Kisah Para Raksasa yang Hidup di Zaman Kuno (Bagian 1)

Kisah Para Raksasa yang Hidup di Zaman Kuno

Naviri Magazine - Dalam banyak mitologi, kita mengenal makhluk-makhluk berukuran sangat besar yang lazim disebut raksasa. Selama ini, kita menganggap para raksasa hanya ada dalam kisah-kisah mitologi. Namun, belakangan, sebagian orang menganggap bahwa raksasa-raksasa itu benar-benar pernah ada di bumi, dulu di zaman kuno.

Anggapan mengenai keberadaan makhluk-makhluk raksasa itu muncul, setelah ditemukannya gulungan-gulungan kuno yang disebut Naskah Laut Mati. Di dalam gulungan naskah itu terdapat tulisan dari zaman kuno yang menyebutkan keberadaan makhluk-makhluk raksasa di bumi, sebelum munculnya bencana air bah di zaman Nabi Nuh.

Kisah para Raksasa di antara gulungan Naskah Laut Mati

Henokh, bapak leluhur manusia, keturunan ke-7 Adam, sangat terkenal pada zaman purbakala, meskipun para pembaca Alkitab sekarang ini tidak begitu mengenalnya. Dia hanya tercatat secara singkat dalam Kitab Kejadian. Selain menyebutkan bahwa umurnya 365 tahun, Kitab Kejadian juga mengatakan bahwa Henokh “hidup bergaul dengan Elohim” dan “kemudian dia tidak ada lagi, karena Elohim telah mengangkatnya” (Kejadian 5:24).

Banyak legenda mengenai Henokh yang telah dikumpulkan dari zaman purba, dalam bentuk tulisan. Catatan yang paling tua dan paling penting adalah Kitab Henokh, yang terdiri dari 108 pasal. Itu masih ada secara keseluruhan (meskipun hanya dalam bahasa Ethiopia) dan menjadi sumber yang penting bagi Yudaisme dalam beberapa abad sebelum Masehi.

Hal ini dibuktikan dari ditemukannya fragmen-fragmen yang hampir lengkap dari salinan-salinan Kitab Henokh dalam bahasa Aramaik di antara gulungan-gulungan Naskah Laut Mati, dan menjadi sangat jelas bahwa siapa pun yang menyimpan dan berusaha menyelamatkan gulungan-gulungan naskah ini menganggapnya sebagai teks yang sangat penting.

Sejak ditemukan pada tahun 1946, penggalian di gua-gua Qumran di Laut Mati telah mengungkap sekitar 981 gulungan kitab kuno Yahudi, yang merupakan peninggalan sangat penting. Teks-teks ini merupakan salinan-salinan kitab kuno Yahudi yang ditulis antara abad ke-3 SM hingga abad ke-1 M.

Gulungan-gulungan Naskah Laut Mati merupakan penemuan arkeologi terbesar dan terpenting pada abad ke-20. Di antara gulungan-gulungan kitab ini, para arkeolog menemukan teks yang isinya membingungkan karena tidak lazim: sebuah gulungan kitab yang memberikan petunjuk mengenai keberadaan dan kemusnahan Nephilim. Gulungan itu disebut Kitab Para Raksasa.

Henokh hidup sebelum air bah, suatu zaman ketika bumi dan segala sesuatunya sangat berbeda. Manusia hidup jauh lebih lama, contohnya anak Henokh, Metusalah, mencapai umur 969 tahun.

Pada zaman Yared, ayah Henokh, terjadi suatu peristiwa di mana para malaikat pengawas turun di puncak Gunung Hermon, sebagaimana tercatat di dalam Kejadian 6:4. Mereka dikenal sebagai para malaikat (bene ha-Elohim) yang jatuh, dan menjadi sumber terjadinya kerusakan total atas seluruh makhluk hidup di muka bumi, dan menyebabkan Yahweh mengirimkan penghakiman Air Bah.

Menurut Kitab Henokh, pemimpin pemberontakan para malaikat ini adalah Shemihaza, yang bersama 200 rekannya turun ke bumi untuk mengambil istri. Perkawinan yang tidak wajar ini menghasilkan anak-anak keturunan berupa hybrid ras manusia raksasa, Nephilim, yang tingginya mencapai 135 meter.

Malaikat-malaikat jahat dan raksasa-raksasa ini mulai menindas manusia, dan mengajar mereka melakukan segala jenis kejahatan. Karena hal inilah, Yahweh menjatuhkan penghukuman dengan memenjarakan mereka hingga 70 generasi, menunggu waktu penghakiman terakhir, dan kemudian Yahweh menghancurkan seluruh bumi dengan Air Bah. Usaha Henokh untuk menjadi perantara terhadap surga bagi para malaikat yang jatuh ini tidak membuahkan hasil (Henokh 6-16).

Isi Kitab Para Raksasa

Kitab Para Raksasa, yang ditemukan di Gua Qumran, memberikan penjelasan tambahan dari yang tercatat di dalam Kitab Henokh. Meskipun sudah tidak utuh lagi, fragmen-fragmen gulungan kitab ini memberi gambaran yang seram:

“Nephilim akhirnya menyadari, sebagai akibat perbuatan-perbuatan menyimpang dan kekerasan-kekerasan yang mereka lakukan, penghukuman surgawi akan segera menimpa mereka, dan itu cukup menggentarkan sehingga mereka mengutus seseorang untuk mencari Henokh supaya dia berbicara mewakili mereka di hadapan Elohim.”

