Menguak Identitas Asli Hercule Poirot, Sang Detektif Legendaris

Menguak Identitas Asli Hercule Poirot, Sang Detektif Legendaris

Naviri Magazine - Para pembaca kisah fiksi detektif atau kisah-kisah kriminal pasti mengenal nama Hercule Poirot. Di ranah fiksi, Hercule Poirot adalah nama yang sangat familier bagi siapa pun, karena dia dianggap sebagai detektif legendaris dunia, setelah Sherlock Holmes.

Hercule Poirot muncul dalam lebih dari 30 novel karangan pengarang legendaris, Agatha Christie. Dikisahkan, karakter ini lahir di Belgia, dan pernah bekerja sebagai polisi di sana, tetapi kemudian pindah ke Inggris setelah Perang Dunia I, dan memulai karier sebagai detektif swasta.

Poirot digambarkan sebagai pria berperawakan kecil, kepalanya berbentuk telur, kumisnya sedikit menjulang ke atas, kebiasaan dandannya necis, dan terobsesi kerapian serta keteraturan. Ia menyelidiki aspek psikologis dari sebuah kejahatan, negasi dari metode mencari petunjuk yang dilakukan Sherlock Holmes, detektif ciptaan Sir Arthur Conan Doyle.

Baru-baru ini terkuak sosok sejati Poirot. Seperti dalam cerita, ia adalah seorang polisi asal Belgia. Namanya mungkin tak pernah terdengar sebelumnya: Jacques Hornais.

Agatha Christie memperkenalkan sosok Poirot pada novelnya, yang dirilis pada tahun 1920, berjudul The Mysterious Affair at Styles. Sang detektif berkumis bapang itu menggunakan 'sel-sel kecil kelabu' otaknya dalam 33 novel.

Meski pengarangnya tak pernah mengungkap detil siapa sosok yang menjadi inspirasinya, seorang peneliti amatir kini menguak bahwa Jacques Hornais diduga kuat sebagai Poirot dalam kehidupan nyata.

Detil terbaru terungkap tentang pertemuan Hornais dan Agatha Christie, saat sang pengarang memainkan piano untuk tamunya itu di rumahnya, di Torquay.

Hornais melarikan diri dari negaranya, ketika tentara Jerman merangsek masuk pada 1915, dan pergi ke Inggris, seperti halnya kisah fiksi.

Pria yang kala itu berusia 57 tahun itu, bersama putranya, Lucian (17), pergi ke  Exeter, Devon, Inggris, untuk menemui seorang relawan setempat bernama Alice Graham Clapp, yang mencatat nama keduanya di buku harian.

Nyonya Clapp, ibu 4 anak, membantu sekitar 500 pengungsi dari Belgia untuk menemukan tempat tinggal selama Perang Besar (Great War) alias Perang Dunia I. Clapp juga terlibat dalam penggalangan dana. Karena itulah, ia menerima penghargaan la Medaille de la Reine Elisabeth dari Pemerintah Belgia.

Catatan surat kabar mengungkap bagaimana penduduk lokal mengadakan acara hiburan pada 6 Januari 1915. Kala itu, Agatha Christie yang berusia 24 tahun bermain piano untuk para tamu dari Belgia.

Christie kemudian juga mengklaim 'menemukan' karakter untuk The Mysterious Affair at Styles, saat bepergian di sekitar Torquay.

Cucu Alice Clapp, Michael, sedang meneliti apa yang dilakukan nenek moyangnya, dengan bantuan Museum Torquay, ketika dia menemukan fakta menarik itu.

"Alice menyimpan catatan daftar nama sekitar 500 pengungsi Belgia dari semua kelas yang melewati Exeter," kata dia. "Termasuk pensiunan polisi, Jacques Hornais, dan putranya."

Perempuan muda yang bermain piano untuk mereka kemudian menjadi salah satu penulis cerita kriminal paling terkenal di dunia: Agatha Christie. "Jadi, ada keterkaitan kuat dengan kemunculan gagasan tentang Poirot."

Hornais, saat bertemu dengan Christie, berusia sama dengan karakter fiksinya. Meski tak ada catatan yang menyebut, ia memiliki kumis yang sama seperti Poirot, "Tampaknya cukup masuk akal bahwa Christie bertemu dengannya di acara tersebut, dan mungkin tertarik dengan cerita-ceritanya."

Secara terpisah, David Brawn, penerbit untuk Agatha Christie Estate, mengatakan, "Agatha selalu mengklaim ia terinspirasi pengungsi Belgia yang ia temui."

Dan masuk akal bahwa pengarang perempuan itu memainkan piano untuk mereka. Ia pianis andal. "Namun, sejauh yang saya ketahui, ia (Agatha) tak pernah mengatakan bahwa karakter Poirot didasarkan pada seseorang."

Related

Figures 1288582149610454015

Recent

item