Kisah Agatha Christie dan Para Detektif yang Eksentrik


“Itu salah satu buku paling terkenal dalam seri detektif Hercule Poirot, The ABC Murders! Seorang pria membunuh orang secara acak yang namanya dimulai A, B, dan C dalam urutan abjad. 

“Dia meninggalkan panduan ABC di samping tubuh setiap korban untuk membuat mereka tampak seperti pembunuhan berantai. Semua untuk menyamarkan sasaran pembunuhan yang sebenarnya, orang yang namanya dimulai dengan C,” ucap tokoh fiktif Heiji Hattori dan Conan Edogawa dalam serial Detektif Conan episode 326 yang merupakan rangkaian dari kasus The Red Horse within the Flames. 

The ABC Murders adalah salah satu karya Agatha Christie. Ia dijuluki sebagai “Ratu Misteri” atas puluhan novel detektif karyanya. Agatha lahir di Inggris pada 15 September 1890 dengan nama lengkap Agatha Marry Clarissa. Nama itu pemberian ibu dan neneknya yang terinspirasi dari salah satu tokoh dalam novel favorit ibunya. 

Jane Morgan dalam Agatha Christie: A Biography, menggambarkan ibu Agatha, Clarissa atau Clara, sebagai seorang paranormal. Sementara ayahnya, Frederick, seorang Amerika yang bersemangat. Agatha anak termuda dari tiga bersaudara. Kakak perempuannya, Medge terpaut 11 tahun darinya. Dan kakak laki-lakinya, Monty, terpaut 10 tahun. 

Clara berpandangan bahwa seorang anak baru boleh membaca buku pada usia 8 tahun. Hal itu untuk menjaga kesehatan mata dan otaknya. Tetapi, pandangan tersebut tidak berlaku pada Agatha. Sejak kecil, Agatha telah tertarik pada kata-kata dan kalimat, terutama dari Medge yang humoris dan suka bercerita. 

Pada ulang tahun Agatha yang ke-3, Medge memberinya sebuah buku berjudul The Ballad of Beau Brocade and Other Poems of the XVIIIth Century karangan Henry Austin Dobson. Buku ini sulit dibaca oleh anak berusia tiga tahun, tetapi cukup membuatnya senang. Bahkan Medge adalah orang yang membuat Agatha tertantang untuk menulis novel misteri yang kelak membesarkan namanya. 

Pada 1905, Agatha sempat belajar di Paris, lalu lima tahun kemudian kembali ke Inggris. Warsa 1910 Clara didiagnosa menderita penyakit serius. Salah seorang dokter mengatakan ia menderita penyakit batu empedu, paratifoid, sampai radang usus buntu. Ia menyarankan agar Clara tinggal di Mesir, wilayah yang lebih hangat daripada Inggris. Agatha pun menemani masa tua ibunya di Mesir. 

Pada 1914 Agatha menikah dengan seorang perwira Inggris, Archibald Christie. Lima tahun kemudian mereka dikaruniai bayi perempuan yang diberi nama Rosalind Margaret Clarissa. 

Jane Morgan menyebutkan bahwa 1919 menjadi tahun penting bagi Agatha. Selain kelahiran putrinya, di tahun itu ia juga mendapatkan panggilan dari John Lane untuk membicarakan penerbitan novel pertamanya, The Mysterious Affair at Styles. 

Pada 1920 novelnya terbit di Inggris dan Amerika. The Weekly Times membeli novel itu senilai £50. Semenjak itu, nama Agatha dikenal sebagai seorang novelis. 

Dunia Hercule Poirot dan Jane Marple 

Agatha lekat dengan tokoh fiktif ciptaannya, Hercule Poirot dan Jane Marple. Dalam novel pertamanya, The Mysterious Affair at Styles (1920) atau Misteri di Styles (2019), Poirot digambarkan sebagai mantan polisi Belgia yang mengungsi ke Inggris. Ia perokok berat yang berkumis. 

