Inilah Burung-burung dengan Kemampuan Migrasi Terjauh


Naviri Magazine - Sebagai hewan, burung memiliki kelebihan, yaitu sepasang sayap yang memungkinkan mereka terbang. Dengan kemampuan terbang tersebut, burung-burung bisa melakukan banyak hal tanpa terlalu khawatir serangan predator sebagaimana hewan darat atau hewan laut. 

Selain itu, dengan kemampuan terbang, burung-burung bisa melakukan migrasi hingga jarak sangat jauh.

Bahkan burung kecil, seperti kolibri, misalnya, rata-rata terbang sejauh 2.200 km dari pantai timur Amerika ke Amerika tengah. Sama sekali tidak pendek bagi burung yang beratnya hanya 5 gram.

Di sisi lain, albatros adalah hewan terbang terbesar di bumi, yang jarak jelajahnya mencapai 5.500 km dalam satu kali perjalanan.

Kemampuan ini karena kontrol terbangnya yang unik. Albatros yang jarang mengepakkan sayap kala terbang menggunakan lebih sedikit energi dibandingkan burung pengepak, sehingga perjalanan panjang tidak begitu terasa.

Tetapi jika kita lihat burung yang terbang dan sering mengepakkan sayap, godwit adalah juaranya.

"Perjalanan tahunan burung godwit mencapai 30.000 km," jelas biolog Amerika, Lee Tibbetts. Perjalanan ini ditempuh dalam tiga kali penerbangan non-stop selama 20 hari."

"Tiga tahap terbang ini dimulai dari Selandia Baru ke Australia timur, dari Australia timur ke Asia, dari Asia ke Alaska, dan dari Alaska kembali ke Selandia Baru,” kata Tibbetts. "Yang terjauh adalah saat terbang dari Alaska ke Selandia baru. Jaraknya 11.800 km."

Tibbetts pun mempelajari rute terbang burung godwit.

"Strategi migrasi burung godwit akan berhasil hanya jika tempat perhentiannya menyediakan cukup makan untuk penerbangan berikutnya. Karena itulah banyak yang khawatir akan keberadaan burung ini, mengingat lahan rusak semakin meluas di Asia, begitu juga dengan perubahan negatif di daerah rawa-rawa di berbagai penjuru dunia.

"Dari indikasi awal, kami temukan bahwa burung ini tidak cepat beradaptasi. Ini terlihat dari semakin sedikitnya jumlah populasi burung godwit," tutur Tibbetts.

Selain ketesediaan makanan, peneliti menyebut burung ini bisa menjalani rute panjangnya karena bantuan pola pergerakan angin.

Pada 2011, peneliti memasang pelacak di tubuh burung laut tern di Belanda. Ketika mereka mengumpulkan data setahun kemudian, peneliti terkesima mengetahui kemana burung ini pergi menjauhi musim dingin.

Total rata-rata migrasi burung tern mencapai 48.700 km, dari Eropa ke Antartika!

Richard Phillips, yang ikut dalam penelitian ini, menyatakan ketersediaan kebutuhan makanan adalah alasan di balik perjalanan panjang burung tern.

"Jawaban singkatnya adalah burung ini terbang karena keuntungan yang didapat melebihi upaya yang dikeluarkan," ungkapnya. Ketika tiba di Eropa, burung tern memulihkan kondisi tubuh mereka, dan bersiap untuk terbang di musim kawin berikutnya.

Namun, ada teka-teki yang belum terjawab. Tidak semua burung tern bermigrasi jarak jauh. Ada yang tetap tinggal di Arktik.

"Kami tidak habis pikir, karena burung tern Belanda bermigrasi sangat jauh ke timur, sementara burung tern Greenland atau Islandia, terbang dengan jarak lebih dekat," kata Phillips.

"Namun, jawabannya adalah dengan terbang lebih jauh, tempat tujuan menyediakan jumlah makanan lebih banyak dengan jumlah pesaing yang lebih sedikit."

Tapi tidak hanya burung tern Belanda yang suka terbang jauh. Pada Juni 2016, peneliti Universitas Newcastle, Inggris, menemukan bahwa ada burung tern yang terbang dari Northumberland di timur laut Inggris ke Antartika. Jaraknya mencapai 96.000 km! Itu jarak yang sangat panjang untuk bisa pergi ke pantai.

Related

Science 7426595423690713621

Recent

item