Panduan Menghadapi Resesi Ekonomi untuk Pekerja Kelas Menengah

Panduan Menghadapi Resesi Ekonomi untuk Pekerja Kelas Menengah

Naviri Magazine - Ancaman resesi ekonomi imbas dari pandemi virus corona kian nyata. Pemerintah telah memprediksi virus corona akan membuat pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2020 minus 3,8 persen.

Jika pertumbuhan kuartal III 2020 tak kunjung membaik, dipastikan Indonesia akan memasuki masa resesi.

Resesi atau lesunya perekonomian selama dua kuartal atau lebih tak bisa dipisahkan dengan ancaman pengangguran. Memasuki resesi, biasanya banyak pekerja formal atau menengah yang terancam kehilangan pekerjaannya.

Pasalnya, perusahaan banyak yang tertekan hingga tak kuat menahan beban operasional karena virus corona. Ketika masalah tersebut terjadi, perusahaan tak memiliki pilihan selain memutus hubungan kerja (PHK) atau merumahkan karyawannya.

Tak ayal, ketika putusan itu diambil tingkat pengangguran dipastikan akan melonjak. Data mengkhawatirkan soal pengangguran ini disampaikan oleh Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia.

Data mereka menunjukkan jumlah pekerja yang terkena PHK akibat virus corona sudah mencapai 6,4 juta orang. Angka ini diprediksikan akan terus meningkat jika perekonomian dalam negeri tak kunjung membaik.

Untuk itu, Pengamat Ketenagakerjaan Universitas Gadjah Mada (UGM) Tadjuddin Nur Effendi mengingatkan para pekerja menengah untuk memasang ancang-ancang dengan kondisi tersebut. Pasalnya, kalau kondisi semakin memburuk bukan tidak mungkin PHK juga menimpa mereka.

Ia bilang pekerja menengah dituntut aktif dan mengasah kreativitasnya untuk bertahan di kala resesi. Pekerja tak bisa lagi manja dan berharap bisa dipekerjakan kembali.

Sebab, lowongan pekerjaan pasti minim. Tadjuddin mengatakan pekerja menengah memiliki keunggulan.

Secara umum, mereka memiliki kemampuan (skill) yang mumpuni. Mereka tergolong ke dalam angkatan kerja lulusan SMU atau sarjana sehingga mereka bisa memasarkan kemampuan secara mandiri.

Hal tersebut akan memudahkan mereka. Apalagi pasar kerja di Indonesia sangat fleksibel, terbuka untuk semua orang.

Ambil contoh di sektor informal. Siapa saja bisa ambil bagian asal kerja di situ asal ada modal uang atau kemampuan.

"Pasar kerja Indonesia yang sangat fleksibel harus dimanfaatkan, sangat terbuka, siapa pun bisa masuk. Di sektor informal siapa saja bisa masuk asal ada modal karena tidak perlu izin usaha," ucapnya.

Ia memberi contoh pengajar. Pengajar bisa menggunakan kemampuannya untuk membuka les daring atau menjadi penerjemah untuk mereka yang mengajar bahasa asing ketika kehilangan pekerjaannya.

E-commerce pun dapat menjadi tempat usaha memasarkan macam-macam barang yang bisa diproduksi secara mandiri.

Ekonom Indef Abra PG Talattov menyebut selain mencetak lahan pekerjaan sendiri, para pekerja menengah juga harus mulai menata pos pengeluaran mereka. Penataan perlu dilakukan demi penghematan.

Siapa tahu, PHK yang tadinya masih ancaman, di satu hari akan menimpa mereka. Ia mengatakan penghematan bisa menjadi bantalan bagi pekerja golongan tersebut jika nantinya mereka kehilangan pekerjaan.

Selain penghematan, ia juga menyarankan kepada mereka untuk mulai mencari fasilitas relaksasi kredit. Saran itu ia berikan kepada mereka yang memiliki kewajiban jangka panjang seperti pembayaran KPR atau kendaraan sebagai antisipasi.

Related

Tips 4172235263293622630

Recent

item