Menguak Fakta-fakta Mencengangkan di Balik Asal Usul Konsep Ras Manusia (Bagian 1)


Manusia seringkali dinilai berdasarkan klasifikasi ciri fisik: warna kulit, warna mata, atau rambut. Pembagian itu dikenal sebagai klasifikasi berdasarkan ras. Akan tetapi, sejak pertengahan abad ke-20, para ilmuwan telah bersepakat bahwa ras bukanlah satu konsep yang bisa diterima apa adanya. 

Ilmuwan sepakat ras tidak bersifat biologis, tidak alamiah, melainkan diciptakan oleh manusia dalam konteks sosial dan kepentingan politik. Tapi, kenapa rasisme masih kerap muncul meski ia terbukti tak ilmiah? 

Sebuah buku berjudul RACE: Are We So Different? yang ditulis oleh Alan H. Goodman dkk dari American Anthropological Asociation menjelaskan bahwa konsep ras tidak seperti yang selama ini umum diterima: alamiah, primordial dan permanen. 

Menurut para peneliti dalam buku ini, ras adalah konsep yang terlalu lama diciptakan orang Eropa, yakni ketika mereka melakukan penjelajahan dan penjajahan sejak abad ke-16. Menurut Audrey Smedley, seorang profesor antropologi yang menjadi salah satu penulis dalam buku itu, konsep ras belum diciptakan pada awal era kolonialisme. 

Ketika membangun koloni di Amerika pada 1607, Inggris tidak memisahkan masyarakat setempat berdasarkan ciri-ciri fisik atau ras, tetapi berdasarkan agama dan kekayaan. Pada masa itu, memang sudah ada orang kulit hitam asal Afrika yang menjadi budak, tetapi mereka bisa merdeka dengan bayaran tertentu. Mereka tidak menjadi budak permanen hanya karena warna kulit. 

Pemerintah kolonial Inggris bahkan mencampurbaurkan pekerja dari Afrika, Eropa dan pribumi Amerika di wilayah jajahan. 

“Pekerja kulit hitam dan kulit putih melayani majikan yang sama,” kata sejarawan Edmund Morgan sebagaimana dikutip Smedley. “Mereka makan bersama, tidur bersama, bahkan umum bagi mereka untuk mencuri ternak majikannya bersama-sama, mabuk-mabukan bersama.” 

Klasifikasi rasial muncul ketika wilayah koloni Inggris di Amerika dilanda krisis, tepatnya pada kurun 1675-1676. Para pekerja yang terdiri dari orang kulit hitam Afrika, orang kulit putih Eropa, dan pribumi Amerika, merasa tidak puas dengan sistem kolonial yang menindas. Pada 1676, mereka menyatukan kekuatan dan memberontak di Virginia. 

Walaupun tentara Inggris berhasil menumpas pemberontakan, sejak saat itu pemerintah kolonial menilai pembauran orang kulit putih Eropa dengan orang kulit hitam sebagai ancaman bagi kestabilan politik dan ekonomi kolonial. 

Kerajaan Inggris menyiasati ancaman ini dengan memisahkan orang kulit hitam Afrika dengan orang kulit putih Eropa. Para pekerja kulit hitam kemudian dipisahkan dan ditempatkan dalam hierarki paling bawah. 

Warna kulit kemudian menjadi pembeda dan penentu posisi seseorang di dalam masyarakat kolonial. Menurut keterangan Smedley, beberapa pejabat kolonial mulai berargumen bahwa orang kulit hitam tidak memiliki hak di bawah hukum Inggris, sehingga mereka bisa diperbudak secara permanen. 

Pada akhir abad ke-17, pejabat kolonial mulai menyeragamkan orang Eropa dengan penyebutan istilah “whites” (kulit putih), padahal sebelumnya orang Eropa selalu dirujuk berdasarkan agama (Christians), bukan warna kulit. 

Untuk pertama kalinya, orang Eropa diklasifikasikan berdasarkan warna kulit dalam sebuah dokumen publik yang terbit pada 1691 tentang larangan pernikahan orang Eropa (“whites”) dengan orang kulit hitam. 

Goodman dkk. menyebutkan konsep ras mulai digunakan untuk menjustifikasi penjajahan bangsa-bangsa Eropa. Para penjajah mengaitkan warna kulit dengan perilaku dan tingkat kecerdasan. Dengan mendudukkan orang kulit hitam sebagai “ras” inferior, tidak beradab, bahkan setengah manusia, para penjajah membangun landasan moral untuk melakukan penjajahan dan perbudakan. 

