Sejarah dan Asal Usul Selebritas, dan Mengapa Kita Tertarik Pada Mereka (Bagian 2)


Naviri Magazine - Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Sejarah dan Asal Usul Selebritas, dan Mengapa Kita Tertarik Pada Mereka - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik dan urutan lebih lengkap, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Selebritas diproduksi dan dikelola dalam dunia tontonan media. Sebagai ikon budaya media, selebritas bagaikan dewa dan dewi kehidupan sehari-hari. Untuk menjadi selebritas dibutuhkan pengakuan sebagai pemain bintang di bidang tontonan media, baik itu olahraga, hiburan, maupun politik. Karena harus menjaga citra dan memastikan agar namanya terus dikenal publik, selebritas membutuhkan manajer.

Selebritas seperti Madonna, Michael Jordan, atau Jennifer Lopez pun akhirnya menjadi merek dagang. Dalam budaya media, selebritas kerap diberitakan dekat dengan skandal sehingga selalu menarik perhatian publik.

Melalui berbagai bentuk representasi yang diperantarai oleh media, khalayak memperoleh akses ke dalam kehidupan tokoh publik. Akses yang menumbuhkan keakraban semu antara sang tokoh dan hadirin inilah yang kemudian menjadi landasan budaya selebritas modern. 

Publik bukan hanya bisa 'mengenal' para selebritas, tapi juga bisa membeli, mengonsumsi, dan memiliki sebagian dari diri selebritas. Publik bebas menilai dan mengatur apa yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan oleh si selebritas. Publik mengonsumsi apa yang disajikan oleh selebritas, mulai dari kemampuannya melakukan sesuatu hingga membeli barang yang berkaitan dengan selebritas tersebut.

Filsuf Perancis Guy Debord dalam The Society of the Spectacle (1967) menyebut selebritas atau bintang layar sebagai 'representasi spektakuler dari manusia yang hidup'. Guy Debord juga menyebut selebritas sebagai bagian dari masyarakat tontonan (society of the spectacle). Sebagai perwujudan dari tontonan, selebritas perlu mengabaikan otonomi dirinya demi menyesuaikan dengan apa yang dihasrati masyarakat. Dengan kata lain: mengorbankan individualitas untuk menjadi boneka dari sistem yang digerakkan oleh akumulasi laba.

Dalam The Drama of Celebrity (2019), Sharon Marcus, profesor Sastra Inggris dan Sastra Komparatif Columbia University menyebut Sarah Bernhardt sebagai contoh pertama dari selebritas modern. Sebab, karir Bernhardt bertepatan dengan beberapa penemuan yang kemudian ia gunakan untuk mempromosikan dirinya sendiri. 

Fotografi membuat foto-foto Bernhardt tersedia secara massal. Koran-koran kuning melaporkan setiap lakon yang ia mainkan di atas—dan di luar—panggung. Keberadaan kapal uap dan kereta api juga memungkinkan Bernhardt untuk berkeliling dunia. Belum lagi telegraf yang membuat berita tentang Bernhardt menyebar lebih cepat. 

Tiba-tiba, semua orang saat itu pernah mendengar tentang Bernhardt, membaca tentang Bernhardt, atau melihat foto Bernhardt.

Kini selebritas tidak hanya muncul di tabloid atau televisi. Mereka ada di berbagai panggung media sosial. Muncul pula istilah-istilah baru untuk menyebut orang-orang yang terkenal atau tenar melalui media sosial seperti selebgram, youtuber, selebtwit, blogger, vlogger, dan lain-lain. 

Berbeda dengan media tradisional, media sosial menjanjikan semua orang bisa menjadi selebritas. Hari ini, mengutip Daniel Boorstin dalam The Image: A Guide to Pseudo-events in America (2012), “orang bisa terkenal karena terkenal”.

Dalam Camgirls: Celebrity and Community in the Age of Social Networks (2008), Terri Senft menyebut para selebgram, blogger, dan para pesohor media sosial sebagai micro celebrity, yakni orang-orang yang sukses menggunakan medium audio-visual plus situs jejaring untuk menaikkan popularitas di antara para audiensnya yang terhubung secara online.

Tapi, bagaimana sebetulnya selebritas mempengaruhi hidup kita? Kenapa banyak dari kita menganggap penting kehadiran selebritas? 

Dalam “Why We Are Obsessed With Celebrities” (2009), Nathan Heflick, seorang dosen psikologi di University of Lincoln, menjelaskan bahwa kita mencintai selebritas karena mereka adalah bagian integral dari budaya sehari-hari. Dengan memuji mereka (sampai batas tertentu), kita merasa seolah-olah kita berpartisipasi dalam sebuah sistem kepercayaan—ya, persis seperti agama.

“Kita menggunakan orang-orang asing ini”, demikian Greg Jenner, seorang sejarawan publik dan penyiar dalam wawancaranya dengan BBC History Magazine, “sebagai panutan”. Lebih lanjut, Jenner mengatakan bahwa selebritas sangat penting dalam membentuk moral, nilai, dan etika kita. Para selebritas itu menawarkan pelarian dari rutinitas, menghibur kita, memberi kita kesenangan, atau membantu mengekspresikan rasa sakit.

Related

History 1658867763570948122

Recent

item