Kisah Gajah Liar yang Hidup Berdampingan dengan Penduduk di Kota (Bagian 1)


Naviri Magazine - Beberapa tahun yang lalu, saat mengemudi di jalan berbukit sempit di India, Tarsh Thekaekara, melihat seekor gajah jantan besar tanpa gading berjalan lurus ke arahnya.

"Tidak ada ruang untuk memutar balik, jadi saya menghentikan mobil, keluar dan berlari ke belakang," kata Thekaekara. "Jika Anda berada dekat sekali dengan gajah, mereka akan menyerang, dan jika Anda berada di dalam kendaraan, mereka akan mengejek."

Namun anak-anak setempat yang saat itu sedang berjalan menertawakan kepanikannya. "Mereka bilang 'jangan takut, gajah ini seperti sapi. Dia datang untuk minum air dan tidak akan menyakitimu'."

Dan mereka benar.

Thekaekara merasa sangat heran karena gajah itu mengabaikannya, dan bergerak turun menuju lubang air. Thekaekara, yang merupakan peneliti gajah dan bekerja di divisi hutan Gudalur di India selatan (tempat dia bertemu gajah itu), menganggap perilaku ini aneh, dan ingin tahu lebih banyak.

Thekaekara kemudian datang untuk mencari tahu bagaimana penduduk setempat hidup berdampingan dengan gajah liar yang dinamai Ganesan, nama dewa berkepala gajah dalam mitologi Hindu.

Di banyak bagian dunia, gajah sering datang ke pemukiman manusia untuk mencari makanan dan air. Biasanya mereka kembali ke hutan setelah beberapa hari. Tetapi di India selatan banyak gajah liar, seperti Ganesan, mulai beradaptasi untuk hidup berdampingan dengan manusia.

Gajah itu memilih untuk menghabiskan sebagian besar waktunya di kota-kota yang berbatasan dengan kawasan hutan besar.

Lebih dari 250.000 orang tinggal di kota Gudalur dan desa-desa yang berdekatan. Kawasan hutan seluas 500 kilometer persegi ini diselingi dengan perkebunan teh dan kopi serta merupakan rumah bagi sekitar 150 gajah liar.

Beberapa gajah begitu terbiasa dengan kehidupan perkotaan, bahkan ketika petasan dilepaskan di hadapan mereka atau genderang dipukul dengan keras di dekatnya, gajah seperti Ganesan tidak pernah menyerang.

"Perilaku ini bertentangan dengan semua ilmu yang saya tahu," kenang Thekaekara. "Gajah-gajah itu tidak menunjukkan sikap bertahan atau menyerang."

Praktek penjinakan dan pelatihan gajah liar dikecam oleh berbagai kelompok pelindung hewan, walaupun masih terjadi di banyak negara di dunia. Prosesnya memakan waktu berbulan-bulan dan melewati beragam penyiksaan seperti memasukkan gajah ke dalam sel isolasi, sampai mereka "belajar untuk mematuhi pawang gajah mereka".

Namun, penemuan Thekaekara ini tampaknya menyiratkan bahwa gajah liar mampu belajar hidup berdampingan dengan manusia, secara mandiri.

Minum dari tangki air dan mencuri makanan

Sebagai peneliti utama Proyek Pemantauan Gajah Gudalur, Thekaekara memutuskan untuk mempelajari semua gajah di daerah tersebut, dan akhirnya membuat profil 90 gajah liar termasuk lima di antaranya hidup di antara manusia.

Studi ini menemukan bahwa yang berlindung di kota selalu gajah jantan yang lebih tua.

Thekaekara juga mempelajari tentang bagaimana gajah dapat bertahan hidup, yaitu bisa mendapatkan makanan dan air.

"Selama tiga tahun kami melacak Ganesan. Dia tidak pernah masuk ke dalam hutan. Dia menghabiskan seluruh waktunya di antara orang-orang. Dia secara teratur tidur di sisi jalan. Dia mendorong belalainya ke bus-bus dan terkadang memecahkan kaca depan. Dia juga menyerang beberapa tuk-tuk."

Ganesan juga terbiasa mengambil air dari tangki air yang dipasang di rumah-rumah.

Terkadang gajah mengganggu pekerjaan di perkebunan teh, menghentikan lalu lintas, mengambil buah dan sayuran dari pedagang, tetapi dia tidak menyakiti siapa pun.

Wilayah Gudalur adalah bagian dari Cagar Biosfer Nilgiris yang tersebar di tiga negara bagian. Hutan di sana adalah rumah bagi lebih dari 6.000 gajah Asia. Lanskap bergelombang ini juga memiliki populasi harimau yang berkembang pesat dan merupakan salah satu habitat satwa liar yang dilindungi dengan baik di India.

Thekaekar memperkirakan bahwa ada lebih dari 20 gajah liar di India selatan yang sekarang tinggal di kota-kota. Salah satu gajah tersebut adalah Rivaldo yang telah tinggal di pos bukit terkenal, Ooty.

Sebuah video yang menampilkan Rivaldo mengambil ayam dari seseorang dan memakannya, jadi viral dan membuat banyak orang penasaran. Tetapi sebagai peneliti gajah, Thekaekara dapat dengan mudah menguraikan apa yang sedang terjadi.

"Pada dasarnya gajah suka nasi dan garam. Ayam itu kebetulan," kata Thekaekara. 

Gajah adalah herbivora. Gajah liar menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mencari makanan dan air. Thekaekara mengatakan di lingkungan perkotaan mereka mendapatkan apa yang mereka butuhkan dalam waktu kurang dari dua jam.

"Ketika mereka makan hasil panen dan makanan yang dimasak, nilai kalorinya sangat tinggi. Jadi mereka tidak perlu makan banyak."

Kelemahannya adalah makanan ini rendah nilai gizinya, dan menghilangkan kebutuhan untuk melakukan perjalanan jarak jauh.

"Oleh karena itu, mereka duduk dengan tenang hampir sepanjang hari, sehingga mereka tidak berolahraga. Itu sebabnya gajah-gajah ini jauh lebih besar."

Baca lanjutannya: Kisah Gajah Liar yang Hidup Berdampingan dengan Penduduk di Kota (Bagian 2)

Related

International 6217171053797735776

Recent

Hot in week

Ebook

Koleksi Ribuan Ebook Indonesia Terbaik dan Terlengkap

Dapatkan koleksi ribuan e-book Indonesia terbaik dan terlengkap. Penting dimiliki Anda yang gemar membaca, menuntut ilmu,  dan senang menamb...

item