Panduan Menemukan Kebahagiaan Menurut Filsafat dan Penelitian

Panduan Menemukan Kebahagiaan Menurut Filsafat dan Penelitian

Naviri Magazine - Apakah sebenarnya bahagia itu? Ini adalah usaha dan perjuangan panjang untuk menemukan jawaban atas pertanyaan yang ada bahkan sejak awal mula manusia bisa berpikir.

Socrates dengan muram menyebut bahwa rahasia kebahagiaan bukan dalam proses pencarian dan penemuan kebahagiaan itu sendiri. Ia menganggap kebahagiaan adalah kemampuan untuk menikmati apa yang ada saat ini.

Ketika Anda berkata, "Aku ingin bahagia", sebenarnya apa yang Anda inginkan? Dalam sebuah komik yang dibuat oleh Zen Pencils, kunci kebahagiaan menurut Budha adalah menghilangkan kata ‘Aku’, karena ia adalah ego, sementara ‘ingin’ mesti dilepaskan karena ia belenggu.

Setelah melepaskan belenggu dan ego, maka dengan sendirinya Anda akan bahagia. Budha menyebut kebahagiaan bukan tujuan, tapi proses menjadi.

Kebahagiaan adalah hal yang kerap dibesar-besarkan oleh materi dan direduksi jadi kutipan. Jeff Hadden menulis di Inc.com, banyak peneliti dan ilmuwan di dunia berusaha merumuskan cara menjadi bahagia. Ia mengatakan kebahagiaan adalah kondisi yang diinginkan setiap orang, tapi terkadang orang tak tahu apa yang ia inginkan.

Sebuah studi yang dilakukan oleh psikolog asal Inggris dan Australia, yang berasal dari University of Edinburgh dan Queensland Institute, menemukan bahwa kebahagiaan mungkin punya hubungan dengan kondisi genetik seseorang.

Peneliti menggunakan kerangka penelitian tentang kebahagiaan yang serupa untuk mengukur kepribadian seseorang. Memanfaatkan model Five-Factor, mereka mengklaim bahwa kebahagiaan dan kepribadian seseorang punya keterkaitan.

Peneliti menggunakan data dari 900 orang kembar, dan menemukan bahwa gen yang sama dan perlakuan berbeda punya pengaruh terhadap kebahagiaan. Mereka menyimpulkan bahwa 50 persen kebahagiaan berasal dari diri kita sendiri, sementara sisanya berasal dari faktor eksternal seperti hubungan antar manusia, kesehatan, dan karier.

Dr Alexander Weiss, dari University of Edinburgh’s School of Philosophy, jurusan Psychology and Language Sciences, yang memimpin penelitian ini, menyebutkan bahwa kebahagiaan, seperti juga kebebasan, merupakan keinginan dasar manusia.

Meski demikian, kebahagiaan adalah hal yang sama sekali berbeda antar manusia, tergantung lingkungan di mana ia hidup. Ia mengklaim mampu menemukan kaitan bahwa dalam setiap manusia ada gen yang mendorong kita untuk bahagia.

Tapi penelitian yang dilakukan kepada 900 orang itu tentu tak bisa mewakili seluruh populasi manusia.

Relasi dua arah antara manusia yang saling membantu adalah sumber kebahagiaan hakiki. Di sini kebahagiaan tak lagi diukur dengan seberapa banyak uang yang Anda miliki, atau seberapa sering Anda traveling ke negara-negara asing. Kebahagiaan adalah konsep yang menjadi kabur tergantung bagaimana jalan hidup Anda.

Di sini, peran teman dan lingkungan sangat penting. Teman kantor atau teman bermain bisa membentuk mood kita setiap hari.

Dalam riset yang dilakukan oleh Social Market Foundation bersama University of Warwick’s Centre for Competitive Advantage in the Global Economy, di Inggris, menyebutkan rekan kerja yang baik akan mendorong semangat pekerja lain untuk menjadi lebih maksimal. Baik dalam hal ini menghadirkan suasana kerja yang riang dan bahagia.

Studi lain menyebutkan, seseorang yang menghabiskan enam sampai tujuh jam sehari bersama teman baiknya, merasakan pengalaman membahagiakan. Hal ini mendorong ia untuk berpikir positif dan bekerja lebih baik. Tapi seseorang bisa saja menjadi getir, pahit, dan sinis memandang hidup. Itu adalah hal yang wajar. Jadi tidak wajar adalah susah melihat kebahagiaan orang lain.

Related

Science 1515771959892437360

Recent

item