Kunci Pernikahan Bahagia Ternyata Bukan Cinta, tapi Ini...

Kunci Pernikahan Bahagia Ternyata Bukan Cinta, tapi Ini...

Naviri Magazine - Banyak orang yang ingin menikah karena cinta. Bahkan banyak pernikahan yang dilakukan karena adanya dua orang yang saling jatuh cinta. Seiring dengan itu, banyak pula orang yang meyakini bahwa kunci kebahagiaan dalam pernikahan adalah perasaan saling cinta di antara dua pasangan. Apakah memang begitu?

Aaron Ben-Zeev, dalam artikelnya di Psychology Today, mengemukakan bahwa percintaan yang penuh gairah menjadikan pernikahan sebagai prioritas di masa kini. Di sisi lain, karena cinta romantis pula pernikahan menjadi sesuatu yang labil dan serba tidak pasti. Jika perasaan itu sudah hilang, orang akan berpikir untuk meninggalkan pasangan—atau paling tidak berusaha berkompromi.

Ben-Zeev adalah seorang pengajar filsafat di Universitas Haifa, Israel. Bukunya yang berjudul The Arc of Love: How Our Romantic Lives Change over Time terbit tahun ini.

Cinta bukan esensi pernikahan

Cinta sering dipandang sebagai esensi pernikahan. Ben-Zeev memaparkan dua alasan untuk menyanggahnya. Alasan pertama, pernikahan adalah sebuah kerangka kehidupan bersama yang melibatkan banyak faktor lain. Yang kedua, cinta yang penuh gairah hanyalah pengalaman jangka pendek.

Tim Lott, kolumnis Guardian untuk isu-isu keluarga, bahkan meragukan ada pernikahan yang bahagia setelah melihat angka perceraian yang cukup tinggi. Lott bahkan menaruh curiga pada para pasangan yang hingga kini masih tetap bersama. Di mata Lott, sebagian pasangan memilih bertahan karena anak, uang, atau takut kesepian.

Lott menjadikan kehidupan pernikahannya sendiri sebagai contoh. Pernikahan pertamanya gagal, tapi lama setelah itu ia kembali merajut kisah dengan orang yang berbeda.

Menurut Lott, masalah utama dalam sebuah pernikahan adalah menghabiskan waktu bersama dengan satu orang selama bertahun-tahun dalam hubungan yang rentan perselisihan. Walhasil, hubungan pernikahan tak lagi soal bahagia dan tidak bahagia, tapi tentang akomodasi dan negosiasi.

Lott menyebut tiga kunci utama dalam kehidupan pernikahan. Pertama, komunikasi yang baik. Kedua, rasa hormat yang rupanya lebih penting ketimbang cinta. Sebab, cinta bisa datang dan pergi, tetapi rasa hormat bisa bertahan. Ketiga, kepercayaan, yang ternyata merupakan fondasi yang paling sulit dibangun, khususnya bagi orang yang pernah kecewa oleh hubungan. Kepercayaan di sini tak melulu soal perselingkuhan, tapi janji kecil yang dilanggar, niat buruk, dan harapan yang tak terwujud.

Yang tak kalah penting adalah aspek sosial dan ekonomi di mana kesejahteraan pasangan menjadi salah satu faktor vital dalam pernikahan. Dalam survei "Love and Money" yang diadakan TD Bank, ditemukan 78% responden merasa nyaman berbicara tentang uang bersama pasangannya, sementara 36% pasangan berdebat soal uang setiap bulan.

Sebanyak 90% pasangan yang bahagia membahas keuangan mereka setiap bulan, sedangkan 68% pasangan yang tidak bahagia, tidak melakukan hal tersebut. Dari situ survei menyimpulkan bahwa salah satu kunci kebahagiaan hubungan adalah percakapan.

Baca juga: Buat Pria, Begini Cara Merayu Wanita Tanpa Kata-kata

Related

Romance 4774841471245735978
item