Ini 6 Hal yang Dianggap Negatif, tapi Ternyata Tanda Orang Jenius

 Ini 6 Hal yang Dianggap Negatif, tapi Ternyata Tanda Orang Jenius

Naviri Magazine - Kenapa ada segelintir orang di dunia ini yang terkenal sangat cerdas dan jenius, sementara ada banyak orang lain yang hanya punya kecerdasan rata-rata? Pertanyaan itu telah menggoda banyak ilmuwan dan peneliti sejak dulu.

Sejak lama, para ilmuwan melakukan berbagai penelitian untuk mengungkap apa yang menjadi perbedaan antara orang-orang jenius dengan orang rata-rata. Hasil penelitian pun menghasilkan setumpuk data, yang lalu dipublikasikan di berbagai jurnal ilmiah.

Yang mengejutkan, ternyata ada hal-hal yang dianggap negatif bagi kebanyakan orang, namun sering terdapat pada orang-orang jenius. Berikut ini adalah enam hal yang selama ini dianggap negatif, tapi justru menjadi ciri-ciri atau tanda orang jenius.

Mengidap penyakit mental

Hubungan antara penyakit mental dan kecerdasan sebenarnya cukup kontroversial. Namun, berbagai penelitian ilmiah menunjukkan bahwa dua hal ini cukup berhubungan.

Salah satu contohnya adalah bipolarisme, yang menjangkiti 2,4 persen dari populasi dunia. Meski hanya sedikit, Vincent Van Gogh, Emily Dickinson, dan banyak sekali seniman yang sangat cerdas, mengalami kondisi ini.

Meskipun tidak ada alasan yang jelas antara hubungan kecerdasan dan bipolarisme, sebuah studi menemukan bahwa sebuah protein spesifik yang ada di otak, yang terkait dengan memori dan rasa ingin tahu, memang terhubung dengan bipolar disorder dan schizophrenia.

Berkata kotor

Meski berkata kotor sering dikaitkan dengan perilaku yang tidak berkelas dan tidak berpendidikan, namun sains ternyata membuktikan bahwa berbicara kotor merupakan salah satu tanda kecerdasan pikiran.

Dari sebuah studi yang dihelat tahun 2016, yang dipublikasikan di jurnal Language Sciences, kata-kata umpatan secara positif dikaitkan dengan kemampuan verbal yang baik.

Hal ini berarti seseorang yang menggunakan banyak umpatan dalam gaya bicaranya, bisa jadi memiliki lebih banyak menguasai kosa kata. Penguasaan kosa kata yang banyak juga merupakan salah satu tanda kecerdasan.

Mau mengambil risiko

Kemauan mengambil risiko mungkin dianggap cukup negatif. Namun, hal ini ternyata tanda yang menyiratkan kecerdasan seseorang.

Dalam studi tahun 2015, yang dipublikasikan di jurnal PLOS One, seseorang yang terbuka dengan tantangan baru, dan tidak takut untuk mengambil risiko, cenderung memiliki kecerdasan tinggi. Dalam studi ini, partisipan diwajibkan untuk melakukan simulasi mengemudi, di mana mereka dapat kesempatan untuk menerobos lampu kuning, atau berhenti untuk sabar menunggu lampu merah.

Hasil studi tersebut menunjukkan bahwa partisipan yang mengambil risiko secara cepat, ternyata memiliki lebih banyak 'white matter' pada otak, yang merupakan sebuah area yang terkait dengan fungsi kecerdasan kognitif.

Malas

Kemalasan selalu diasumsikan dengan kebodohan. Namun ternyata sains berkata sebaliknya. Berdasarkan studi yang dilakukan secara berulang sebanyak 60 kali, orang yang 'tak suka berpikir' lebih mudah bosan, dan akhirnya mudah melakukan berbagai hal terkait aktivitas fisik, yang akhirnya membuat mereka terlihat rajin.

Sebaliknya, seseorang yang 'suka berpikir' lebih banyak waktu untuk mempelajari hal baru, dan kurang beraktivitas fisik.

Meski demikian, studi ini juga menyebutkan bahwa kesadaran tentang berbagai konsekuensi tentang kemalasan beraktivitas fisik, membuat banyak orang yang justru 'banyak berpikir' memilih untuk aktif juga secara fisik.

Cemas berlebihan

Kecemasan berlebih, atau kondisi seseorang terlalu berpikir berlebih secara terus menerus, ternyata merupakan tanda kecerdasan yang tinggi.

Dari sebuah studi tahun 2014, yang dipublikasikan di jurnal Personality and Individual Difference, menemukan bahwa kecerdasan verbal, kemampuan manusia untuk menyelesaikan masalah, berpikir kritis, dan penalaran abstrak, ternyata merupakan cara unik dan positif untuk memprediksi adanya kecemasan berlebih.

Menurut studi tersebut, seseorang yang punya kecerdasan verbal, ternyata punya kemampuan untuk mempertimbangkan apa yang terjadi di masa lalu, dan akan terjadi di masa depan, dengan detail yang luar biasa. Hal inilah yang menyebabkan kecemasan terjadi.

Tidak percaya Tuhan

Menjadi seorang ateis adalah pelanggaran nilai-nilai masyarakat, meski hal tersebut tak ada hubungannya dengan perilaku sang ateis kepada sesama manusia. Namun ada 35 penelitian ilmiah yang berkesimpulan bahwa orang yang tidak ber-Tuhan cenderung lebih pintar ketimbang orang yang relijius.

Penjelasan yang disampaikan dari studi tersebut adalah konsep agama yang dianggap tak rasional oleh masyarakat ateis. Mereka tak menganggap kejadian-kejadian yang terkait agama itu sesuai kaidah ilmiah, tidak terbukti, dan tidak menarik bagi mereka yang bisa menggali lebih banyak tanpa ikatan agama.

Baca juga: Ini Penyebab Banyak Orang Jenius Mengidap Penyakit Mental

Related

Psychology 584081712810248940
item