Kisah Lengkap The Beatles, Grup Musik Legendaris Sepanjang Masa (Bagian 4)

Kisah Lengkap The Beatles, Grup Musik Legendaris Sepanjang Masa naviri.org, Naviri Magazine, naviri majalah, naviri

Naviri Magazine - Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Kisah Lengkap The Beatles, Grup Musik Legendaris Sepanjang Masa - Bagian 3). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik dan urutan lebih lengkap, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Setelah sampai di Inggris, mereka menghadapi kecaman dari lembaga keagamaan dan sosial konservatif Amerika Serikat, seperti Ku Klux Klan, karena komentar Lennon saat diwawancara oleh reporter Inggris, Maureen Cleave, dari Evening Standard. Lennon mengatakan bahwa "Kekristenan telah mati" dan The Beatles "lebih terkenal dari pada Yesus kini" ("more popular than Jesus now").

Komentar itu diacuhkan di Inggris, namun menimbulkan kontroversi di Sabuk Injil, selatan Amerika Serikat, menurut majalah Datebook. Karena komentar itu pula, di Afrika Selatan, lagu-lagu The Beatles sempat dilarang diputar di radio, sampai tahun 1971.

Epstein mengkritik Datebook yang telah menyalahartikan komentar Lennon, dan pada saat konferensi pers Lennon menjelaskan, "Jika saya katakan bahwa televisi lebih terkenal daripada Yesus, saya mungkin sudah terpengaruh olehnya." ("If I'd said television was more popular than Jesus, I might have got away with it.")

Lennon mengatakan bahwa ia hanya berpendapat bagaimana orang lain memandang The Beatles, lalu melanjutkan, "Jika Anda ingin saya minta maaf, jika ini membuat Anda senang, baiklah, saya minta maaf." ("If you want me to apologise, if that will make you happy, then okay, I'm sorry.")

Revolver dan Sgt. Pepper's Lonely Hearts Club Band

Setelah Rubber Soul, album selanjutnya, Revolver, dirilis Agustus 1966, sebelum tur terakhir The Beatles. Pitchfork Media menganalisa dengan komentar bahwa album tersebut sebagai "suara grup musik yang berkembang menjadi kepercayaan diri tingkat tinggi" ("the sound of a band growing into supreme confidence") dan "menegaskan kembali apa yang diharapkan dari musik populer" ("redefining what was expected from popular music.")

Gould mengatakan, album ini "ditenun dengan motif berputar-putar, pengulangan dan pembalikan" ("woven with motifs of circularity, reversal, and inversion"). Lirik lagunya mulai rumit dan diberi sentuhan gaya musik yang beragam, mulai dari aransemen alat musik gesek sampai rock psikedelik.

Sampul album dirancang oleh Klaus Voormann, teman mereka sejak aktif bermain di Hamburg. Sampulnya menampilkan karikatur hitam putih The Beatles dalam "gaya pena dan tinta", kreasi Aubrey Beardsley.

Nomor pertama dimulai dengan Paperback Writer, diakhiri Rain. Kedua lagu tersebut dibuatkan video klip pendeknya, dan dianggap sebagai salah satu pelopor video musik pertama, yang kemudian disiarkan di Top of the Pops dan The Ed Sullivan Show.

Di antara nomor lagu paling eksperimental dari album Revolver adalah Tomorrow Never Knows, yang liriknya ditulis Lennon berdasarkan buku Timothy Leary, The Psychedelic Experience: A Manual Based on the Tibetan Book of the Dead.

Perekaman dilakukan dengan 8 buah tape yang disebarkan di beberapa bangunan studio rekaman, tiap-tiapnya diwakili oleh personel dan awak studio yang memvariasikan pergerakan tape rekorder ke sana kemari, sementara Martin membuat kombinasi dari keseluruhan contoh rekaman tersebut.

Lagu Eleanor Rigby, yang ditulis Paul, diiringi permainan alat musik gesek, dianalisa sebagai "turunan sesungguhnya, merujuk kepada gaya atau genre lagu yang tak dikenal" ("a true hybrid, conforming to no recognizable style or genre of song.")

Harrison mulai tekun menjadi penulis lagu, dan 3 komposisinya mendapat tempat dalam album.

Pada tahun 2003, Rolling Stone memberi peringkat ke-3 kepada Revolver sebagai salah satu album terbaik di sepanjang masa.

Pada tur Amerika setelahnya, tak satu pun lagu dari album ini dimainkan. Konser tanggal 29 Agustus di Candlestick Park, San Fransisco, merupakan tur internasional terakhir, menandai berakhirnya 4 tahun penuh konser, yang telah melebihi 1.400 kali penampilan di seluruh dunia.

