Ternyata Ini Penyebab Otak Manusia Mudah Dibohongi (Bagian 1)

Ternyata Ini Penyebab Otak Manusia Mudah Dibohongi

Naviri Magazine - Otak manusia terbiasa untuk tidak tertarik pada fakta-fakta kecil yang dinilainya tidak menarik. Ini membuat kebohongan menjadi gampang untuk dipercaya otak.

Jika Anda butuh bukti bahwa manusia gampang dibohongi, coba ingat kembali berita "pisang pemakan daging" yang beredar lebih 19 tahun lalu. Pada Januari 2000, email berantai menyebut bahwa pisang impor telah menyebarkan "necrotizing fasciitis" - penyakit langka di mana kulit melepuh, mengecil, kemudian terkelupas dari otot dan tulang.

Menurut email tersebut, badan pengawasan obat dan makanan Amerika (FDA) berupaya menutup-nutupi epidemi itu untuk menghindari kepanikan. Karena ketakutan, pembaca email pun berinisiatif untuk menyampaikan 'kabar' epidemi tersebut kepada teman dan keluarga mereka.

Ancaman tersebut tentu sama sekali tidak masuk akal. Namun, pada 28 Januari, kepanikan yang meningkat memaksa pusat kendali penyakit Amerika (CDC) untuk mengumumkan bahwa informasi yang beredar itu bohong.

Apakah ini membuat kepanikan hilang? Sama sekali tidak. Pernyataan badan pemerintah itu malah seperti menyiramkan minyak ke api yang telah menyala. Beberapa minggu kemudian, CDC mendapat banyak sekali permintaan warga yang menginginkan dibentuknya 'layanan informasi' terkait pisang berbahaya. Fakta semakin terdistorsi ketika orang perlahan-lahan berasumsi bahwa CDC-lah yang pertama kali menyebarkan rumor tersebut.

Hingga saat ini mitos serupa masih terus bermunculan.

Cerita tentang tragedi pisang mungkin terdengar lucu kalau kita dengar sekarang, memperlihatkan bahwa cara pikir kita bisa saja aneh, bahkan berbahaya.

Kita mungkin menertawai mitos-mitos yang pernah bermunculan, sama 'lucunya' dengan teori bahwa Paul McCartney, Miley Cyrus, dan Megan Fox, sebenarnya telah meninggal dunia, dan diganti oleh orang lain yang mirip mereka.

Meskipun terdengar lucu, otak kita bahkan membiarkan hal-hal yang jauh lebih berbahaya untuk diyakini. Sebut saja klaim bahwa HIV tidaklah berbahaya, ada vitamin yang dapat menyembuhkan AIDS, atau tudingan bahwa persitiwa 11 September didalangi pemerintah Amerika sendiri.

Mengapa begitu banyak kebohongan yang kita percayai meskipun sedikit sekali bukti pendukungnya? Dan mengapa upaya untuk menolaknya hanya akan membuat rumor itu semakin dipercayai?

Ini bukan soal kecerdasan seseorang - bahkan pemenang Nobel pun pernah mempercayai teori-teori aneh. Namun, sebuah penelitian di bidang psikologi mungkin memberi jawaban, yang memperlihatkan bahwa begitu gampang untuk menciptakan rumor dan membuat otak percaya akan sesuatu.

Salah satu penjelasannya karena manusia adalah makhluk yang 'kikir secara mental' - daripada membuang-buang energi dan waktu, otak kita lebih memilih untuk mempercayai intuisi dibandingkan analisa.

Contoh gampangnya, coba jawab pertanyaan berikut dengan cepat.

"Berapa banyak jenis hewan yang dibawa Musa ke bahteranya?"

"Margaret Thatcher adalah presiden dari negara apa?"

Sekitar 10 hingga 50% orang yang disurvei gagal menyadari bahwa yang memiliki bahtera itu adalah Nuh, bukan Musa, dan Margaret Thatcher adalah perdana menteri, bukan presiden - meskipun mereka telah diminta untuk berhati-hati.

Kondisi ini dikenal sebagai "ilusi Musa", yang menggambarkan begitu mudahnya kita mengacuhkan detail sebuah pernyataan, karena ada hal lain yang kita nilai lebih menarik. Jadi, pada dasarnya kita sudah menilai sesuatu "terasa" benar atau salah terlebih dahulu, sebelum menerima atau menolak maknanya.

"Meskipun kita tahu harus merunut pada fakta dan bukti, kita tetap menggunakaan perasaan", ungkap Eryn Newman dari University of Southern California.

Berdasarkan penelitian terkini, Newman menyebut bahwa reaksi dan persepsi kita terhadap sesuatu, didasarkan pada lima pernyataan dasar: Apakah fakta tersebut berasal dari sumber yang dapat dipercaya? Apakah orang lain mempercayainya? Apakah cukup bukti untuk mendukungnya? Apakah sesuai dengan apa yang selama ini saya yakini? Apakah ceritanya menarik?

Namun, yang lebih penting, respons kita terhadap poin-poin di atas bisa saja dipengaruhi oleh detail-detail 'tidak penting' yang sama sekali tidak berhubungan dengan kenyataan.

Contohnya untuk poin pertanyaan apakah orang lain mempercayainya atau tidak, dan apakah sumbernya dapat dipercaya. Kita cenderung untuk mempercayai orang yang kita kenal. Ini berarti semakin banyak kita melihat orang dekat kita membicarakan suatu pernyataan, semakin kita mempercayai kebenaran pernyataan tersebut.

"Meskipun orang-orang yang berbicara tersebut bukan ahli, itu tidak mempengaruhi tingkat kepercayaan kita," kata Newman.

Ketika pernyataan tersebut kemudian disampaikan berulang-ulang, misalnya lewat program televisi, ini akan menimbulkan ilusi bahwa opini tersebut populer dan lebih diterima dibandingkan faktanya. Dan pada akhirnya, kita akan meyakininya sebagai sebuah kebenaran.

Nilai kognitif

Selain itu, setiap pernyataan juga mengandung nilai kognitif. Pernyataan yang 'bagus' bagi otak adalah pernyataan yang mudah untuk dibayangkan. "Jika suatu ide begitu mudah untuk dipahami, maka otak kita cenderung akan menilainya sebagai sebuah kebenaran", kata Newman. "Mitos jadi begitu gampang untuk dipercaya jika sesuai dengan harapan kita".

"Jadi, mitos-mitos tersebut harus benar-benar 'berbobot', unik dan sejalan dengan apa yang sebelumnya sudah kita percaya", kata Stephan Lewandowsky, psikolog dari Universitas Bristol.

Baca lanjutannya: Ternyata Ini Penyebab Otak Manusia Mudah Dibohongi (Bagian 2)

Related

Science 7710603619927702377

Recent

item