Begini Cara Keluarga di Arab Saudi Merayakan Idul Fitri

Begini Cara Keluarga di Arab Saudi Merayakan Idul Fitri

Naviri Magazine - Umat muslim sedunia merayakan Idul Fitri setiap tahun, setelah sebulan berpuasa di bulan Ramadan. Layaknya hari raya, Idul Fitri pun dirayakan dengan berbagai kesenangan, dari makanan dan minuman, sampai pakaian dan aneka perlengkapan. Dalam hal itu, ada berbagai budaya yang kemudian tumbuh di masing-masing tempat, yang melengkapi perayaan Idul Fitri.

Di Indonesia, misalnya, Idul Fitri kerap dijadikan sebagai waktu untuk berkumpul dengan sanak saudara, mudik, bermaaf-maafan, dan semacamnya. Bagaimana dengan luar negeri? Mereka juga memiliki budaya dan kebiasaan sendiri. Begitu pula dengan di Arab Saudi. 

Terkait hal tersebut, berikut ini cara orang Arab Saudi merayakan Idul Fitri.

Mengutip laman Al Arabiya English, ada berbagai tradisi lebaran dari daerah ke daerah di Timur Tengah, mulai dari UAE, Oman, sampai Arab Saudi. Tapi ada satu kesamaan yang pasti, yaitu soal menghabiskan waktu bersama keluarga dan kerabat, berbagi makanan, bertukar bingkisan, dan memanjatkan doa syukur. 

Biasanya, sebelum Hari Raya Lebaran, ada persiapan yang mirip kebanyakan keluarga di Indonesia. Di antaranya, pada beberapa hari terakhir Ramadhan, seluruh anggota keluarga akan pergi untuk belanja baju baru. 

Mengenakan pakaian baru seperti simbol terlahir kembali di hari yang fitri. Tentu saja, hal ini akan sangat menyenangkan buat anak hingga remaja, sebab biasanya mereka bisa memilih sendiri baju baru yang diinginkannya.

Sedangkan bagi orang dewasa perempuan, mereka akan menghiasi tangan dan kaki dengan henna. Sementara para pria akan mencukur rambut dan kumisnya.

Kondisi rumah dan mobil pun tak luput dari perhatian. Kebersihan menjadi salah satu faktor yang wajib diperhatikan. Maka tak heran kalau ada antrean panjang mobil di tempat cuci mobil sejak sore hari sebelum Idul Fitri. Maklum, momen Idul Fitri jadi ajang berkumpulnya keluarga dan kerabat, jangan sampai membuat tamu merasa tidak nyaman.

Hari lebaran dimulai dengan shalat subuh, kemudian sarapan bersama dengan kopi atau teh, dengan biskuit manis Arab.

Kira-kira sekitar pukul 6.30 pagi, seluruh anggota keluarga bergegas ke masjid untuk shalat Ied. Sehabis shalat, mereka bersalam-salaman satu sama lain, dan tak jarang ada pemandangan anak-anak kecil membawa tas penuh permen, untuk dibagi-bagikan ke setiap orang yang mereka temui.

Setelah shalat dan bersalam-salaman, semua orang bergegas kembali ke rumah, bersiap menyantap menu lezat yang dihidangkan. 

Mereka biasanya menyediakan berbagai menu dari daging, khususnya daging domba. Misalnya diolah menjadi kebab panggang. Biryani pun tak luput dihidangkan, yaitu nasi yang dimasak dengan rempah-rempah, sayur, dan daging. 

Ada waktu yang paling ditunggu-tunggu si kecil, yaitu berbaris rapi untuk mendapat 'Eideya', yaitu amplop berisi uang dari orang dewasa. Tapi bukan hanya uang, ada juga yang memberikan mainan sebagai alternatif memberikan uang. 

Tentu saja Eideya tak akan bertahan lama. Anak-anak segera membelanjakan uang mereka sesegera mungkin, dengan berbagai camilan di toko-toko. Biasanya, kalau sudah begitu, mereka akan mendapat hadiah tambahan dari para penjaga toko, seperti memberikan hadiah pada tiap pembelian pertama. 

Aksi sosial

Berbagai kegiatan sosial tidak berhenti sampai di penghujung Ramadhan. Selama momen Lebaran pun, ada pemandangan aksi sosial dari keluarga mampu kepada mereka yang membutuhkan. Yaitu dengan memberikan parsel Lebaran berisi beras, gula, minyak, dan lainnya, dan ditinggalkan tanpa nama, pada pintu di rumah-rumah orang yang membutuhkan. 

Kemudian si penerima akan memasak dalam jumlah besar, dan menghidangkan makanan di luar rumah mereka. Siapapun boleh mengambilnya secara gratis!

Related

Moslem World 7727842903990543620

Recent

item