Memahami Kaitan antara BBM dan Kondisi Mobil yang ‘Ngelitik’


Naviri Magazine - Jika kita ke pom bensin, kita mendapati ada beberapa jenis bahan bakar, dari Pertamax, Premium, hingga Pertalite. Masing-masing bahan bakar itu memiliki spesifikasi tersendiri, dengan kandungan berbeda, dan tentu dengan harga yang juga berbeda. Lazimnya, tiga jenis bahan bakar itu juga ditujukan untuk kendaraan yang berbeda.

Setiap pabrikan motor atau mobil punya rekomendasi berapa oktan atau research octane number (RON) minimal yang harus dipakai pada produk mereka. Di Indonesia misalnya, produk mobil murah atau LCGC direkomendasikan memakai BBM dengan minimal RON 92.

Anjuran ini sering dikaitkan soal anggapan penggunaan BBM dengan RON di luar rekomendasi pabrik bisa berdampak pada performa dan kerusakan mesin. Pada kasus saat orang kali pertama bermigrasi ke BBM dengan RON yang lebih rendah, maka akan tercampur BBM dengan RON rekomendasi pabrik dengan kualitas BBM di bawahnya. 

Dari kaca mata pabrikan kendaraan, upaya merekomendasikan agar pengendara memakai BBM dengan oktan tertentu saja, tujuannya agar menjaga performa mesin tetap optimal. Pemakaian bahan bakar yang tidak sesuai dikhawatirkan berakibat buruk pada mesin dalam jangka panjang. 

Menggunakan bahan bakar dengan nilai oktan rendah dari rekomendasi pabrik, akan berpotensi memicu pembakaran prematur, atau dalam istilah teknis disebut knocking alias ngelitik. 

Peristiwa seperti itu terjadi ketika bahan bakar meledak lebih dulu sebelum dialiri bunga api dari busi, karena suhu dalam ruang bakar lebih tinggi dari titik bakar bensin yang digunakan. Akibatnya, penyaluran energi menjadi terganggu, ditandai dengan gejala brebet.

Untungnya, mobil-mobil modern, yang menerapkan sistem injeksi bahan bakar berbasis sistem elektronik, mampu beradaptasi ketika diberi bahan bakar berkualitas rendah. 

Sistem knocking sensor akan mendeteksi jika terjadi pembakaran prematur, kemudian menyesuaikan campuran bahan bakar dan udara di ruang bakar secara otomatis. Namun, konsekuensinya tenaga yang dihasilkan bakal berkurang karena pembakaran tidak berjalan optimal. 

Dalam konteks mencampur BBM oktan sesuai rekomendasi pabrik, dengan oktan BBM yang lebih rendah, pada dasarnya mesin memiliki ambang toleransi buat menerima bahan bakar berkualitas lebih rendah. 

“Jika (menggunakan bahan bakar oktan rendah) berjalan baik, tanpa ada pembakaran prematur, atau masalah detonasi, maka (pemilik kendaraan) bisa menghemat dalam membeli bahan bakar,” kata Profesor School of Transportation Centennial College Toronto, Stephen Leroux.

Related

Automotive 199181635841941927

Recent

item