Poirot adalah inspirasi tokoh fiktif detektif Kogoro Mouri dalam serial Detektif Conan. Poirot hadir dalam novel Agatha lebih dari 20 kali sebelum akhirnya dimatikan pada 1975 dalam novel Curtain atau Tirai (2019). Kematian Poirot diwartakan oleh The New York Times pada 12 Oktober 1975 dalam 2 artikel pendek berjudul "Hercule Poirot, it est mort" dan "Curtain". 

Tokoh detektif lain adalah Jane Marple atau Miss Marple yang pertama kali muncul dalam novel Murder at the Vicarage (1930) atau Pembunuhan di Wisma Pendeta (2019). Marple adalah seorang perawan tua yang berusaha menyelesaikan kasus pembunuhan di sebuah desa. 

Ia adalah sosok pengamat yang baik dan berperangai lembut. Tokoh Marple juga menjadi inspirasi bagi Gosho Aoyama, pengarang serial Detektif Conan, untuk memunculkan tokoh Nenek Furuyo Senma dalam episode 219 yang berjudul The Gathering of Detectives! Shinichi Kudo vs Kaitou Kid. 

Ran Mouri, anak Kogoro, mendeskripsikan Nenek Senma sebagai detektif perempuan tua yang bisa menyelesaikan kasus hanya dengan duduk di kursi goyang. 

Pada 1926, Agatha bercerai dengan Archibald Christie. Ia kemudian melakukan perjalanan dari Inggris ke Timur Tengah dengan menggunakan kereta api ekspres. Inilah yang menjadi inspirasinya dalam menulis novel Murder on the Orient Express yang diterbitkan pada 1934. Novel ini mengisahkan aksi Poirot yang harus memecahkan kasus terbunuhnya seorang penumpang di atas kereta api ekspres. 

Charles D. Ellis dalam Murder on the Orient Express: The Mystery of Underperfomance, menyatakan bahwa novel itu memiliki plot akhir yang unik, “no one suspect was guilty, all suspects were guilty”. 

Novel setebal 256 halaman itu berhasil menarik perhatian dan menjadi inspirasi bagi sutradara Sidney Lumet untuk mengadaptasinya ke layar lebar pada 1974. Lalu pada 2017 sutradara Kenneth Branagh menghadirkan kembali film Murder on the Orient Express yang dirilisnya pada November. Selain duduk di kursi sutradara, Kenneth Branagh juga memerankan tokoh utamanya: detektif Poirot. 

Terus Berkarya Saat Kesehatan Menurun 

Selain novel detektif, Agatha juga pernah menulis novel romansa dengan nama pena Marry Westmacott. Irene Kahn Atkins dalam Agatha Christie and the Detective Film: A Timetable for Success, menyebutkan kira-kira Agatha telah menulis sekitar 80 novel, hampir satu judul setiap tahunnya. 

Guiness Book of World Records mencatat Agatha sebagai novelis terlaris sepanjang masa. Novelnya terjual lebih dari dua miliar eksemplar dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa sebanyak 7.236 kali. 

Di luar novel, Agatha juga pernah menulis naskah teater. Naskahnya yang berjudul The Mousetrap menjadi produksi teater yang paling lama digelar di dunia. The Mousetrap pertama kali dipentaskan di London pada 1952 dan hingga 11 Juli 2015 tercatat sudah tampil di panggung sebanyak 26.113 kali. 

Pada 1970-an kesehatan Agatha mulai menurun. Kendati demikian, ia tetap menerbitkan novel-novelnya, seperti Nemesis (1971), Elephants Can Remember (1972), Curtain (1975), dan akhir kisah Marple dalam Sleeping Murder pada 1976. Selain itu, Agatha juga menulis autobiografinya, yang berjudul Agatha Christie: An Autobiography, yang diterbitkan satu tahun setelah kematiannya. 

Penyakit alzheimer yang diderita oleh Agatha terus memperburuk kesehatannya. Tanggal 12 Januari 1976, Agatha mengembuskan napas terakhirnya pada usia 85 tahun di Winterbrook, Inggris. Dunia berkabung, kehilangan sosok Ratu Misteri.

Related

Figures 4044322061370301412

Recent

Hot in week

item