Kisah Bob Woodward, Jurnalis yang Membongkar Skandal Para Presiden Amerika

 Kisah Bob Woodward, Jurnalis yang Membongkar Skandal Para Presiden Amerika

Naviri Magazine - Lahir pada 26 Maret 1943, Bob Woodward tumbuh besar di Wheaton, daerah pinggiran Chicago, AS. Ayahnya adalah seorang ahli hukum terkemuka. Woodward sempat diperkirakan akan mengikuti jejak ayahnya setelah lulus dari Universitas Yale pada tahun 1965.

Perkiraan itu lantas menguat pada tahun 1970: setelah bekerja selama lima tahun di Marinir AS, Woodward kembali kuliah dan mengambil jurusan hukum di Universitas Harvard.

Namun, alih-alih menyelesaikan kuliah hukumnya, Woodward justru banting stir di tengah jalan. Ia ingin menjadi seorang jurnalis.

Menurut situs Britannica, Woodward lantas mengontak redaksi Washington Post untuk memenuhi keinginannya tersebut. Ia mau magang selama dua minggu dan bersedia tak dibayar sepeser pun. Washington Post menerimanya, tapi tak ada satu pun laporan Woodward yang naik cetak. Meski demikian, masa depan Woodward sebagai jurnalis ternyata tidak berujung gelap.

Yakin bahwa Woodward bisa menjadi jurnalis besar, Washington Post menyarankan Woodward untuk bekerja di Montgomery County Sentinel, media cetak mingguan di daerah pinggiran Maryland.

Media yang kini dimiliki bos Amazon Jeff Bezos itu ingin Woodward belajar di media kecil terlebih dahulu. Keyakinan Washington Post tepat sasaran. Di Maryland, potensi Woodward tumbuh, dan pada 1971 Woodward mulai bekerja untuk Washington Post.

Di Washington Post, Woodward bekerja sebagai reporter politik. Tulisannya masih acak-acakan, sehingga rekan kerjanya mengejek bahasa Inggris bukanlah bahasa ibu Woodward. Tapi, Woodward dikenal sebagai seorang reporter yang gigih.

Dari kegigihan itulah, setelah 9 bulan bekerja, Woodward pada akhirnya mampu membuktikan bahwa Washington Post tak salah mempekerjakannya: bersama Carl Bernstein, ia berhasil membongkar skandal Watergate, salah satu skandal paling besar dalam sejarah politik AS yang berujung dengan lengsernya Richard Nixon dari kursi Presiden AS.

Untuk membongkar skandal yang semula tampak seperti pencurian biasa pada Juni 1972 tersebut, Woodward dan Bernstein seperti investigator andal. Mereka berangkat dengan tangan kosong, tapi yakin bahwa itu bukanlah pencurian biasa.

Maka mereka menggali kasus pencurian itu lebih dalam, dari mengembangkan narasumber, menerbitkan lebih dari 200 laporan, hingga meyakinkan redaksi Washington Post bahwa mereka akan menemukan sesuatu yang besar.

Alhasil, saat kasus tersebut nyaris mandek di tengah jalan, mereka bertemu seorang bernama samaran "Deep Throat" yang memiliki kesaksian mengagetkan: Nixon terlibat di dalam kasus pencurian tersebut.

Singkat cerita, investigasi mereka mendapatkan penghargaan Putlizer dan membuat Nixon mengundurkan diri dari kursi Presiden AS pada 1974. Satu tahun setelahnya, tepatnya pada 14 Juni 1974, terbitlah All The President’s Men, buku Woodward dan Bernstein soal skandal Watergate. Buku itu laris manis di pasaran. Reputasi Woodward pun menanjak pesat.

Sejak itulah, entah lewat buku maupun laporan-laporannya, Woodward sering bikin Gedung Putih kebakaran jenggot. Ia hampir selalu mampu mengungkap rahasia sekaligus masalah di Gedung Putih.

Dari kebiasaannya itu pula Woodward merasa berkewajiban untuk menghajar Donald Trump. Bagi Woodward, seperti ia simpulkan dalam bukunya, Rage, Trump adalah “orang yang tidak cocok untuk menjadi pemimpin AS.”

Related

International 7785080777563986296

Recent

item