Misteri dan Kisah-kisah Menarik dari Kehidupan Bung Karno (Bagian 2)


Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Misteri dan Kisah-kisah Menarik dari Kehidupan Bung Karno - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Kepercayaan orang bahwa Sukarno memiliki kekuatan mistis juga menjalar ke benda-benda yang dia gunakan, salah satunya tongkat komando. 

Letnan Kolonel Mangil Martowidjojo menceritakan, Sukarno pernah mendapatkan hadiah sebatang tongkat komando dari Presiden Elpio Quirino saat berkunjung ke Filipina. Tongkat komando itu kerap dibawa Sukarno dalam berbagai kunjungan resmi ke daerah maupun luar negeri. 

Belakangan, orang mengatakan tongkat yang dibawa Sukarno memiliki kekuatan gaib, berkhasiat, dan lain-lain. Saat kabar burung tersebut sampai ke telinga Sukarno, dia mengaku heran. 

“Lho ini, kan, cuma dibuat dari kayu biasa, dan juga dibuat oleh manusia biasa yang doyan nasi juga,” kata Komandan Detasemen Kawal Pribadi Resimen Cakrabiwa ini dalam memoarnya, Kesaksian Tentang Bung Karno 1945-1967. 

Kultus yang Memfosilkan Sukarno 

Sukarno menyempurnakan kekuasaannya sejak 1959. Dimulai dengan Dekrit 5 Juli 1959, Sukarno mengakhiri demokrasi liberal dan mengembalikan sistem pemerintahan Indonesia menjadi presidensial yang diperluas menjadi Demokrasi Terpimpin. 

Pada periode inilah Sukarno menjadi penguasa yang nyaris mutlak dan baru berpikir tentang pembagian kekuasaan dalam konteks menjaga keseimbangan antar faksi-faksi: militer atau TNI AD, komunis/PKI dan kalangan Islam. Faksi-faksi itu memang ada, akan tetapi di atas segalanya Sukarnolah yang menjadi primus inter pares. 

Ia menjadi "pemimpin besar revolusi", menjadi "penyambung lidah rakyat" sekaligus "presiden seumur hidup" dan sederet gelar lain yang membuatnya menjadi pemimpin sekaligus penguasa yang hampir absolut. 

Kultus terhadap Sukarno pun jadi tidak terhindarkan. Ditopang oleh kharismanya yang memang dahsyat, juga kemampuannya menyapa rakyat jelata dengan bahasa yang tepat, kultus terhadap Sukarno kemudian menjadi bahan kritikan yang tidak alang kepalang. 

Pasca peristiwa 1 Oktober 1965, yang menjadi awal kejatuhan Sukarno, kritik terhadap kultus kepada Sukarno makin lama makin kencang. Salah satu lawan politik Sukarno, Mochtar Lubis, yang dipenjara oleh Si Bung Besar, menulis tajuk rencana di surat kabar Indonesia Raya yang ia pimpin. 

Ia menulis: "Belum ada seminggu Sukarno meninggal dunia... banyaklah penganut dan pendukungnya di zaman lalu ... menggosok cerana mistik Sukarno yang telah pudar selama ini agar dapat bercahaya berkilauan kembali. Hal ini biasa terjadi dengan pemimpin-pemimpin yang berkaliber besar. Pengikut-pengikut mereka merasa tak cukup besar dan kuat untuk menggantikannya dan merasa perlu untuk memakai nama dan mistiknya." (Tajuk-tajuk Mochtar Lubis di harian Indonesia Raya, Volume 1, hal. 177). 

Sukarno bukannya tidak menyadari kritik-kritik tersebut. Sebelum meninggal pun, ia sudah mengatakan bahwa kultus individu itu memang berbahaya. Namun ia berusaha membedakan mana kultus individu dan mana hero worship. 

Dalam pidato pelantikan Sarino Mangunpranoto sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Sukarno berkata: "Lihat sejarah bangsa-bangsa, bangsa mana pun. Pada waktu bangsa itu menjadi besar, selalu bangsa itu menjalankan hero worship. ... Bacalah misalnya Thomas Carlyle, On Hero and Worship. Di situ Thomas Carlyle menganalisis perikehidupan bangsa-bangsa. Dan Thomas Carlyle selalu bertemu dengan hero personality yang di-worship. 

“Tidak ada satu bangsa menjadi besar jikalau bangsa itu tidak mempunyai hero dan tidak menjalankan hero worship dalam arti yang benar. Bukan worship dalam arti Personal Cultus, bukan worship dalam arti membebek. Tidak." 

Akan tetapi, seiring waktu, bahaya personal cultus yang disebut oleh Sukarno itu memang patut direnungkan. Dari waktu ke waktu, sosok Sukarno mengalami apa yang disebut oleh Ben Anderson sebagai "bahaya pemfosilan". 

Di bagian akhir esai Bung Karno dan Bahaya Pemfosilan, Ben Anderson menulis: "Setelah wafatnya, pemfosilan ini malahan menjadi-jadi dalam suasana penuh bau kemenyan. Kesimpulan ini sama sekali tidak berarti bahwa secara total pandangan-pandangan dan nilai-nilai Bung Karno sudah usang; cuman berarti bahwa pikiran-pikiran itu perlu direnungkan dengan sikap yang kritis (bukan anti), dan berkesadaran historis atas jarak jauh antara masa kini dan masa Bung Karno. 

“Menilai karangan-karangannya Bung Karno sebagai Kitab Suci atau Wejangan Leluhur yang Keramat akan memustahilkan pikiran yang jitu dan mendalam terhadap masalah-masalah Indonesia sekarang ini."

Related

Indonesia 2411892517777899949

Recent

Hot in week

item