Dengan kata lain, konsep ras dan rasisme awalnya diciptakan guna menopang keberlangsungan penjajahan. Orang Eropa lantas mencari justifikasi lain, salah satunya melalui sains. 

Kemunculan Rasisme Ilmiah 

“Sejarah sains mencakup banyak sekali upaya untuk membenarkan ras dan hierarki ras,” kata Goodman dkk. dalam bukunya. 

Pada 1735, naturalis asal Swedia, Carolus Linnaeus, mengembangkan sistem klasifikasi makhluk hidup dalam magnum opus-nya yang berjudul Systema Naturae. Karya ini menjadi fondasi utama dari ilmu taksonomi. Tetapi, di samping itu Goldman dkk. menganggap karya ini juga menjadi fondasi bagi pengukuhan konsep ras dan rasisme dalam dunia akademik. 

Dalam karya ini, Linnaeus mengklasifikasikan manusia menjadi lima jenis berdasarkan karakternya. Tidak hanya ciri fisik, karakter ini juga melibatkan perilaku dan kebiasaan yang sifatnya stereotipikal. Empat jenis manusia itu adalah orang pribumi Amerika, orang Eropa, orang Asia dan orang Afrika. 

Linnaeus menggambarkan orang pribumi Amerika sebagai kelompok manusia berkulit kemerahan dengan sifat keras kepala, mudah tersinggung dan terikat adat. Orang Eropa digambarkan sebagai manusia berkulit putih yang gagah, lemah lembut, berdaya cipta dan taat hukum. 

Orang Asia dideskripsikan sebagai kelompok manusia berkulit pucat yang sayu, kaku, angkuh dan dikendalikan oleh opini. Sedang orang Afrika digambarkan sebagai manusia berkulit hitam yang apatis, licik, malas dan plin-plan. 

Di samping berkontribusi besar terhadap perkembangan biologi, karya Linnaeus menunjukkan usaha orang Eropa untuk secara “saintifik” mempromosikan hierarki sosial berdasarkan ras, misalnya melalui pelekatan sifat negatif pada ras tertentu. 

Setelah Linnaeus, para ilmuwan mengembangkan berbagai metode “saintifik” untuk membuktikan kebenaran konsep ras, sekaligus membuktikan superioritas ras tertentu. Goldman dkk. Mencatat, menjelang abad ke-19 banyak ilmuwan berusaha mencari pembenaran klasifikasi rasial secara “objektif” melalui pengamatan ciri anatomi dan fisiologi manusia. 

Metode yang umum digunakan adalah pengukuran tengkorak. Salah satu ilmuwan terkenal yang menggunakan metode ini adalah Samuel Morton. Pada 1839, Morton memperbandingkan ukuran tengkorak dari empat klasifikasi rasial: “Kaukasia”, “Mongolia”, “Amerika”, dan “Ethiopia”. 

Dari perbandingan itu, Morton membangun hierarki rasial dengan asumsi semakin besar ukuran tengkorak suatu ras, semakin besar tingkat kecerdasan ras tersebut. Ia menempatkan “Kaukasia” sebagai kelompok ras yang paling cerdas. 

Ilmuwan seperti Morton percaya bahwa ras adalah sesuatu yang sifatnya alamiah, stabil, dan permanen. Sederhananya, jika satu individu terlahir sebagai kelompok rasial tertentu dengan kecerdasan rendah, maka ia akan selamanya begitu. 

Pada 1911, bapak antropologi modern Franz Boas berhasil membantah klasifikasi rasial yang waktu itu mendominasi sains, lewat esainya yang dipresentasikan dalam The First Universal Races Congress di University of London. 

Boas meneliti ukuran tengkorak beberapa generasi orang Yahudi dan Sisilia di Amerika. Hasilnya, ia menemukan bahwa ukuran tengkorak dapat bervariasi dan berubah-ubah bergantung kepada faktor eksternal seperti lingkungan atau nutrisi. Artinya klasifikasi rasial tidaklah stabil. Boas secara tegas menolak klasifikasi rasial yang sebelumnya ramai dipercaya ilmuwan di Eropa. 

“Gagasan lama tentang stabilitas mutlak tipe-tipe manusia jelas harus ditinggalkan,” tulis Boas dalam studinya, “begitu pula keyakinan akan unggulnya keturunan dari jenis-jenis tertentu daripada yang lain.” 

Baca lanjutannya: Menguak Fakta-fakta Mencengangkan di Balik Asal Usul Konsep Ras Manusia (Bagian 2)

Related

Science 4364962267394882606

Recent

item