Punya Hewan Peliharaan Ternyata Membantu Kesehatan Fisik dan Mental (Bagian 1)


Beberapa tahun silam, Listiyani sempat dirundung kejenuhan luar biasa akan hidupnya. Kala itu, ia masih menjalani rutinitasnya sebagai mahasiswi. Pikiran-pikiran mengganggu mulai menghantuinya, termasuk keinginan melukai diri sendiri. 

Kerap kali saat bercerita tentang masalah yang dihadapinya, Listiyani mendapat tanggapan menggurui dari sekitar. Teman-temannya berkata bahwa ia melebih-lebihkan sesuatu. Sempat ia mencari tahu di internet tentang gejala-gejala malas beraktivitas, kehilangan energi, serta kesulitan tidur yang dialaminya. 

Dari hasil pencarian informasinya, ia sadar ia mengalami gejala depresi. Listiyani kemudian datang ke salah satu psikolog. Sayangnya, kali pertama mendatangi pakar psikologi untuk mencurahkan problemnya, ia mendapat stereotipe dan pernyataan yang menghakimi situasinya. 

Lantas, perempuan ini pun memilih mendatangi beberapa psikiater lain. Oleh psikiater berikutnya, ia sempat didiagnosis mengalami clinical depression, sementara dokter jiwa yang kedua mengatakan ia mengidap bipolar. 

Masalah mental yang dialami Listiyani tak pelak mendatangkan niatan bunuh diri. Awalnya hanya sekadar ide mengakhiri hidup, kemudian berlanjut ke pencarian cara untuk bunuh diri dan upaya. 

Tidak butuh pemicu besar untuk mendorongnya melakukan percobaan bunuh diri, kata Listiyani yang mewakili penyintas dari Komunitas Into The Light dalam seminar Psychological First Aid di Kampus Psikologi UI, beberapa tahun silam. 

Begitu dirundung pikiran negatif, segala referensi tentang kesehatan mental yang dipunyainya seolah mental begitu saja. Listiyani sudah sempat berencana mengakhiri hidupnya, saat suatu kali ia meluangkan waktu sejenak bermain dengan anjing-anjingnya di rumah. 

Percikan kesenangan tiba-tiba ia dapatkan dari berinteraksi dengan peliharaan keluarganya itu. Kemudian, ia memutuskan menunda rencana bunuh diri, dari tiga hari menjadi seminggu, sampai akhirnya ia menemukan Komunitas Into The Light yang bergerak mengampanyekan pencegahan depresi dan bunuh diri. Listiyani pun mengurungkan niatnya mengakhiri hidup dan perlahan-lahan menyintas dari situasi depresi. 

Pengalaman Listiyani ini bisa saja dipandang begitu sederhana. Memang berinteraksi dengan hewan bukan faktor tunggal yang membuatnya terbebas dari depresi dan keinginan bunuh diri. Pertemuan dengan orang-orang di komunitas dan kesempatan pergi ke luar negeri pun menyumbang pengalaman yang sedikit banyak mengubah cara pandangnya soal hidup. 

Kendati demikian, peran hewan peliharaan bagi kesehatan mental seseorang bukan sekadar mitos atau kebetulan. Penelitian telah menemukan bahwa hubungan manusia-hewan membawa aneka dampak positif, mulai dari kesehatan mental individu sampai kemampuan bersosialisasinya. 

Dilansir Mental Health Foundation, ada penelitian yang melibatkan 600 responden—yang merupakan pemilik kucing dan bukan. Separuh responden menyatakan memiliki masalah kesehatan mental. 

Dari penelitian tersebut, 87 persen yang memelihara kucing mengaku mendapat dampak positif terhadap kesejahteraan mereka, sementara 76 persen dari mereka mengatakan bahwa kucing membantunya melakukan aktivitas sehari-hari dengan lebih baik. 

Sepertiga responden pemilik kucing juga merasa kehadiran kucing memberikan ketenangan tersendiri saat mereka mengelusnya. 

“Duduk dengan kucing saat rileks setelah seseorang melewati hari yang padat memberikan kenyamanan tersendiri bagi jiwa. Bisa jadi ini dikarenakan dengkuran kucing secara umum diasosiasikan dengan ketenangan dan komunikasi yang lembut. Bisa juga karena frekuensi getarannya ada dalam rentang yang mampu menstimulasi pemulihan,” ujar Beth Skillings, dokter hewan dari Cats Protection. 

Tidak hanya ketenangan dan perasaan ditemani yang mampu diciptakan oleh kehadiran hewan peliharaan. Pemilik hewan peliharaan pun bisa mengecap ganjaran positif serta memiliki suatu tujuan yang memotivasi mereka menjalani hari. Katakanlah selepas letih bekerja, seseorang ingin segera sampai di rumah untuk bisa bertemu, bermain, memberi makan dan juga afeksi bagi hewan peliharaannya. 

Dorongan untuk memberikan dan menerima kesenangan kepada hewan inilah yang menjadi salah satu tujuan yang ketika disetel, berdampak positif bagi para pemilik hewan peliharaan. Hewan-hewan peliharaan juga dikatakan mampu membuat seseorang merasa berharga dan dibutuhkan. Bukan sekadar perkara makanan yang dinantikan oleh hewan peliharaan, tetapi juga sentuhan dan kasih sayang yang diberikan si pemiliknya. 

Baca lanjutannya: Punya Hewan Peliharaan Ternyata Membantu Kesehatan Fisik dan Mental (Bagian 2)

Related

Psychology 6659876073819186859

Recent

Hot in week

item