Mengenal dan Mewaspadai Hipotermia, yang Sering Menyerang Pendaki Gunung

Mengenal dan Mewaspadai Hipotermia, yang Sering Menyerang Pendaki Gunung, naviri.org, Naviri Magazine, naviri majalah, naviri

Naviri Magazine - Video pendaki gunung Andi Sulistyawan yang dinyatakan tewas di gunung lawu viral di media sosial. Akun Udien Jagoan yang merekam aktivitas Andi sebelum ditemukan meninggal dunia di Gunung Lawu dan diunggah pada 22 Juli 2020 itu memperlihatkan kondisi Andi Sulistyawan yang bertelanjang dada sambil mencari kayu bakar di Gegerboyo.

Meski suhu di Gunung Lawu begitu dingin, Andi justru melepaskan pakaiannya untuk membungkus kayu bakar tersebut. Tubuhnya tampak menggigil, tetapi ia terus menyelimuti ranting kayu dengan kaos dan jaketnya, ia pun mengucapkan hal-hal yang aneh.

Psikolog Kumala Windya M.Psi mengatakan, saat mendaki gunung, seseorang dapat mengalami apa yang dialami oleh Andi Sulistyawan, yakni hipotermia.

"Salah satu penyebabnya adalah pendaki merasa kelelahan, kehabisan tenaga, ditambah lagi suhu dingin dan kondisi lingkungan alam yang mungkin berkabut atau hujan," kata Windya.

Hipotermia merupakan suatu kondisi di mana tubuh kesulitan mengatur keseimbangan suhu karena tekanan udara dingin. Dalam kondisi hipotermia, seseorang mengalami penurunan suhu tubuh di bawah normal (37°C). Kondisi ini disebabkan suhu bagian dalam tubuh berada di bawah 35°C. Padahal, tubuh manusia hanya mampu mengatur suhu pada zona termonetral, yaitu antara 36,5 hingga 37,5°C.

Di luar suhu tersebut, respons tubuh untuk mengatur suhu akan aktif dan menyeimbangkan antara produksi panas dan kehilangan panas dalam tubuh.

Tanda-tanda hipotermia 

dr. Rod Brouhard dalam laman Very Well Health menyebutkan, secara umum, hipotermia dibagi menjadi 3 fase yaitu ringan, sedang, dan berat. Pada tahap ringan, tubuh akan menggigil, sirkulasi darah berkurang, tidak tenang, tidak fokus, kurang komunikatif, masih dapat berjalan tapi berat, tangan kebas dan sulit memegang benda.

"Suhu kulit turun secara drastis menjadi kisaran 35°C dan dalam hitungan menit, suhu inti tubuh juga akan menurun. Tubuh akan menggigil tidak terkendali sebagai usaha tubuh untuk mengeluarkan energi menghasilkan panas," ujar Windya.

Sementara tahap sedang, suhu tubuh sekitar 32°C, di mana tubuh sangat dingin sehingga menggigil pasti berhenti. Gejala fisiknya denyut nadi semakin lambat, pernapasan lambat, lemah, pusing, kurang koordinasi, emosi tidak terkendali, kebingungan, meracau, dan muncul perilaku tidak terkendali dan pengambilan keputusan yang buruk.

"Tubuh membuat mekanisme tidak lagi menggunakan energi panas sebagai sumber panas, namun beralih menjadi menghemat energi dalam menghadapi suhu dingin," jelas Psikolog Pusat Pendidikan dan Latihan Mahasiswa (PPLM) Kemenpora di Yogyakarta ini.

Pada tahap berat, lanjut Windya, suhu tubuh di bawah 32°C, batasnya pada suhu 30°C, masuk penghentian metabolisme. Pendaki tampak seperti mati, padahal masih hidup. Gejala fisiknya, pernapasan dan denyut nadi lambat dan lemah, dan mulai kehilangan kesadaran.

Ia menjelaskan, pada fase inilah pendaki mulai menunjukkan perilaku aneh yang mungkin dilakukan sebagai usaha terakhir untuk bertahan hidup. Ada beberapa pendaki yang tampak seperti mengalami halusinasi kesurupan sehingga orang sering menghubungkannya dengan hal-hal mistis.

"Pendaki yang mengalami hipotermia berat sangat rentan mengalami halusinasi. Selain itu pendaki juga mengalami paradoxical feeling of warmth, paradoxical undressing, dan terminal burrowing," kata Windya.

Related

Health 2253665508320100130

Recent

item