Menikmati Keindahan Puisi, dari Lembar-lembar Koran Sampai di Instagram

Menikmati Keindahan Puisi, dari Lembar-lembar Koran Sampai di Instagram, naviri.org, Naviri Magazine, naviri majalah, naviri

Naviri Magazine - Selama ini, puisi dicitrakan sebagai bentuk seni paling tak berguna sekaligus elitis. Saking elitnya puisi, tokoh pelajar remaja di film Dead Poets Society terpaksa berkumpul di sebuah gua untuk membahas karya-karya penyair kondang karena takut diskors. Baru-baru ini, persepsi tersebut telah berubah secara drastis. Berkat media sosial, gelombang penyair baru telah menembus kesadaran arus utama.

Meski begitu, format puisi berubah. Puisi epik berwujud 15.000 bait kini digantikan kutipan-kutipan singkat dan rangkaian kata-kata ringkas. Puisi zaman sekarang mudah dibaca, dipahami, dan cenderung disukai saat muncul di laman Instagram.

Berkat format ini, penyair seperti Rupi Kaur berjaya. Puisinya—yang sebagian besar mengandung ilustrasi mungil dan tidak mengikuti norma gramatika—membuat jumlah pengikutnya di Instagram melonjak menjadi 3,7 juta.

Mungkin kamu pernah membaca koleksi puisinya, berjudul milk and honey, di daftar buku paling laris versi banyak pihak.

Rupanya gaya Rupi tidak digemari semua orang. Tahun lalu, penyair sekaligus kritikus sastra Rebecca Watts menuduh Rupi bersama sesama penyair Instagram lainnya "mengabaikan keterampilan teknis yang selama ini menjadi ciri puisi."

Dakwaan itu dituliskan Rebecca dalam esai polemik berjudul "The Cult of the Noble Amateur". Rebecca menyebut tren Insta-puisi sebagai “penolakan atas kompleksitas, kepelikan, dan ekspresi berbahasa manusia."

Related

Lifestyle 6404730607097972493

Recent

item