Fakta-fakta di Balik Harry Potter 20th Anniversary: Return to Hogwarts (Bagian 2)


Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Fakta-fakta di Balik Harry Potter 20th Anniversary: Return to Hogwarts - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Orang-orang juga membicarakan kematian Cedric Diggory tanpa kehadiran pemerannya, Robert Pattinson, yang barangkali sedang sibuk memerankan Bruce Wayne. Namun yang paling mencolok tentu ketidakhadiran pemeran Albus Dumbledore dan Minerva McGonagall, Michael Gambon dan Maggie Smith. 

Belum lagi kehadiran J. K. Rowling yang hanya kurang dari 30 detik, itu pun dari rekaman wawancara pada 2019. 

Berbagai spekulasi muncul soal sedikitnya porsi sang pengarang, termasuk dugaan bahwa itu berkaitan dengan komentar-komentarnya yang diangap transfobia dan menuai kritik luas termasuk dari para pemain Harry Potter. 

Meski patut disayangkan, setidaknya absennya nama-nama itu membuat screentime lebih bisa dibagikan untuk pemeran karakter-karakter macam Lucius Malfoy (Jason Isaacs) bahkan peri rumah Dobby yang disuarakan Toby Jones. 

Selain mengenang para aktor yang telah berpulang seperti Alan Rickman dan Helen MccRory, reuni ini nyaris melulu berisi kisah manis. Cerita Emma Watson dan Rupert Grint yang nyaris memutuskan berhenti, misalnya, tidak dituangkan lebih lanjut. Pembahasan hanya ditampilkan dalam waktu singkat dan berakhir agak samar. 

Rupert Grint setidaknya sempat mengalami krisis identitas, kebingungan memisahkan antara karakter yang ia hidupi dengan dirinya sendiri. Sementara Daniel Radcliffe mengatakan semua aspek dalam hidupnya kini terkait Potter. Semua itu ditutup dengan rasa syukur atau tetap menyimpulkan pengalaman terlibat kisah ini sebagai masa terbaik dalam hidup mereka. 

Warner Bros mungkin memang enggan menampilkan perkara itu lebih lanjut sebab faktanya tidak sedikit aktor anak di Hollywood yang rusak, tak hanya karier tapi juga hidupnya, berkat andil peran-peran besar dan kebintangan yang menghampiri sejak usia belia. Sebut saja Jake Lloyd (Star Wars) hingga Macaulay Culkin (Home Alone). 

Pasca Harry Potter 

Kisah hidup Harry Potter menghasilkan pengaruh yang seolah tiada habisnya dari generasi ke generasi. Para pembaca tumbuh dewasa dengan tetap percaya pada imajinasi. Dimensi ceritanya menghadirkan berbagai "hero", tergantung dari sudut mana kau memandangnya. 

Sementara di antara para pemeran, Emma Watson bisa dibilang paling menonjol, baik sebagai aktor maupun figur publik. Tak hanya terlibat dalam film-film seperti The Perks of Being a Wallflower (2012) dan Little Women (2019), ia juga menggunakan popularitasnya untuk terlibat dalam dunia aktivisme termasuk feminisme. 

Begitu pula rekan-rekan perempuannya dalam Order of the Phoenix yang tetap berjuang di dunia nyata, dalam aktivisme masing-masing. Perkara kelanjutan karier sebagai aktor, Rupert Grint dan Daniel Radcliffe tampak lebih senang mengambil jalur film-film indie atau yang tak berbujet besar--kalau bukan film yang tak berkesan. 

Pilihan-pilihan tersebut, berdasarkan obrolan dalam Return to Hogwarts, memang sedikit banyak didasari pada fakta bahwa mereka meraih status bintang di usia muda. 

Kendati salah satu pemeran tidak merasa sudah cukup pantas dibuatkan reuni resmi, Return to Hogwarts terasa jauh lebih dari sekadar konten serupa yang biasa ditemukan dalam bonus DVD film (kendati ia pun tak lepas dari kekeliruan, semisal memajang foto Emma Roberts masa kecil alih-alih Emma Watson). 

Acara temu kangen ini tampaknya sudah cukup memuaskan para fans. Meski mungkin reuni ini datang sepuluh tahun lebih cepat. Konten yang dihadirkan tentu bakal lebih mendalam, bahkan bisa mencapai fase di mana anak-anak dari generasi para pemeran utamanya sudah mencapai usia remaja dan memahami dunia Harry Potter, dunia yang membuat orang tua mereka dikenal di seluruh dunia. 

Namun ia pastinya dihadirkan sekarang dengan banyak pertimbangan seperti bisnis, fan-service, menjaga api The Wizarding World, atau bahkan sekadar soal waktu. 

Toh, sebagai waralaba buku terbesar dan salah satu media fantasi paling laris, Harry Potter selalu layak merayakan dirinya sendiri. Kisah yang, kata Emma Watson, "memberi kita tempat yang dapat kita kunjungi, di mana kita bisa beristirahat, dan dibuai" ketika keadaan "menjadi sangat gelap dan masa-masa sulit." 

Lagi pula, merasakan magis yang sama dari cerita yang mengisi masa-masa yang lebih baik juga bukanlah hal yang buruk. Bernostalgia membayangkan Hogwarts, Hogsmeade, Diagon Alley. Mencitrakan hewan yang bakal muncul dari Patronus-mu jika suatu waktu Dementor datang. Always.

Related

Film 1689051477862179415

Recent

item