Panduan Menjalankan Investasi Obligasi agar Menguntungkan (Bagian 1)


Naviri Magazine - Kalau menginginkan investasi jangka panjang, obligasi adalah salah satu pilihan yang bisa digunakan. Tertarik dengan investasi dalam bentuk obligasi? Tak dapat dipungkiri bahwa obligasi adalah salah satu bentuk investasi yang cukup menjanjikan, dan tak ada salahnya kalau kita juga bermain di arena yang satu ini.

Sebelum kita masuk pada pembahasan yang lebih mendalam tentang obligasi ini, kita perlu mengenal apa yang disebut sebagai ‘filosofi obligasi’. Sebagaimana umumnya jenis investasi, obligasi juga merupakan jenis investasi jangka panjang. Karenanya, yang dijadikan tujuan dari investasi jenis ini adalah hasil atau pendapatan yang tetap dan stabil, dan bukan hasil besar yang datang secara ‘tiba-tiba’.

Nah, bagaimana cara bermain investasi obligasi agar dapat memperoleh keuntungan yang lumayan? 

Cara paling umum dan populer adalah dengan jual-beli obligasi yang belum jatuh tempo. Kunci keuntungan dalam hal ini adalah dengan memantau suku bunga sebagai referensi. Formulanya sesederhana ini; jika tingkat suku bunga turun, maka harga obligasi akan naik. Sebaliknya, jika suku bunga naik, maka harga obligasi akan turun. 

Secara gampangnya, harga obligasi akan terkait dengan fluktuasi suku bunga, dan kita bisa memperoleh keuntungan atau kerugian dari hal ini; dari naik-turunnya suku bunga tersebut.

Di bursa efek, ada dua jenis obligasi yang biasanya ditawarkan, yaitu obligasi yang dimiliki oleh pemerintah, dan obligasi yang dimiliki oleh korporasi. 

Secara teori maupun secara konsep, obligasi yang dimiliki oleh pemerintah lebih aman karena pasti akan dibayar. Kecuali kalau pemerintah mengalami kebangkrutan atau terjadi pergantian pemerintahan, dan pemerintah yang baru tidak lagi mengakui obliogasi dari pemerintah yang lama. 

Namun itu tentu saja tidak mungkin terjadi, karena hal semacam itu akan merusak kredibilitas pemerintah dan orang tak akan lagi percaya pada pemerintah. Dan apabila hal semacam itu benar-benar sampai terjadi, maka pemerintah pun akan kesulitan dalam mencari dana dari pasar obligasi.

Meskipun relatif lebih aman, obligasi milik pemerintah biasanya memberikan bunga yang lebih kecil dibandingkan obligasi miliki korporasi.

Nah, karena investasi akan lebih aman jika dilakukan dengan diversifikasi, maka apabila kita memutuskan untuk berinvestasi dalam jenis ini pun sebaiknya tetap menggunakan kunci diversifikasi ini, yakni tidak hanya membeli satu jenis obligasi, namun ambillah dua jenis obligasi yang ada, yaitu obligasi milik pemerintah dan obligasi milik korporasi.

Dalam memilih obligasi untuk investasi ini, setidaknya ada enam hal yang perlu diperhatikan agar dapat memberikan hasil yang maksimal. Berikut adalah enam hal tersebut.

Tingkat kemajuan

Perhatikan dimana posisi penerbit obligasi tersebut berada, apakah tingkat pertumbuhannya masih prospektif, ataukah sudah menurun. Karena ini akan sangat berpengaruh terhadap nilai obligasi yang nantinya akan kita miliki. 

Jika tingkat pertumbuhannya masih bagus, kita bisa berharap akan adanya kemajuan yang prospektif, namun jika tingkat kemajuannya sudah final atau mentok, kita tak bisa terlalu berharap karena bisa saja korporasi tersebut telah sampai pada titik akhir pertumbuhannya. 

Tentu saja hal ini tidak mutlak atau selalu terjadi, namun ini sebaiknya dijadikan sebagai salah satu dasar pertimbangan ketika akan memilih obligasi.

Ada kalanya suatu perusahaan penerbit obligasi tengah menghadapi suatu masalah, namun itu juga tidak menjadi sebab yang pasti kalau mereka tidak akan terus tumbuh. Karena bisa saja setelah masalah yang dihadapi itu terselesaikan mereka akan bergerak kembali dan akan bertumbuh lagi. 

Begitu pula halnya dengan perusahaan-perusahaan yang nampak ‘tenang’ tanpa masalah juga tidak menjadi jaminan pasti kalau perjalanannya akan semakin naik dan terus menanjak.

Namun, untuk amannya, dan agar investasi kita selamat, sebaiknya pilihlah obligasi dari perusahaan-perusahaan yang prospektif atau yang tengah bertumbuh karena ini akan lebih menjanjikan keuntungan dibanding dengan perusahaan-perusahaan yang telah ‘mati’ atau yang tidak lagi bertumbuh.

Jumlah obligasi

Lihat berapa banyak jumlah atau volume obligasi yang diterbitkan oleh suatu perusahaan. Jumlah obligasi yang semakin banyak biasanya menunjukkan bahwa kapitalisasinya juga semakin besar dan memiliki peluang yang tinggi untuk ditransaksikan di pasar sekunder. Selain itu, jumlah obligasi yang besar juga menjadi pertanda kalau perusahaan penerbitnya cukup bonavid.

Namun jangan buru-buru tertipu oleh jumlah obligasi yang besar semata-mata, karena tidak setiap kali besarnya obligasi membuktikan kenyataan seperti yang di atas itu. Ada perusahaan-perusahaan tertentu yang menerbitkan obligasi dalam jumlah yang besar, namun ternyata hasil penjualan obligasinya digunakan untuk membayar hutang perusahaan tersebut. 

Jika seperti itu kenyataannya, maka sebaiknya hindari membeli obligasi dari perusahaan semacam itu karena ini adalah jenis perusahaan yang menggunakan obligasi untuk ‘gali lubang tutup lubang’. Ini sama sekali tidak prospektif.

Jadi, yang perlu diperhatikan dalam hal ini adalah dengan memperhatikan kemana hasil penjualan obligasi itu digunakan oleh perusahaan penerbitnya. Jika hasilnya adalah untuk melakukan ekspansi, kita bisa yakin kalau ini adalah perusahaan yang prospektif dan kita bisa membeli obligasi yang mereka terbitkan dan berharap memperoleh hasilnya.

Baca lanjutannya: Panduan Menjalankan Investasi Obligasi agar Menguntungkan (Bagian 2)

Related

Tips 8330554468402245282

Recent

item