Hikayat Hetairai, Wanita Penghibur Legendaris dari Athena


Naviri Magazine - Praktik prostitusi adalah sesuatu yang telah terjadi sejak zaman lampau, hingga profesi itu (kalau memang disebut profesi) merupakan profesi tertua di dunia. 

Di banyak zaman, hampir bisa dipastikan ada praktik prostitusi. Sebagian dilakukan terang-terangan, sebagian lain dilakukan secara diam-diam. Athena, Yunani, adalah salah satu wilayah yang pernah melegalkan praktik prostitusi secara terang-terangan.

Pada masa itu, Athena menjadi pusat tumbuh-kembangnya peradaban Yunani. Peradaban ini, selain melahirkan sejumlah ahli pikir, juga memunculkan hetairai. Berbeda dari perempuan Athena umumnya, hetairai menduduki posisi lebih tinggi dalam masyarakat. Para negarawan dan filsuf menghargai mereka. Perempuan tak punya banyak peran dalam masyarakat Athena.

Mereka juga mendapat pembatasan. Mereka tak boleh menjadi pejabat pemerintahan lokal. Membaca dan menulis tak menjadi kewajiban mereka. Sekolah tak mau menerima mereka sampai masa Helenistik. Bersama para budak dan orang asing, perempuan Athena tak punya pengaruh atau hak-hak sipil.

Singkatnya, "Menjadi perempuan pada masa Athena Kuno sangat tak menyenangkan," tulis Jørgen Christian Meyer, guru besar Departemen Arkeologi, Sejarah, Kajian Budaya, dan Agama, pada Universitas Bergen, Norwegia, dalam makalahnya, "Women in Classical Athens." Seorang perempuan mesti menjadi hetairai jika menginginkan posisi yang lebih tinggi.

Menurut Nikolaos A. Vrissimtzis, dalam buku Erotisme Yunani, "peran perempuan memang direndahkan, tapi kita juga tak bisa berpikir bahwa posisi mereka tak dihargai." Karena itu, beberapa perempuan, terutama imigran dan budak, berupaya menjadi hetairai di Athena. Pemerintah Athena tak melarang prostitusi.

Hal yang sama terjadi pada wilayah Yunani lainnya. Bahkan seorang negarawan, Solon (638 SM-558 SM), menjadi salah satu germo pertama di Athena. Dia membuka rumah bordil. Pelacur rendahan dari berbagai kota di Yunani tersedia di sana, sebab perempuan Athena dilarang menjadi pelacur. Dari rumah bordil itu, mereka bisa menapaki karier sebagai hetairai.

Sebutan hetairai kali pertama tersua dalam Histories karya Herodotus (484 SM-425 SM), sejarawan Yunani Kuno. 

"Sebutan itu ditujukan untuk Rhodopis (569 SM-526 SM), seorang perempuan asal Thrace (Turki) yang pindah ke Naukratis (Mesir), koloni Yunani Kuno," tulis Rebekah Witheley dalam "Courtesans and Kings: Ancient Greek Perspectives on the Hetairai", tesis pada Universitas Calgary, Kanada. Rhodopis dinilai sebagai hetairai pertama dan terkenal di kalangan pembesar Naukratis.

Untuk menjadi hetairai, seorang perempuan tak cukup hanya cantik. Dia mesti meluaskan pengetahuan mengenai bahasa (puisi), filsafat, dan politik. Dia bisa memperolehnya dari pergaulan dengan tetamunya. Keahlian bermain alat musik seperti flute, tamborin, kastanet, dan lyre, juga sangat dibutuhkan.

Selain itu, mereka harus mahir menari. Inilah yang membedakan hetairai dengan pelacur rendahan dan selir. Berbekal kemampuan itu, mereka melayani tetamu laki-laki dalam symposia, acara minum anggur dan diskusi khusus lelaki, yang diakhiri bercinta dengan hetairai. Aktivitas percintaan mereka dapat dilihat pada guci-guci kuno Yunani.

Hetairai mencapai popularitas pada masa klasik. "Masa ini dinilai banyak sarjana sebagai zaman keemasan haeterai. Kebanyakan berasal dari luar Athena, namun hidup bersama lelaki Athena," tulis Rebekah. Beberapa tokoh penting Athena seperti Pericles (orator dan negarawan), Praxiteles (seniman patung), dan Epicurus (filsuf), mempunyai hetairai masing-masing.

Yang terkenal adalah Aspasia, milik Pericles. "Socrates sangat memuji kemampuan bicaranya," tulis Nikolaos. Tapi, hubungannya dengan Pericles menjadi gunjingan banyak orang. Sebab, Aspasia bukan orang Athena, sedangkan Pericles adalah pembesar Athena.

Hidup hetairai dilimpahi kemewahan dan keistimewaan. Dengan bayaran mahal, mereka memiliki rumah dan budak sendiri. Ini melanggar aturan umum masyarakat Athena yang tak membolehkan perempuan memiliki rumah dan budak. Anak-anak mereka juga mewarisi hak-hak istimewa sang ibu. Meski statusnya bukan sebagai warga Athena, anak-anak itu dapat menduduki posisi sebagai jenderal atau anggota senat.

Padahal, aturan tak memperkenankan anak hasil hubungan lelaki Athena dengan perempuan luar Athena memperoleh hak-hak politik.

Sebenarnya, hetairai tak menghendaki kehamilan dari hubungan dengan tetamu. Karenanya, mereka berhati-hati dalam berhubungan intim. Beberapa cara seperti sanggama terputus, membaca mantra-mantra, meminum ramuan tertentu, dan memakan telur gagak, diterapkan.

Tapi, karena banyak dari mereka menjadi selir, kehamilan tak terhindarkan. Bagi masyarakat Athena, selir memiliki fungsi sebagai penghasil keturunan atas persetujuan istri sah. Lelaki Athena memelihara selir, karena istrinya mandul atau hanya melahirkan anak perempuan.

Hetairai masih ditemukan hingga masa akhir Antikuitas, meski popularitasnya menurun. Bahkan, menyebar hingga luar Athena seperti di Corinth, 78 km barat daya Athena.

Di kota ini, para hetairai membangun kuil megah dan luas untuk dipersembahkan kepada Aphrodite–dewi cinta, kecantikan, dan seksualitas. Namun, kuil ini merupakan peninggalan terakhir hetairai. 

Memasuki abad ke-4 M, Kristen muncul. Peradaban Romawi perlahan terbit, dan Yunani Kuno mulai tenggelam. Hetairai dianggap kotor. Dan, lambat-laun, namanya menghilang meski profesinya tak pernah ditinggalkan.

Related

History 4014236879201799984

Recent

item