Kisah Colin L. Powell, Tokoh di Balik Perang yang Dilancarkan Amerika (Bagian 2)


Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Kisah Colin L. Powell, Tokoh di Balik Perang yang Dilancarkan Amerika - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Di bawah pengawasan Powell, misi ini menelan antara 500 sampai 1.000 korban jiwa rakyat sipil Panama (sebagai perbandingan, 23 tentara AS meninggal dunia). Namun, militer AS memujinya sebagai “kesuksesan”. 

Powell kembali disorot publik saat menjadi arsitek Perang Teluk, invasi AS ke Timur Tengah pada awal 1991. Disokong oleh sekitar 500 ribu pasukan AS, operasi ini bertujuan untuk mencegah Irak mencaplok negeri paling kaya minyak sedunia, Arab Saudi, sekaligus melengserkan pemerintah Irak pimpinan Saddam Hussein yang menganeksasi Kuwait enam bulan sebelumnya. 

Dalam waktu singkat, militer AS dapat mengalahkan pasukan Irak yang sumber dayanya terbatas. Akan tetapi, alih-alih menyebut Perang Teluk sebagai momen kemenangan—yang dikontraskan dengan kegagalan AS di Vietnam—lebih tepat untuk menamainya “pembantaian”, meminjam istilah Robert Jensen, dosen jurnalisme di University of Texas Austin. 

Jensen menulis pada 2000 bahwa invasi AS ke Irak dan Kuwait masuk dalam kategori “kejahatan perang” Konvensi Jenewa, karena rakyat sipil turut jadi target pembunuhan. Dalam perang yang berlangsung sekitar 5 minggu ini, lebih dari 88.500 ton bom dijatuhkan pasukan AS ke Irak. 

Yang mengerikan, 70 persennya meleset dari target utama. Diperkirakan belasan sampai puluhan ribu pasukan Irak dan 2.300 warga sipil meninggal dunia karenanya, seiring bom menghancurkan sumber daya pangan, air bersih, dan infrastruktur lain yang sudah menunjang kehidupan rakyat banyak. 

Padahal, satu minggu setelah perang berlangsung, Powell pernah sesumbar, “Kami tidak terburu-buru [menyerang pasukan Irak]. Kami tidak mencari korban jiwa dalam jumlah besar.” 

Powell masih menjadi Kepala Staf Gabungan selama beberapa bulan di kepemimpinan presiden Demokrat, Bill Clinton, sebelum memutuskan untuk mengundurkan diri dan pensiun dari jagat militer pada 1993. 

Pada hari itu, Powell dipandang sebagai “figur publik paling populer di Amerika,” tulis Eric Schmitt dari The New York Times. Rakyat menghargai Powell karena “sikapnya yang terus terang, kualitas kepemimpinannya, dan kemampuannya bicara blak-blakan.” 

Popularitas ini membuat Powell dijagokan jadi kandidat presiden, yang rupanya tidak ia minati. 

Hoaks Perang Irak 2003 

Powell diangkat oleh George H.W. Bush sebagai Menteri Luar Negeri pada 2001. Semenjak itu, ia menjadi bagian dari administrasi yang berada di balik invasi AS ke Afganistan setelah peristiwa 9/11. Seiring waktu, perang melawan teror ini bergeser menjadi ambisi untuk menghancurkan rezim Saddam Hussein di Irak. 

Di sinilah Powell dipandang punya peran besar. Pada 5 Februari 2003, Powell tampil di hadapan Dewan Keamanan PBB untuk mempresentasikan gambar foto dan rekaman yang disebutnya sebagai bukti kepemilikan senjata pemusnah massal Irak. Semuanya, menurut Powell, adalah “fakta-fakta dan kesimpulan berdasarkan intelijen yang solid.” 

Powell menyimpulkan, “Tidak ada keraguan bahwa Saddam Hussein memiliki senjata biologis dan kemampuan untuk memproduksi lebih banyak, lebih banyak lagi dalam waktu cepat.” 

Faktanya, pada 2004 dan 2005, inspektor menyatakan Irak sudah tidak punya lagi senjata pemusnah massal atau kemampuan untuk memproduksinya, bahkan sebelum AS menginvasi pada Maret 2003. Intelijen AS dipandang sudah memberikan informasi yang “sangat salah”. 

Dalam pidatonya di PBB, Powell juga berusaha mengaitkan aktivitas terorisme Irak dengan jaringan Al-Qaeda. Ia menyampaikan bagaimana Irak memberikan suaka pada jaringan teroris pimpinan Abu Musab al-Zarqawi, yaitu “kenalan sekaligus kolaborator Osama bin Laden dan letnan-letnan Al-Qaeda.” 