Bebas dari beban konser, keinginan untuk bereksperimen terpenuhi dengan mengerjakan album Sgt. Pepper’s Lonely Hearts Club Band, mulai Desember 1966. Geoff Emerick mengingat, "The Beatles bersikeras agar semua yang ada di Sgt. Pepper harus berbeda. Kami punya mikrofon tepat di bawah brass dan headfon dibuat menjadi mikrofon yang diunduh di biola. Kami menggunakan osilator kuno besar untuk mengubah-ubah kecepatan alat musik dan vokal, kami juga memotong tape jadi bebarapa bagian, bersama-sama bolak balik berputar-putar di jalur yang salah.”

("The Beatles insisted that everything on Sgt. Pepper had to be different. We had microphones right down in the bells of brass instruments and headphones turned into microphones attached to violins. We used giant primitive oscillators to vary the speed of instruments and vocals and we had tapes chopped to pieces and stuck together upside down and the wrong way round.")

Bagian-bagian lagu A Day in the Life direkam dengan 40 puluh alat musik dalam sebuah orkestra. Hampir 700 jam diperlukan untuk menyelesaikannya. Pada Februari 1967, mereka pertama kali mengeluarkan double A-side non album dengan singel Strawberry Fields Forever"/"Penny Lane; Sgt. Pepper baru dirilis bulan Juni.

Kompleksitas album yang diciptakan dengan teknologi rekaman 4-track ini mengundang musisi lain untuk mengungguli The Beatles. Dedengkot Beach Boys, Brian Wilson, di tengah krisis personal dan usahanya untuk menyelesaikan album Smile, setelah mendengar Strawberry Fields seperti mendapat "pukulan besar" dan segera meninggalkan semua usaha untuk bersaing.

Sgt. Pepper mendapat pujian besar sebagai karya agung. Pada tahun 2003, Rolling Stone mendaftarkannya ke nomor satu dari 500 Album Terbaik Sepanjang Masa.

Jonathan Gould berkomentar, “Sebuah hasil karya yang kaya, terus menerus, dan berlimpah dari kolaborasi para jenius dengan ambisi berani dan orisinalitas menakjubkan yang memperluas kemungkinan, dan meningkatkan harapan akan jadi seperti apa pengalaman mendengarkan musik populer lewat album itu. Di dasar persepsi ini, Sgt. Pepper menjadi katalisator sebuah ledakan antusiasme massa terhadap album berformat rock yang dapat mengubah sisi estetika dan ekonomis bisnis rekaman, jauh melampaui ledakan pop awal dari fenomena Elvis tahun 1956 dan Beatlemania tahun 1963.)

(“A rich, sustained, and overflowing work of collaborative genius whose bold ambition and startling originality dramatically enlarged the possibilities and raised the expectations of what the experience of listening to popular music on record could be. On the basis of this perception, Sgt. Pepper became the catalyst for an explosion of mass enthusiasm for album-formatted rock that would revolutionize both the aesthetics and the economics of the record business in ways that far outstripped the earlier pop explosions triggered by the Elvis phenomenon of 1956 and the Beatlemania phenomenon of 1963.”)

Sgt. Pepper adalah album pop pertama yang menyertakan lirik lagu lengkap di bagian belakang sampulnya. Lirik lagunya juga menjadi bahan analisa dan spekulasi penggemar, contohnya "celebrated Mr K" dalam lagu Being for the Benefit of Mr. Kite! mungkin mencerminkan fiksi surealis penulis Franz Kafka.

Kritik sastra Amerika dan profesor Richard Poirier menulis sebuah esai, "Belajar dari The Beatles" ("Learning from The Beatles"), setelah mengamati mahasiswanya yang mendengarkan musik The Beatles dengan perasaan iri. Poirier mengidentifikasi apa yang ia istilahkan dengan "mixed allusiveness" ("pengandaian campuran") dari lirik lagu mereka:

"Tidak bijak selalu mengasumsikan bahwa mereka sedang melakukan satu hal atau mengekspresikan diri mereka dalam satu gaya saja… satu jenis perasaan tentang subyek yang tidak cukup… setiap perasaan yang dihasilkan seringkali muncul dalam konteks berbagai alternatif yang tampaknya saling bertentangan."

("It's unwise ever to assume that they're doing only one thing or expressing themselves in only one style ... one kind of feeling about a subject isn't enough ... any single induced feeling must often exist within the context of seemingly contradictory alternatives.”)

Baca lanjutannya: Kisah Lengkap The Beatles, Grup Musik Legendaris Sepanjang Masa (Bagian 5)

Related

Music 2642495086913301246

Recent

item