Ancaman Resesi Sudah di Depan Mata: Apa Bedanya dengan Krisis Ekonomi?

Ancaman Resesi Sudah di Depan Mata: Apa Bedanya dengan Krisis Ekonomi? naviri.org, Naviri Magazine, naviri majalah, naviri

Naviri Magazine - Indonesia diperkirakan akan mengalami resesi pada akhir kuartal III karena pertumbuhan ekonominya disinyalir kembali minus. Ekonom Institute for Development of Economics and Finance atau Indef, Bhima Yudhistira Adhinegara, menjelaskan perbedaan resesi dan krisis.

“Krisis itu ketika ekonomi alami penurunan hingga negatif. Sebenarnya kita sudah masuk krisis ekonomi pada kuartal II kemarin saat ekonomi minus 5,3 persen,” tutur Bhima.

Bhima menerangkan, sejatinya masyarakat Indonesia telah merasakan efek krisis ekonomi karena penurunan ekonomi yang tajam. Kondisi tersebut sangat kentara pada momentum libur Idul Fitri, Mei lalu.

Dia mencontohkan, pada musim Lebaran, pengusaha yang bergerak di bidang fashion mengalami kemelorotan omzet yang dalam. Berbanding terbalik dengan situasi yang dirasakan pada tahun-tahun sebelumnya di periode yang sama.

Selain itu, terjadi gelombang mudik yang cukup tinggi pada triwulan kedua karena banyak pekerja di Jabodetabek yang terdampak PHK atau dirumahkan oleh perusahaan. Akhirnya, perantau memilih banting stir mengolah lahan di kampung halaman.

Sedangkan, ujar Bima, pengertian umum resesi adalah penurunan pertumbuhan ekonomi dalam dua kuartal atau lebih. “Jadi di kuartal II negatif dan berlanjut itu masuk resesi,” katanya.

Saat ini, Bima mengatakan gejala resesi sudah mulai dirasakan oleh masyarakat. Misalnya, banyak pelaku usaha yang menutup bisnis secara permanen.

Bima melanjutkan, untuk menghadapi resesi, masyarakat harus menyusun strategi. Di antaranya melakukan penghematan dan merasionalisasi belanja yang tidak terlalu mendesak. Ia menyarankan masyarakat berfokus terhadap pemenuhan kebutuhan pokok seperti biaya makan, listrik, air, gas, Internet, dan kesehatan.

Uang tunai atau cash juga harus mencukupi lantaran resesi tahun ini diprediksi bukan sekadar berdampak terhadap menurunnya pendapatan, melainkan juga meningkatnya biaya kesehatan. “Otomatis likuiditas penting dijaga. Disarankan menyiapkan cash 30-40 persen dari total pendapatan,” ucapnya.

Kemudian, Bima menyarankan pemerintah harus menambah sasaran bantuan langsung tunai. Bantuan diberikan kepada pekerja di sektor informal, guru honorer, dan pengangguran. “Model cash transfer yang sifatnya tanpa syarat akan lebih efektif dari stimulus fiskal ke korporasi,” ucapnya.

Related

News 4561470968223019946

Recent

Hot in week

Ebook

Koleksi Ribuan Ebook Indonesia Terbaik dan Terlengkap

Dapatkan koleksi ribuan e-book Indonesia terbaik dan terlengkap. Penting dimiliki Anda yang gemar membaca, menuntut ilmu,  dan senang menamb...

item