Kisah Al Capone, Gangster Kejam yang Dermawan Pada Orang Miskin (Bagian 2)

 Kisah Al Capone, Gangster Kejam yang Dermawan Pada Orang Miskin

Naviri Magazine - Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Kisah Al Capone, Gangster Kejam yang Dermawan Pada Orang Miskin - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik dan urutan lebih lengkap, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Torrio sempat menyuruh Capone menjadi bartender bersama Frankie Yale, salah satu koleganya. Di sana, Capone berkelahi dengan seorang wanita. Ujungnya, saudara laki-laki wanita itu ikut campur dan membuat bekas luka di wajah Capone. Dari sanalah julukan Scarface berasal. Luka itu menghantuinya. Setiap muncul di muka publik, dia selalu tak mau bekas luka itu terlihat.

Torrio pula yang mengajak Capone masuk ke dalam Five Points Gang. Setelahnya, dia membajak Capone masuk ke dalam Chicago Outfit, gangster yang mendominasi Chicago. Kelak, saat Torrio turun dari tampuk kekuasaan, dia menunjuk Capone sebagai penerusnya.

Hari-hari terakhir Capone

Salah satu momen yang tidak bisa dipisahkan dari cerita tentang Capone adalah pembantaian di hari Valentine tanggal 14 Februari 1929. Empat orang berseragam polisi mendatangi markas Gang “Bugs” Moran, rival bisnis Capone, di North Clark Street.

Tujuh orang yang berada di sana dijejerkan di tembok, dan ditembak dari belakang tanpa ampun. Dari lokasi kejadian, polisi menemukan 160 peluru.

Faktanya, keempat orang itu adalah penyamaran dari rekan-rekan Jack "Machine Gun Jack" McGurn. McGurn diperintah oleh Capone untuk menghabisi orang-orang Moran dengan bayaran 10 ribu dolar.

McGurn langsung dijadikan tersangka utama oleh kepolisian, menimbang posisinya sebagai tukang jagal Capone. Namun, baik McGurn dan Capone, keduanya punya alibi kuat. Tidak ada bukti yang berhasil menjurus pada kesimpulan dua orang ini adalah otak di balik kejadian tersebut.

Capone berada di Florida, sedangkan McGurn berada dengan pacarnya di sebuah hotel sejak dua minggu sebelumnya. Ketika kekejaman berlangsung, berdasar catatan J. Anne Funderburg berjudul Bootleggers and Beer Barons of the Prohibition Era (2014), McGurn tengah “menghabiskan hari romantisnya di hotel.”

Peristiwa Valentine itu mengantar Capone sebagai “Musuh Publik Nomor 1.” Selama 84 tahun, julukan itu menjadi kepunyaan Capone satu-satunya. Pada 2013, kepolisian Chicago memberikan gelar yang sama kepada Joaquin Guzman, pemimpin kartel Sinaloa asal Meksiko.

Capone beruang kali keluar masuk penjara, tapi kasusnya terbilang kecil, antara lain penghinaan pada pengadilan, dan kepemilikan senjata tajam. Hukuman terlama yang ia terima datang pada usia 33 tahun. Departemen Keuangan Amerika Serikat menyatakan Capone melakukan penggelapan pajak.

Tidak ada kecemasan pada diri Capone. Dalam Al Capone: Chicago’s King of Crime (2006), jurnalis Nate Hendley menulis, bos gangster itu tampil percaya diri meski 14 detektif menggiringnya ke dalam ruang sidang pada 6 Oktober 1931. Dia telah menyuap juri agar berpihak kepadanya. Satu yang dia lupa adalah hakim Wickerson.

Wickerson datang dan mengumumkan agar seluruh juri diganti, tepat setelah ia selesai bicara. Hendley menyatakan, Capone tak menyangka keputusan tersebut. Satu hal yang paling Capone khawatirkan terjadi: “dia akan mendapatkan pengadilan yang adil.” Karier yang dia bangun selama ini runtuh karena, pada 17 Oktober 1931 pengadilan menjatuhkan hukuman 11 tahun penjara untuknya.

Capone sempat dipenjara di kawasan Atlanta, tetapi susah menghilangkan kebiasaan lama. Dia mencoba menyuap sipir penjara, dan harus berakhir di penjara Alcatraz. Kala itu dia sudah mengidap penyakit raja singa (sifilis) dan gonorea.

Di Alcatraz, penyakitnya bertambah parah. Neurosifilis menyebabkan demensia, dan berpengaruh pada kesehatan mentalnya. Setelah 6,5 tahun, dia dipindahkan ke rumah sakit kesehatan mental di Baltimore. Penyakitnya tak kunjung membaik, terutama ingatannya.

Bersama istrinya, dia menghabiskan hari di perumahan Palm Islands, Miami, sambil mengobrol santai bersama anggota keluarga lainnya. Tidak ada lagi masa-masa kehidupan gangster bagi Capone. Salah satu bawahan Capone, Jake Guzik, seperti dicatat John Kobler dalam Capone: The Life and World of Al Capone (2003), secara singkat mendeskripsikan dia “benar-benar tidak waras.”

Ketika Capone mendirikan gang Brooklyn Rippers, usianya masih berkisar 14-15 tahun. Di balik aksi kekerasan yang ia lakukan, dia dianggap anak yang baik dan berbakti pada orang tuanya.

Kembali ke catatan Bair, “Capone selalu membawa uang hasil kerjanya ke rumah dan diberikan pada ibunya.” Saat itu Capone sudah berhenti sekolah dan bekerja serabutan.

Kebiasaan berbuat baik kepada orang lain itu memang konsisten dilakukan Capone. Setelah menjadi gangster yang berkuasa, Capone terkenal sebagai orang yang murah hati. Ia membangun dapur di beberapa pinggiran kota, memberikan jatah susu kepada anak-anak, dan membagikan hartanya pada warga keturunan Italia-Amerika yang berkekurangan secara finansial.

Pada 25 Januari 1947, bajingan kejam yang dermawan itu meninggal karena gagal jantung.

Related

History 8452455706209756093

Recent

item