WHO: Kebijakan Lockdown saja Tak Cukup Hentikan Virus Corona

WHO: Kebijakan Lockdown saja Tak Cukup Hentikan Virus Corona,  naviri.org, Naviri Magazine, naviri

Naviri Magazine - Banyak negara, termasuk Indonesia, tengah berjuang penuh untuk menghentikan penyebaran pandemik virus corona yang kian mematikan. Berbagai cara telah dilakukan, salah satunya menerapkan lockdown. Namun, kebijakan itu tampaknya belum cukup.

Menurut laporan Reuters, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan, penerapan kebijakan lockdown tidak sepenuhnya menghentikan penyebaran COVID-19, penyakit yang disebabkan oleh virus corona SARS-CoV-2. Ada langkah selanjutnya yang perlu diperhatikan.

"Hal yang perlu kita fokuskan adalah menemukan mereka yang sakit, mereka yang memiliki virus, dan mengisolasi mereka, menemukan kontak yang berhubungan dengan mereka dan mengisolasinya," kata Mike Ryan, Executive Director of WHO Health Emergencies Programme kepada BBC.

Lebih lanjut Ryan menjelaskan, bahaya bisa timbul jika negara fokus melakukan lockdown tanpa menguatkan strategi untuk meningkatkan kesehatan masyarakatnya, maka ada kemungkinan besar virus corona akan kembali dengan lonjakan yang lebih tinggi.

"Bahayanya sekarang dengan lockdown ... jika kita tidak menerapkan langkah-langkah kesehatan masyarakat yang kuat sekarang, ketika pembatasan gerakan dan penguncian itu dicabut, bahayanya penyakit ini akan melompat kembali," ungkap Ryan.

Menurut laporan The Washington Post, lockdown memang dapat menawarkan hasil yang lebih efektif dalam menekan kurva eksponensial pasien COVID-19 ketimbang membiarkan orang lain melakukan apa yang mereka mau (free-for-all). Meski demikian, lockdown ternyata tak menjamin perlindungan penuh bagi mereka yang belum terinfeksi. 

Tidak semua negara terapkan lockdown

Tidak semua negara memilih untuk menerapkan lockdown. Beberapa negara di Eropa dan Amerika Serikat, termasuk Indonesia, memilih melakukan isolasi atau social distancing yang ketat untuk meminimalisasi penularan virus corona.

Kebijakan tersebut mengharuskan sebagian besar aktivitas masyarakat di luar rumah dihentikan sementara, termasuk bekerja, belajar, dan lainnya. Tempat-tempat yang menimbulkan keramaian, seperti restoran, ditutup.

Ryan mengatakan bahwa China, Singapura, dan Korea Selatan, memberikan contoh yang baik dalam menghadapi pandemi ini. Mereka melakukan pembatasan yang ketat dengan langkah-langkah tepat untuk menggelar tes massal COVID-19. Langkah ini bisa menjadi model untuk Eropa, yang disebut WHO telah menggantikan Asia sebagai pusat pandemi corona.

Lihat saja Italia yang kini menjadi negara yang paling parah terkena imbas virus corona, setelah China. Temuan kasus pasien positif di Italia yang terus menggelembung diakibatkan oleh proses pengetesan yang terus menerus dilakukan. Saat ini, tercatat ada 59.138 kasus positif virus corona di Italia.

Dalam kondisi lockdown, sumber daya pemerintah Italia bisa menyisir lebih efektif sehingga mampu menemukan lebih banyak pasien positif. Mereka masih terus mempertahankan keputusan karantina wilayah karena belum adanya tanda-tanda penurunan penyebaran virus corona. 

Apa kabar vaksin?

Dalam wawancara yang sama, Ryan menjelaskan bahwa perkembangan pembuatan vaksin virus corona berada dalam jalur yang benar. 

Ryan mengungkapkan, beberapa vaksin sedang dikembangkan, tetapi hanya satu yang mulai uji coba di Amerika Serikat. Ia tidak bisa memastikan kapan vaksin itu tersedia secara massal.

"Kita harus memastikan bahwa itu benar-benar aman ... kita berbicara setidaknya satu tahun," katanya. "Vaksin akan datang, tetapi kita harus keluar dan melakukan apa yang perlu kita lakukan sekarang."

Disamping vaksin, WHO sendiri tengah menguji coba klinis obat virus corona. Sejauh ini, sudah ada 10 negara yang berpartisipasi dalam uji coba, tergabung dalam program 'solidarity trial'.

Adapun 10 negara yang ikut dalam penelitian klinis tersebut adalah Argentina, Bahrain, Kanada, Prancis, Iran, Norwegia, Afrika Selatan, Spanyol, Swiss, dan Thailand.

Baca laporan lengkap » Data, Fakta, dan Perkembangan Wabah Corona.

Related

News 7648709551520258165

Recent

item