Menuju Dunia Bersih Tanpa Sampah Sedotan Plastik


Naviri Magazine - Sampah plastik telah menjadi masalah di banyak negara, karena semua tempat di mana pun memang biasa menggunakan plastik untuk berbagai keperluan. Dari mengantongi belanjaan sampai untuk aneka hal lain. Plastik juga tidak hanya berbentuk kantong, tapi juga dalam beragam benda lain yang menjadi kebutuhan sehari-hari. Sedotan plastik adalah salah satunya.

Selama ini, sedotan plastik sudah lazim digunakan di berbagai tempat, khususnya restoran, rumah makan, dan gerai-gerai makanan siap saji. Namun, seiring makin meningkatnya kesadaran untuk mengurangi sampah plastik, berbagai pihak mulai mengurangi atau bahkan menghilangkan sama sekali sedotan plastik di tempat mereka.

McDonald's, misalnya, melarang pemakaian sedotan plastik di seluruh restorannya di Inggris dan Irlandia sejak 2019.

Menurut Independent, McDonald's kelak akan menggunakan sedotan berbahan kertas di 1.361 gerainya di di Inggris, mulai September. Langkah ini diambil McDonald's setelah mendapat respons positif dari pelanggan selama uji coba. 

Banyaknya jumlah alat minum yang dikonsumsi membuat pelanggan beropini agar McDonald's turut berperan mengurangi limbah restoran. Setiap hari, McDonald's memakai 1,8 juta sedotan di Inggris.

Hotel seperti Hyatt dan Hilton adalah contoh lain perusahaan yang menerapkan larangan sedotan plastik sekali pakai. Menurut cbsnews.com, para tamu harus meminta sedotan plastik mulai September tahun ini, sebab pihak hotel hanya akan memberikannya jika ada permintaan. Hyatt juga menyediakan sedotan berbahan ramah lingkungan bagi tamu hotel yang menginginkannya. 

Kebijakan hotel Hyatt, menurut Time, selaras dengan visi perusahaan yang memperkenalkan “2020 Environmental Sustainability Vision” empat tahun silam itu. Selain sedotan plastik, aturan ramah lingkungan lain yang diterapkan Hyatt adalah mengurangi gas emisi rumah kaca sebanyak 25% di semua wilayah operasi properti milik hotel.

Dibandingkan Hyatt, Hotel Hilton mengambil kebijakan yang lebih keras. Seperti yang dilaporkan USA Today, Hilton akan melarang penggunaan sedotan plastik di seluruh jaringan hotelnya pada akhir tahun ini. Tak hanya itu, manajemen hotel juga berencana menyingkirkan botol air plastik di tiap perhelatan yang diadakan di Hilton.

Larangan pemakaian sedotan sebelumnya telah diberlakukan hotel Hilton di Australia, New Zealand, dan Fiji. Alih-alih menggunakan sedotan plastik, pihak hotel justru menawarkan sedotan berbahan kertas yang bisa terurai. Kebijakan ini, menurut USA Today, mampu mengurangi 2,5 juta sedotan plastik tiap tahun.

Perusahaan maskapai penerbangan dan taman hiburan pun tak mau ketinggalan. American Airlines, misalnya, berkomitmen menggunakan sedotan, sendok dan garpu yang ramah lingkungan, serta pengaduk berbahan bambu di ruang tunggu maskapai mulai Juli 2018. Pengaduk berbahan bambu dan sedotan ramah lingkungan juga ditawarkan pada penumpang yang menggunakan jasa penerbangan American Airlines.

Menurut laporan Time, taman hiburan Seaworld Parks & Entertainment di Amerika Serikat pun menerapkan larangan sedotan plastik dan tas belanja berbahan plastik di 12 taman hiburan sebagai upaya untuk melindungi binatang dan habitatnya.

Larangan penggunaan sedotan plastik juga berlaku di beberapa wilayah dengan cakupan yang lebih luas. Menurut National Geographic, beberapa kota Amerika seperti Seattle, Miami Beach, serta Fort Myers Beach, melarang penggunaan sedotan plastik. Usulan untuk memberlakukan kebijakan itu juga sedang menjadi bahan perbincangan di Inggris, Taiwan, dan Belize.

The New York Times melaporkan, larangan sedotan plastik di beberapa perusahaan beberapa bulan terakhir ini disebabkan oleh kampanye dengan tagar #StrawSuck dan #TheLastStraw di media sosial. Ajakan ini viral dan mungkin menunjukkan kesadaran bahwa saat ini polusi plastik semakin membahayakan makhluk hidup dan lingkungan.

Meski begitu, menurut situs phys.org, keberadaan sedotan plastik tidak siginifikan dari segi kuantitas dan berat dibandingkan sampah plastik lainnya. Ilmuwan asal Australia Denise Hardesty dan Chris Wilcox memperkirakan hampir 7,5 juta sedotan plastik ada di garis pantai Amerika. Denise dkk mengatakan bahwa sebanyak 437 juta hingga 8,3 milyar sedotan plastik ditemukan di wilayah garis pantai seluruh dunia.

Angka-angka di atas tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan banyaknya sampah plastik yang hanyut di laut. Menurut studi Jenna Jambeck, profesor Teknik Lingkungan University of Georgia, sebanyak 9 juta ton limbah plastik berakhir di lautan dan pantai di seluruh dunia per tahunnya. 

Jumlah sampah plastik yang dibuang di daratan lebih banyak lagi, yakni mencapai 35 juta ton tiap tahun dan seperempatnya mengotori lautan.

Related

Science 6662819196871430969

Recent

item