Mengapa yang Kaya Makin Kaya, yang Miskin Makin Miskin?


Naviri Magazine - Kaya dan miskin adalah kondisi yang selalu ada di setiap zaman. Sebagian orang menikmati harta berlimpah, sementara sebagian lain terus dirundung kemiskinan. Itu bisa dibilang sesuatu yang alamiah, asal persentase antara yang miskin dan kaya tidak terlalu jauh. Dalam arti, jurang yang ada di antara yang kaya dan miskin tidak terlalu dalam. 

Namun, ketika jumlah atau persentase antara yang kaya dan miskin sangat timpang, artinya ada yang tidak beres. Dalam bahasa yang mudah, jika ada 30-40% orang kaya dan ada 60-70% orang miskin, kondisi itu masih bisa dibilang wajar. Menjadi tidak wajar, sekaligus tidak sehat, jika hanya ada 4% orang kaya, dan sisanya adalah orang miskin. Sayangnya, kondisi semacam itulah yang sekarang terjadi.

Dalam laporan Oxfam, bertajuk Reward Work, Not Wealth, satu persen penduduk dunia yang merupakan orang-orang terkaya menguasai 82 persen dari total kekayaan dunia. Sementara 3,7 miliar warga miskin di dunia tak mengalami peningkatan kekayaan.

Laporan itu menunjukkan bagaimana ekonomi global memungkinkan elit kaya untuk mengumpulkan kekayaan besar, sementara ratusan juta orang berjuang untuk keluar dari kemiskinan.

Kekayaan orang kaya dunia terus meningkat sebesar 13 persen setiap tahun, atau enam kali lebih cepat dibandingkan kelompok pekerja dengan upah kecil yang meningkat rata-rata 2 persen setiap tahun.

Para CEO dari merek fashion terkenal hanya membutuhkan empat hari untuk memperoleh upah yang setara dengan pendapatan seumur hidup pekerja garmen Bangladesh. Di AS, seorang CEO hanya membutuhkan satu hari untuk memperoleh pendapatan yang setara dengan upah pekerja biasa selama setahun.

Menurut laporan Oxfam, meningkatnya pendapatan para CEO atau orang kaya di dunia, karena para pemimpin perusahaan atau pemegang saham kerap mengorbankan gaji dan kondisi para pekerja. 

"Ledakan miliarder bukanlah pertanda ekonomi yang berkembang, namun merupakan gejala dari sistem ekonomi yang gagal. Orang-orang yang membuat pakaian kami, merakit telepon kami, dan menyediakan makanan kami, dieksploitasi untuk memastikan persediaan barang murah, dan meningkatkan keuntungan perusahaan dan investor miliarder,” ujar Winnie Byanyima, Direktur Eksekutif Oxfam International.

Oleh sebab itu, Oxfam meminta pemerintah untuk memastikan ekonomi dunia dapat bekerja bagi semua orang, dan bukan hanya untuk orang-orang tertentu. Lebih lanjut, pemerintah diminta untuk memastikan semua pekerja menerima upah yang memungkinkan mereka memiliki kualitas hidup yang layak.

Hasil survei global terbaru yang dilakukan Oxfam juga menunjukkan adanya dukungan untuk tindakan terhadap ketidaksetaraan. Dari 70.000 orang yang disurvei di 10 negara, hampir dua pertiga dari semua responden berpendapat bahwa kesenjangan antara orang kaya dan masyarakat miskin perlu segera ditangani.

Oxfam juga menggarisbawahi nasib pekerja perempuan yang "terus-terusan dibayar lebih murah ketimbang pekerja laki-laki." Bahkan menjadi pihak yang dibayar paling rendah dan paling tidak aman bekerja. Tak heran, sembilan dari setiap 10 miliarder adalah pria.

Menurut laporan Forbes, orang terkaya di dunia tahun 2017, yakni Bill gates, memiliki kekayaan mencapai $86 miliar. Diikuti Warren Buffett dengan kekayaan sebanyak $75,6 miliar, dan Jeff Bezos dengan kekayaan sebesar $72,8 miliar. Bahkan dengan kekayaan yang melimpah, Bill Gates mampu melunasi utang Nigeria ke Jepang sebesar $76 juta.

Related

Money 6184100336945412921

Recent

item