Semua Hal yang Perlu Anda Tahu Seputar Happy Hypoxia (Bagian 3)


Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Semua Hal yang Perlu Anda Tahu Seputar Happy Hypoxia - Bagian 2). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Hal apa saja yang perlu diperhatikan pemerintah terkait happy hypoxia?

Dokter Tri Maharani yang pernah terinfeksi Covid-19 menilai langkah pencegahan dan promosi yang dilakukan pemerintah harus diutamakan.

Akan tetapi, pasien Covid-19 dengan gejala ringan pun harus berhati-hati dengan adanya kondisi happy hypoxia. Maka dari itu, pasien harus mendapatkan pemeriksaan rinci lewat laboratorium, seperti rontgen paru-paru, ECG, dan memeriksa seluruh fungsi organ tubuh.

"Happy hypoxia ini sesuatu yang warning merah buat kita," katanya.

"Karena selama ini kita ditanyanya, ada keluhan nggak? Padahal keluhan itu sifatnya subjektif, sedangkan pemeriksaan adalah objektif. Nah, ternyata untuk kondisi covid, kita harus melakukan pemeriksaan yang objektif, supaya bisa diukur dan dipertanggungjawabkan, untuk menunjukkan kondisi pasien itu yang sebenarnya."

Apa kata WHO tentang happy hypoxia?

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan silent hypoxia atau happy hypoxia di dalam panduan sementara penanganan pasien isolasi mandiri di rumah, dan pengelolaan penelusuran kontak mereka.

Di dalam panduan ini, WHO menyebutkan bagi pasien positif Covid-19 yang menjalani isolasi di rumah disarankan untuk dapat mengukur kadar oksigen dalam darah dengan pulsasi oksimeter secara reguler.

"Pulsasi oksimeter dapat mengidentifikasi individu yang membutuhkan evaluasi medis, terapi oksigen atau rawat inap, bahkan sebelum mereka menunjukkan tanda-tanda bahaya klinis atau gejala yang memburuk," kata panduan tersebut.

Rekomendasi WHO ini merujuk pada sebuah penelitian yang melibatkan 1.201 pasien Covid-19 pada 13 - 19 Maret 2020 dengan pengujian kadar oksigen di dalam darah. Data pasien ini dibandingkan dengan pasien non-Covid-19 yang mengalami gangguan pernapasan akut dalam tiga tahun terakhir.

Penelitian menunjukkan, kadar oksigen dalam darah pasien Covid-19, kebanyakan di bawah 90%, atau mengalami hypoxia.

"Pulsasi oksimeter, dapat digunakan sebagai tanda bahaya untuk deteksi dini dari silent hypoxemia pada pasien Covid-19," tulis artikel tersebut.

Apakah covid-19 juga merusak saraf otak sehingga menimbulkan happy hypoxia?

Sejauh ini, kondisi happy hypoxia diyakini kekurangan oksigen dalam darah menyebabkan gangguan pada sensor di otak untuk meresponnya dengan bernapas cepat. Oleh sebab itu, pasien dengan kondisi happy hypoxia tak menyadari dirinya sedang kekurangan oksigen yang bisa berakibat fatal.

Namun, sejumlah peneliti meyakini hal ini justru dimulai dari jaringan otak yang sudah dirusak oleh virus, sehingga respon tubuh atas sistem yang abnormal dianggap wajar.

Penelitian mengenai kerusakan jaringan otak yang disebabkan serangan langsung covid-19 terus dikembangkan.

Sebanyak 300 penelitian dari seluruh dunia telah menemukan sebuah prevalensi kelainan saraf pada pasien covid-19. Penelitian ini termasuk dengan gejala ringan, seperti sakit kepala, kehilangan penciuman (anosmia), dan kesemutan (arcoparasthesia), hingga gejala berat seperti aphasia (ketidakmampuan berbicara), stroke, dan kejang-kejang.

Ini adalah manifestasi dari temuan-temuan baru bahwa umumnya virus menyebabkan penyakit pernapasan, juga dapat merusak ginjal, hati, jantung, dan hampir semua sistem organ dalam tubuh.

Kepala Pusat Penelitian Otak, Pasific Health Sciences University, Prof Taruna Ikrar mengakui penelitian yang mendeteksi adanya virus pada jaringan otak.

Ia menganalogikan virus corona adalah anak kunci, dan sel-sel tubuh manusia termasuk pada jaringan otak adalah lubang kuncinya. Sehingga virus sangat leluasa masuk ke seluruh sel jaringan tubuh manusia.

Virus dapat masuk ke jaringan otak melalui sel yang terinfeksi di saluran pernapasan, pencernaan, mata, ginjal hingga ke otak.

"Ketika inflamasi, otak ini butuh waktu untuk recovery, sehingga pada umumnya kalau dia mengalami infeksi, yang berakibat pada infeksi pada sistem saraf kita, itu fatal. Apalagi kalau dia terinfeksi pada bagian batang otak, itu luar biasa mengerikan," kata Taruna Ikrar.

Prof Taruna menambahkan, pada bagian batang otak inilah, seluruh indera manusia dikendalikan.

"Semua sistem organ kita terkoneksi, kan penglihatan, pendengaran, termasuk penting pernapasan, jantung, koneksi kayak stop kontak itu di batang otak. Bayangin kalau dia menyerang batang otak, semua stop kontak yang terkontak ke situ mengalami kegagalan," katanya.

Pada kasus-kasus tertentu di Jepang, misalnya, seorang pasien Covid-19 berusia 24 tahun ditemukan terkapar sebelum akhirnya dilarikan ke rumah sakit. Hasil pindai MRI otak pasien ini menunjukkan tanda-tanda radang otak yang disebabkan virus.

Kasus lain terdapat di China, ditemukan virus pada cairan cerebrospinal di otak seorang pasien berusia 56 tahun yang menyebabkan radang otak. Lalu, pada pemeriksaan postmortem pasien Covid-19 di Italia, peneliti menemukan partikel virus di sel endotel yang melapisi pembuluh darah otak.

Sejauh ini, pemeriksaan kesehatan di Indonesia masih menangkap gejala-gejala yang nampak dari pasien Covid-19 seperti batuk, demam, sesak napas, pilek hingga diare. Namun, penelitian dan pemeriksaan kerusakan jaringan otak akibat virus belum banyak dilakukan dan sulit untuk dideteksi.

Related

Health 4220801513780413104

Recent

item