Kebiasaan Orang Modern: Malas Makan, Tapi Suka Ngemil

Kebiasaan Orang Modern: Malas Makan, Tapi Suka Ngemil

Naviri Magazine - Sebagian orang masih menjalankan “kebiasaan lama”, yaitu makan tiga kali sehari. Sarapan, makan siang, dan makan malam. Sementara sebagian lain mulai meninggalkan kebiasaan itu dan beralih ke kebiasaan baru, yaitu sering malas makan tapi suka ngemil. Karenanya, orang-orang modern saat ini sering panik kalau tidak punya camilan.

Menurut profesor sekaligus sejarawan dari Yale University, Paul Freedman, kebiasaan makan sehari tiga kali lebih untuk urusan sosial-budaya ketimbang biologis. Editor buku Food: The History of Taste itu berkata kepada HowStuffWorks bahwa munculnya pola makan tiga kali sehari sesederhana karena orang-orang nyaman dengan kebiasaan ini.

Namun, kebiasaan makan tiga kali sehari juga lambat-laun mengalami perubahan saat masyarakat makin modern, kata Freedman. Mereka mesti menyesuaikan diri dengan “jadwal modern.” Orang-orang modern rata-rata memiliki jam kerja yang tinggi, dan waktu senggangnya diisi dengan olahraga maupun mengonsumsi gajet. Kondisi ini mengacaukan jadwal makan tiga kali sehari, digantikan dengan “makan selaparnya.”

Pendapat Freedman didukung oleh hasil riset Euromonitor International yang dipublikasikan pada 2011 lalu. Menurut riset ini, dalam beberapa dekade terakhir terdapat perubahan jadwal makan tiga kali sehari. Jadwal menjadi lebih fleksibel.

Faktor penyebabnya adalah gaya hidup yang supersibuk, jam kerja yang melebihi beban normal, makin populernya gaya hidup melajang, dan meningkatnya jumlah perempuan yang bekerja.

Sekarang makan didikte oleh pekerjaan dan aktivitas penyegar pikiran ketimbang mengaturnya sesuai jam karena, misalnya, kebutuhan atas alasan kesehatan. Survei Euromonitor mengungkap bahwa jam makan yang fleksibel dilakukan oleh orang-orang di Brazil, Inggris, dan AS. Sementara orang-orang di Cina, Perancis, maupun Jepang, masih berusaha mempertahankan pola makan yang terstruktur.

Dampak dari gaya hidup ini, sebagaimana juga disampaikan Freedman, adalah orang-orang menjadi lebih suka ngemil alias makan camilan. Pertumbuhan pesat industri camilan muncul di Brasil, Cina, dan India.

Orang India, misalnya, senang telat makan siang dan makan malam (41 persen makan siang pukul 14.00-15.00, dan 63 persen makan malam pukul 20.00-21.00), namun juga gemar makan camilan sepanjang hari.

Akibat kebiasaan makan terlalu dini, separuh responden Cina makan camilan usai makan malam pada pukul 20.00-21.00. Warga Brasil melakukannya pada pukul 22.00-23.00. Sementara itu, cara makan camilan orang Perancis dan Inggris lebih diatur jamnya. Sebanyak 41 persen warga Inggris makan camilan pukul 10.00-11.00, sedangkan warga Perancis pukul 16.00-17.00.

Dunia modern juga berpengaruh pada kebiasaan makan berat. Warga dunia semakin terburu-buru untuk sarapan. Kebiasaan makan makanan kemasan, makanan cepat saji atau sekadar kue-kue dengan cara “on to go” makin populer. Di sisi lain, kebiasaan makan siang semakin dihindari, akibat tekanan kerja yang makin tinggi.

Alih-alih menyantap makanan di kantin atau restoran, sebagian orang kini terbiasa makan siang di meja kerja. Alasannya, tentu saja, agar lebih efektif dalam memanfaatkan waktu.

Baca juga: Sejarah dan Asal Usul Label Halal pada Makanan di Indonesia

Related

Lifestyle 3135890711792971882
item