Apa Bedanya Sunat dan Tidak Sunat? Ini Dampak dan Penjelasan Ilmiahnya


Naviri Magazine - Sunat sudah menjadi budaya yang diadopsi oleh beberapa ajaran agama maupun umum dipraktikkan di sejumlah negara. Meski begitu, dampaknya bagi pria masih menjadi perdebatan.

Menurut laporan jurnal J.M Hutson, sunat dipercaya bisa menjauhkan pria dari masalah phimosis, paraphimosis, dan balanitis. Namun jika metodenya tidak benar, sunat malahan bisa menimbulkan komplikasi.

Lantas, apa sebenarnya perbedaan dampak antara sunat dengan tidak sunat terhadap kesehatan organ reproduksi pria? Berikut penjelasan lengkapnya!

1. Apakah sunat mempengaruhi ukuran penis?

Secara fakta, masalah ukuran penis berhubungan dengan genetik. Karena sunat hanya menghilangkan kulit bagian luar dan tidak sampai aliran darah, tentu saja ukuran penis akan tetap normal. Jika kamu merasa ukuran penismu tidak normal, itu bukan karena masalah sunat atau tidak sunat, tetapi lebih karena genetismu.

2. Apa imbasnya pada penampilan?

Penis yang tidak disunat akan tampak seperti kondisi kepala yang ditutupi hoodie ketika tidak ereksi. Kepala penis tidak terlihat, dan baru kelihatan jika mengalami ereksi.

Sedangkan untuk penis yang disunat, kepala penis akan selalu tampak, entah sedang ereksi ataupun tidak. Untuk masalah penampilan, itu akan bergantung pada pemikiranmu apakah percaya diri dengan kepala penis yang tidak terlihat atau terbuka.

3. Bagaimana dampaknya terhadap higienitas?

Penis yang tidak disunat memiliki usaha ekstra untuk membersihkannya. Itu karena kulit yang menutupi ujung penis menjadi tempat berkumpulnya kotoran. Jika tidak rajin dibersihkan, bakteri, kuman, kulit mati, dan minyak akan menumpuk dan memunculkan smegma.

Smegma dapat membuat penis menjadi bau, mengalami peradangan dan juga nyeri. Berbeda dengan yang disunat. Karena tidak ada kulit penutup, maka membersihkannya cukup mudah dan hanya perlu melakukan mandi.

4. Apakah berimbas pada sensitivitas?

Auajournals.org memiliki catatan jurnal yang menunjukkan jika kulit penis yang biasa dibuang saat sunat sangat sensitif terhadap sentuhan. Ini bisa menunjukkan bagaimana kulit tersebut bisa menjadi alat stimulasi seksual. Akan tetapi tidak ada riset yang mengklarifikasi hal itu.

Sedangkan untuk penis yang disunat, terdapat studi pada 2011 yang menunjukkan orang-orang dengan penis sunat mengalami kesusahan dalam masalah orgasme. Namun riset itu ditepis oleh jurnal dari Brian J Morris, Jake H Waskett, dan Ronald H Gray. Dari jurnal-jurnal ini bisa disimpulkan jika masalah sunat tidak mempengaruhi masalah sensitivitas seksual.

5. Apakah berimbas kepada pelumasan?

Kulit luar penis memiliki pelumas natural. Alhasil, jika disunat, penismu butuh pelumas tambahan jika diperlukan. Tapi sampai sejauh ini tidak ada riset lebih tentang masalah ini.

6. Apakah berimbas pada jumlah sperma yang diproduksi?

Produksi sperma dilakukan pada testikel, bukan pada penis. Oleh karena itu sunat sama sekali tidak memiliki hubungan dengan jumlah sperma. Malahan yang dapat mempengaruhi produksi sel tersebut adalah gaya hidup yang mencakup pada konsumsi makanan dan kesehatan tubuh.

7. Apakah berimbas pada masalah infeksi?

Kembali lagi pada poin tentang higienitas, penis yang tidak disunat lebih mudah kotor. Ini mendorong risiko terjadinya infeksi saluran kemih. Belum lagi adanya kemungkinan terkena phimosis, paraphimosis, dan balanitis.

Sedangkan untuk pria dengan penis disunat, risiko infeksi berkurang. Studi NCBI juga menyebutkan penis yang disunat 60 persen lebih rendah untuk menularkan HIV.

8. Apakah berimbas pada risiko terkena kanker penis?

Pria yang tidak disunat memiliki risiko lebih besar terkena kanker penis. Hal itu karena lebih mudahnya penis terinfeksi oleh smegma. Mereka yang disunat jauh lebih turun dalam masalah risiko terkena kanker penis.

Melihat pemaparan di atas, kesimpulannya sunat tidak terlalu berdampak pada kehidupan. Namun, efeknya bagi kesehatan cukup signifikan. 

Related

Male 8803699497452696175

Recent

item