Ternyata Vampir Benar-benar Ada di Dunia Nyata (Bagian 3)

Ternyata Vampir Benar-benar Ada di Dunia Nyata

Naviri Magazine - Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Ternyata Vampir Benar-benar Ada di Dunia Nyata - Bagian 2). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik dan urutan lebih lengkap, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Sebagian besar vampir tak menikmati prosedur tersebut, bahkan, jika bisa, mereka ingin tak lagi minum darah – tapi sejauh ini, para dokter gagal mencari cara lain menyembuhkan gejala-gejala mereka. "Kami lebih memilih untuk tidak merasakan gejala klinis ini, dan memilih untuk hidup seperti orang normal," kata Kinesia.

Alexia sepakat: "Jika sebabnya bisa dicari, saya akan minum pil obat". Salah satu teori mereka adalah mereka bermasalah dengan sistem pencernaan, yang membuat mereka sulit menyerap nutrisi dari makanan biasa – saat dilarutkan dalam darah barulah tubuh bisa menyerap nutrisi.

Meski begitu, para vampir ini terbuka terhadap kemungkinan bahwa kebutuhan mereka hanyalah psikosomatis. "Mungkin saja ini hanya pikiran kami," kata CJ!. Karena alasan inilah, para vampir berhenti minum darah, untuk melihat apakah gejala yang mereka rasakan akan hilang – tapi sejauh ini tak berhasil.

"Buat saya, satu momen menakutkan saat dibawa ke unit gawat darurat karena detak jantung lemah dan akan melonjak sampai 160 saat saya berdiri, berjalan, diikuti migren yang parah, dan bahkan kehilangan kesadaran," kata Kinesia.

"Pada dasarnya, jantung saya bekerja ekstra keras agar bisa berfungsi – reaksi dari empat bulan tanpa minum darah."

Ganz menyarankan bahwa pemulihan yang dirasakan setelah minum darah bisa jadi hanya fisiologis semata; dokter masih berusaha memahami bagaimana otak bisa mengendalikan kesehatan dengan cara yang nyata.

"Ada kemungkinan efek plasebo yang kuat, sama seperti menelan bubuk pahit, cairan berwarna terang, atau zat lain yang tak terlihat atau terasa seperti makanan biasa," kata Ganz.

"Efek ini bisa diperdalam jika ada komponen ritual yang dihubungkan dengan pencernaan, dan jika individu tersebut merasa ada efek ekslusif (seperti minum anggur yang sangat jarang dan mahal)."

Karena darah adalah pencahar alami dan sangat bergizi, dia menduga, inilah yang membuat orang merasa sembuh dari kesulitan pencernaan dan mental.

Beberapa orang mungkin membayangkan mereka yang haus darah mengalami masalah kesehatan mental. Namun Steven Schlozman, di Harvard University, mengatakan bahwa diagnosa terhadap orang-orang ini mungkin sangat sulit.

"Jika ada seorang pasien yang datang pada saya dan mengeluhkan atau khawatir tentang praktik ini, respons pertama saya sebagai psikiater mungkin akan menganalisa kondisi psikis mereka, karena praktik ini dianggap sangat tidak normal sesuai budaya," katanya.

Namun dia akan berpikir terbuka dan mencari tahu apakah mereka mendapat manfaat dari praktik ini. Baik Browning dan Williams, lewat kontak mendalam dengan orang-orang ini, melihat bahwa mereka tak memiliki gangguan psikis.

Joseph Laycock di Texas State University, yang juga meneliti identitas vampir, setuju: “Mereka memiliki premis yang berbeda tapi mereka memikirkannya secara logis – mereka memulai dari pemikiran logis akan kebutuhan minum darah."

Ini adalah contoh menarik dalam diskusi panjang dan sulit di psikiatri – bagaimana menghindari pengobatan terhadap aktivitas yang tak berbahaya tapi tak biasa, tanpa melupakan orang-orang yang benar-benar butuh pertolongan?

“Kita punya kecenderungan kolektif untuk melabeli perilaku tak biasa sebagai gangguan psikiatris," kata Ganz. “Tapi saya tak punya dasar menggambarkannya sebagai gangguan jika baik individu yang melakukan atau donornya nyaman dengan pilihan nutrisi mereka yang tak biasa."

Mungkin setelah kini komunitas vampir mulai terbuka pada orang luar, pertanyaan-pertanyaan ilmiah bisa mencari dan menemukan jawabannya. Sementara itu, sekelompok vampir, yang dipimpin oleh Kinesia, mengambil langkah pertama.

Dengan menggunakan perusahaan komersil seperti 23andme dan uBiome, contohnya, untuk mulai memprofilkan gen dan mikrobiom orang-orang med sang.

"Tujuan penelitian ini bukan untuk membenarkan 'vampirisme'. Tapi untuk menemukan cara yang praktis dan lebih sosial untuk memenuhi kekurangan atau kebutuhan tubuh, intinya kami mencari opsi perawatan alternatif," kata CJ!.

Apapun yang mereka temukan, temuan Browning mengajarkan padanya bahwa kita harus menghormati mereka, sama seperti kelompok minoritas lain.

"Saat saya mengawali penelitian ini, saya berasumsi bahwa saya akan bertemu dengan orang-orang yang aneh. Tapi dalam setahun, saya sadar, para vampir ini tak punya masalah. Justru kita, non-vampir, yang punya masalah persepsi."

Hanya karena kita tak memahami pengalaman mereka, bukan berarti kita harus mengejek atau mengecilkan pengalaman itu, katanya. Identitas vampir, bagi sebagian orang, adalah cara untuk mengatasi rasa yang misterius dan melumpuhkan.

"Yang terjadi pada mereka itu nyata. Kita tak mengerti apa itu, dan mereka pun tak tahu apa yang mereka alami – tapi mereka melakukan upaya terbaik untuk mengatasinya.”

Related

World's Fact 8170084615694639898

Recent

Hot in week

Ebook

Koleksi Ribuan Ebook Indonesia Terbaik dan Terlengkap

Dapatkan koleksi ribuan e-book Indonesia terbaik dan terlengkap. Penting dimiliki Anda yang gemar membaca, menuntut ilmu,  dan senang menamb...

item