresi mencoba menceritakan masalah yang dialaminya, bisa jadi malah mendapat jawaban atau tanggapan yang sama sekali berlainan.

Depresi adalah penyakit mental yang dapat memengaruhi suasana hati seseorang. Depresi tidak sama dengan stres, karena stres adalah kondisi yang muncul pada saat berada di bawah tekanan, misalnya tekanan dalam pekerjaan.

Saat seseorang sedang merasakan stres, maka tubuh akan menghasilkan hormon seperti adrenalin, kortisol, dan norepinefrin yang meningkatkan energi dan konsentrasi, agar manusia mampu mencari jalan keluar dari masalahnya tersebut. Bila stres terlalu sering terjadi, efeknya malah berbalik akan menyerang tubuh dan menyebabkan timbulnya penyakit seperti diabetes, jantung, atau stroke.

Sementara itu, depresi adalah penyakit mental yang membuat suasana hati menjadi buruk dan kehilangan semangat. Depresi membuat orang lebih mudah merasa sedih, kehilangan motivasi, bahkan hingga mengganggu kehidupan sehari-hari, karena orang yang menderita depresi seringkali kehilangan keinginan untuk makan, bekerja, belajar, atau bersosialisasi.

Penderita depresi biasanya akan diberi obat yang disebut selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs). Namun, penelitian dari Jepang baru-baru ini menunjukkan ada satu jenis depresi yang tidak bisa diobati dengan SSRIs.

"Hal ini menimbulkan spekulasi bahwa ada beberapa macam depresi, dan mereka memengaruhi efektivitas obat. Tetapi belum ada konsensusnya," kata Profesor Kenji Doya, dikutip dari IFL Science.

Berbekal dugaan atau spekulasi ini, Doya dan rekan-rekannya dari Neural Computational Unit di Okinawa Institute of Science and Technology kemudian melakukan kompilasi terhadap data mengenai depresi sebanyak mungkin.

Mereka mengumpulkan jawaban kuesioner, informasi medis, dan hasil scan MRI fungsional 78 wilayah otak dari 67 pasien yang menderita depresi berat, dan 67 subjek kontrol yang sehat. Hasilnya kemudian diolah menggunakan alat statistika model baru yang mereka kembangkan.

Hasilnya, tiga jenis depresi mereka ditemukan. Ketiganya dibedakan melalui faktor sebagai berikut, apakah orang tersebut pernah mengalami trauma pada saat masih kecil, dan pola konektivitas fungsional antara gyrus sudut kanan, wilayah otak yang terlibat dalam proses visual, kognisi spasial, memori, perhatian, dan beberapa aspek kesadaran diri, dan area lain dari jaringan modus default.

Pasien dengan fungsi gyrus sudut yang lebih tinggi dan pernah mengalami trauma di masa kecil mengidap jenis depresi yang tidak bisa diobati dengan SSRIs.

Dua jenis depresi lain, yakni depresi tanpa trauma masa kecil dan depresi tanpa peningkatan konektivitas pada gyrus kanan, merupakan depresi yang masih bisa diobati dengan SSRIs.

"Ini adalah riset pertama yang mengidentifikasi jenis-jenis depresi dari riwayat hidup dan data MRI," kata Doya. Ia berharap penemuan dalam riset ini bisa membantu pengobatan pasien yang menderita depresi.

Baca juga: Menurut Studi, Pria Psikopat Berpeluang Lebih Besar Jadi Bos

Related

Psychology 1863860917798085044
item