Teks ini diawali dengan detail bagaimana Nephilim merusak seluruh bumi dan segala makhluk yang hidup di atasnya. Tapi begitu mereka mulai menerima mimpi-mimpi profetik tentang kebinasaan, kegentaran mulai merasuki hati mereka. Yang pertama mendapatkan mimpi ini adalah Mahway, raksasa anak malaikat Barakel.

Dalam mimpinya, dia melihat suatu lempengan loh (tablet) ditenggelamkan ke dalam air. Ketika lempengan itu timbul ke permukaan, semua nama, kecuali tiga nama, telah dihapus. Ini merupakan perlambang Banjir Besar dan akibat kehancurannya, kecuali Nuh dan anak-anaknya.

Pada waktu itu, hal ini belum dipahami oleh Nephilim, sehingga mereka memperdebatkan arti mimpi Mahway, tapi tidak berhasil menafsirkannya. Segera sesudahnya, dua raksasa lagi, Ohya dan Hahya, anak-anak malaikat Shemihaza, mulai mendapatkan mimpi yang mirip; mereka bermimpi tentang sebuah pohon yang dicabut, kecuali tiga, dari akar-akarnya.

Sesudah itu, kelompok raksasa ini mulai mendapatkan mimpi-mimpi apokaliptik.

Para Nephilim akhirnya menyadari arti profetik mimpi-mimpi mereka, dan berusaha mencari pertolongan Henokh. Namun sayangnya, Henokh telah menghilang dari muka bumi, sehingga Nephilim memilih salah seorang anggota mereka untuk melakukan perjalanan kosmis mencari dia.

Sangat disayangkan, bagian-bagian dari gulungan kitab ini sangat rusak, dan tidak bisa diperbaiki, tapi isi teks ini jelas. Salah satu raksasa melakukan perjalanan ke luar Bumi untuk mencari Henokh, yang punya kemampuan menafsirkan penglihatan dan mimpi.

Henokh mengirim Mahway kembali darimana dia berasal, berjanji kepadanya bahwa dia akan berbicara kepada Elohim untuk mewakili mereka. Namun, bagi Nephilim, lempengan loh yang dikirimkan kembali oleh Henokh kepada mereka, adalah jawaban yang tidak berisi berita baik.

Entah mereka berdoa atau tidak, teks itu tidak mengatakan apa-apa lagi. Tapi mereka tidak muncul lagi di sini, sekaligus membuktikan kehancuran total yang diakibatkan oleh Air Bah.

Untuk dapat memahami lebih jelas isi Kitab Para Raksasa, kita perlu membandingkannya juga dengan Kitab Henokh dan Kitab Yobel, yang salinan-salinannya juga ditemukan di antara gulungan-gulungan Kitab Laut Mati.

Yang paling menarik dari isi manuskrip Kitab Para Raksasa ini adalah disebutnya seorang raksasa bernama Gilgamesh, yang merupakan tokoh dewa Babylonia dan tokoh epik besar (Epik Gilgamesh) yang ditulis pada milenium ke-3 sebelum Masehi, dalam silinder-silinder Sumeria-Mesopotamia.

Penemuan-penemuan arkeologi beberapa tahun yang lalu menunjukkan bahwa Gilgamesh bukan sekadar tokoh mitos. Menurut mitologi, Gilgamesh adalah Nephilim, 2/3 dewa dan 1/3 manusia. Tahun 2003, para arkeolog mengklaim mereka telah menemukan makamnya.

Tafsir isi Kitab Para Raksasa

Gilgamesh berkata, “Aku seorang raksasa, dan dengan kekuatan lenganku yang perkasa, aku dapat mengalahkan makhluk apa pun yang fana. Aku telah berperang melawan mereka di masa lalu, tapi aku tidak dapat berdiri melawan musuh-musuhku yang tinggal di Surga, dan berdiam di tempat-tempat kudus. Dan tidak hanya ini, tapi mereka sesungguhnya lebih kuat dari aku. Hari kebuasan binatang-binatang liar sudah tiba dan seperti manusia liar [itulah aku dikenal].”

Lalu Ohya berkata kepadanya, “Aku dipaksa mendapatkan sebuah mimpi… Tidur dari mataku telah lenyap sehingga aku dapat melihat suatu penglihatan. [Sekarang aku tahu bahwa di atas padang peperangan, kita tidak dapat menang.”]

Gilgamesh mencatat. (Ohya menggambarkan mimpinya, “Aku melihat sebuah pohon tercabut, kecuali tiga dari akar-akarnya. Sementara aku seperti sedang menyaksikan, [beberapa makhluk] memindahkan semua akar itu ke taman ini [kecuali tiga akar itu.”]

(Interpretasi dari mimpi ini sama dengan yang sebelumnya.) “Penglihatan mimpi ini mengenai kematian jiwa-jiwa kita,” kata Ohya, “dan Gilgamesh dan semua rekan-rekannya.”

Namun Gilgamesh berkata bahwa [semua firasat-firasat ini] hanya mengenai [para penguasa bumi, orang-orang perkasa, yang hanya sementara, yang telah dikutuk oleh para pemimpin malaikat yang baik]. Para raksasa lega mendengar kata-katanya. Lalu [Ohya] berbalik dan meninggalkan perkumpulan itu. (Ada lagi mimpi-mimpi yang lain, yang maknanya buruk bagi para raksasa. Para pemimpi ini melaporkan kepada monster-monster dan kemudian menceritakannya kepada para raksasa.)

Baca lanjutannya: Kisah Para Raksasa yang Hidup di Zaman Kuno (Bagian 2)

Related

Mistery 7224682716588571756
item