Mengenang Hasan Minhaj dan Patriot Act yang Pernah Menghiasi Layar Netflix (Bagian 2)


Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Mengenang Hasan Minhaj dan Patriot Act yang Pernah Menghiasi Layar Netflix - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

The Guardian juga pernah menulis, Hasan punya perspektif dan latar belakang yang beda. Ini jadi senjatanya dalam melontarkan komentar-komentar yang kritis terhadap kekuasaan.

Sebagai tambahan, Patriot Act sendiri adalah Undang-undang yang diteken Presiden Bush pada 26 Oktober 2001. USA PATRIOT merupakan singkatan dari Uniting and Strengthening America by Providing Appropriate Tools Required to Intercept and Obstruct Terrorism. 

Hasan memang tak pernah menyebut secara langsung mengapa acaranya dinamai Patriot Act. Namun, ia pernah menyinggung di Homecoming King tentang bagaimana imigran di AS, termasuk keluarga Hasan, bertahan dan dituntut untuk terus menunjukkan loyalitas simbolik ke negara dalam iklim masyarakat yang rasis pasca-peristiwa 9/11.

Patriot Act patut dirayakan karena akhirnya kita punya pelawak muslim keturunan India yang membongkar isu-isu serius dengan sangat memikat. Ia bicara soal “lota” pada episode-episode awal. Aduh, orang Amerika mana yang tahu apa itu lota. Hanya saja Hasan yang tak segan-segan menjelaskan bahwa lota adalah bidet yang digunakan untuk cuci tangan di India.

Di satu episode, ada Anna Kendrick jadi gimmick dan bicara soal meditasi. Di episode lainnya, Hasan bercengkrama dengan Alexandria Ocasio-Cortez (AOC), soal aturan “winner takes all” yang membatasi pilihan-pilihan publik AS dalam pemilu.

Juga jangan lupa ketika Hasan hampir membuat kita percaya bahwa Justin Trudeau bisa menyanyi lagu-lagu daerah Afghanistan. Ia bahkan merasakan tensi seksual antara dirinya dan Bernie Sanders ketika sedang ngobrol soal kampanye capres sosialis itu.

Coba sebutkan alasan untuk tidak menyukai Patriot Act? Tentu itu semua jadi tak berarti jika bukan Hasan aktor sentralnya. Hasan membagi emosinya pada kita semua. Ketika kesal, ia ikut mengutuk. Ketika sedih, kita bisa lihat dari wajahnya. Lawakan Hasan juga lebih relevan karena ada penonton, dan bukan cuma tawa palsu alias canned laughter.

Barangkali kita tak akan percaya pelawak punya kapasitas untuk membawakan isu-isu seperti itu hingga Hasan Minhaj.

Sebenarnya bukan cuma Patriot Act, masih banyak program sejenis yang belum beruntung di Netflix. Pada Oktober 2017, Netflix tidak melanjutkan talk show Chelsea Handler, Chelsea, setelah dua musim. Sementara pada Agustus 2018, giliran The Break milik Michelle Wolf dan The Joel McHale Show With Joel McHale yang tidak dilanjutkan.

Hanya saja, tidak melanjutkan program yang telah memenangkan Emmy, Peabody, dan dua Webby Awards adalah keputusan yang disesalkan. Mengingat delapan episode yang rilis selama lockdown yang dieksekusi dengan detail dan riset mendalam. 

Hasan membuka musim keenam yang sekaligus jadi musim penutup tersebut dengan “How Coronavirus Broke America” dan memaparkan bagaimana kebijakan-kebijakan Trump malah memperburuk masalah yang sudah ada.

Ia juga bicara soal kematian George Floyd dan industri surat kabar lokal yang nyaris mati. Tapi, episode “We’re Doing Elections Wrong” dan diskusi dengan AOC soal kubu progresif dan moderat di Partai Demokrat tentu jadi yang terbaik. Episode “Why Doing Taxes Is So Hard” jadi yang terakhir mengudara.

Mungkin bakal muncul pertanyaan, apakah Hasan atau Patriot Act yang patut dirindukan? Bagaimana mungkin memisahkan keduanya ketika mereka adalah satu paket? Format show seperti Patriot Act bisa saja ditiru oleh acara lainnya, tapi apakah ada jaminan akan lebih baik jika bukan Hasan yang membawakan?

Related

Entertainment 6740686165256760348

Recent

item