Menikah di Usia Muda Ternyata Meningkatkan Risiko Percaraian

Menikah di Usia Muda Ternyata Meningkatkan Risiko Percaraian

Naviri Magazine - Di Indonesia, ada banyak ajakan untuk menikah di usia muda, dan ajakan-ajakan itu sering muncul di berbagai media sosial. Ajakan-ajakan tersebut biasanya dihiasi dengan aneka iming-iming yang terkesan indah dan membuat banyak orang yang jadi ingin segera menikah. Tapi benarkah menikah muda memang seindah janji iming-iming tersebur?

Sayangnya, sejumlah penelitian justru menemukan bahwa pernikahan di usia muda berpotensi meningkatkan risiko perceraian.

Salah satunya riset Nicholas Wolfinger, seorang profesor dari studi keluarga dan konsumsi dan sosiologi di Universitas Utah, Amerika Serikat. Ia menganalisis data National Survey of Family Growth (NSFG) dan mendapati pada periode 2006 hingga 2010, risiko tingkat perceraian untuk pernikahan pada usia 20-24 tahun mencapai 20 persen. Risiko ini terbanyak kedua setelah pernikahan pada usia di bawah 20 tahun yakni 32 persen.

Analisis Wolfinger sejalan dengan fakta di Indonesia. Tingginya pernikahan muda itu memang berbanding lurus dengan peningkatan kasus perceraian di Indonesia. Pada 2015 misalnya, Pengadilan Agama di seluruh Indonesia menerima 394.246 perkara perceraian. Pada 2016, jumlahnya meningkat menjadi 403.070 perkara dan naik lagi hingga 415.848 pada tahun berikutnya.

Tren peningkatan perceraian itu sebenarnya juga sudah dibaca oleh Premchand Dommaraju (peneliti Nanyang Technological University) dan Gavin Jones (peneliti National University of Singapore).

Mereka meneliti tren perceraian di Asia dan secara spesifik di negara-negara Asia dengan penduduk mayoritas Muslim, yakni Malaysia dan Indonesia. Hasil riset yang diterbitkan di Asian Journal of Social Science 39 pada 2011 itu menunjukkan tren perceraian di dua negara Islam ini sudah terjadi sejak awal hingga akhir 1990-an.

Di Malaysia Barat misalnya, Crude Divorce Rate (rasio tingkat perceraian per 1.000 penduduk) untuk Muslim Malaysia meningkat dari 1,09 pada 2001 menjadi 1,5 pada 2006. Di Kuala Lumpur pada periode yang sama juga terjadi peningkatan dari 1,3 menjadi 2,2. Masih di Malaysia Barat, tingkat perceraian justru tinggi pada tahun pertama hingga tahun ketiga pernikahan. Rasionya 2 sampai 3,5.

Dengan tingginya jumlah warga yang menikah di usia muda dan tingkat perceraian, masih perlukah gerakan nikah muda didukung?

Related

Relationship 4720491488908500313

Recent

item