Padahal, dilansir dari Frontline, intelijen melaporkan Zarqawi hanya pernah pergi sekali ke Afganistan untuk mencoba menemui Osama bin Laden. Dia juga dianggap kurang mumpuni untuk jadi bagian dari Al-Qaeda. 

Akhirnya, pidato Powell dipandang mendorong popularitas Zarqawi. Dalam beberapa bulan, ia mulai dapat banyak pengikut di Irak. Merekalah yang kelak menyuburkan konflik sektarian dan membuka jalan bagi berdirinya Negara Islam (ISIS). 

Ketika Jason Breslow dari Frontline bertanya pada Powell tentang Zarqawi dalam wawancara pada 2016, ia mengaku tidak tahu-menahu (padahal nama Zarqawi disebut sampai 21 kali dalam pidatonya). “Saya cuma seorang salesman yang hari itu mempresentasikan suatu produk, tapi produk yang berasal dari komunitas intelijen,” kilah Powell. 

Pidato yang disampaikan di PBB, menurut Powell, merupakan “kegagalan besar intelijen.” Pada waktu sama, pidato itu tidak dianggapnya spesial atau penting karena “dadu sudah dilemparkan.” 

Powell menegaskan bahwa Presiden Bush dan Kongres telah memutuskan untuk melakukan serangan militer ke Irak sekitar tiga bulan sebelum ia menyampaikan pidato hoaks di PBB. 

Tak lama setelah mengundurkan diri dari administrasi Bush pada 2005, Powell mengakui bahwa hoaks-hoaks yang disampaikannya di hadapan komunitas internasional itu sudah jadi “aib” yang menodai karier cemerlangnya selama puluhan tahun. Akan tetapi, tak satu pun konsekuensi hukum dari pengadilan pernah Powell terima sampai akhirnya ia tutup usia pada 18 Oktober 2021. 

Dipuji dan Dicaci 

Setelah meninggal, Powell tetap digambarkan layaknya pahlawan oleh media arus utama AS. The New York Times melihatnya sebagai seorang “penerobos” karena menjadi orang kulit hitam pertama yang diangkat sebagai penasihat keamanan, pejabat tertinggi militer, sekaligus Menlu. 

Associated Press menyebutnya “serdadu dan diplomat pelopor dengan reputasi harum di kalangan presiden-presiden Republikan dan Demokrat.” Time memujinya sebagai “advokat garang untuk kesempatan bagi para imigran dan pembela martabat yang teguh.” 

MSNBC tidak ketinggalan menyiarkan sesi khusus dengan Richard Haass, eks-diplomat sekaligus presiden think tank nirlaba kenamaan AS, Council on Foreign Relations, yang mengenang Powell sebagai “salah satu orang paling jujur secara intelektual” yang pernah ia temui. 

Pujian yang kurang lebih sama juga disampaikan oleh mantan Presiden Bush. Menurut Bush, Powell adalah tokoh “favorit” presiden-presiden AS yang bergantung pada “bimbingan dan pengalamannya.” Bush menambahkan, Powell begitu disayang sampai-sampai dianugerahi Presidential Medal of Freedom—penghargaan tertinggi bagi warga negara atas kontribusinya untuk AS—sebanyak dua kali. 

Selain Powell, hanya ada Ellsworth Bunker (1894-1984), pebisnis-diplomat penyokong Perang Vietnam, yang menerima dua keping medali ini. 

Pada waktu sama, komentar-komentar getir terdengar riuh nun jauh di Irak. Muntadher Alzaidi, jurnalis yang pernah melempar sepatu kepada Bush pada 2008, berkicau di Twitter, “Saya sedih dengan kematian Colin Powell tanpa diadili atas kejahatannya di Irak. Tapi saya yakin pengadilan Tuhan akan menantinya.” 

Warga Irak lainnya, Maryam, memandang Powell tak lebih dari seorang pembohong. “Dia berbohong, dan kamilah yang harus terjebak dalam perang-perang tiada akhir,” ujar Maryam. 

Senada, Suha Mutlak di Mosul berkata, “Dia (Powell) adalah alasan di balik terbunuhnya sepupu-sepupu saya, dan bahwa keluarga saya harus hidup di tenda selama tiga tahun.” 

Oleh karena itu, Mutlak menolak untuk melihat akhir dari misi perang AS di Irak sebagai suatu kemenangan. “Kemenangan macam apa ini? Bukan [kemenangan] buat mereka, apalagi bagi kami.”

Related

History 8188290578946062868

Recent

Hot in week

item