Seribu Tahun Sebelum Darwin, Ilmuwan Muslim Sudah Menulis Teori Evolusi (Bagian 2)

Seribu Tahun Sebelum Darwin, Ilmuwan Muslim Sudah Menulis Teori Evolusi

Naviri Magazine - Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Seribu Tahun Sebelum Darwin, Ilmuwan Muslim Sudah Menulis Teori Evolusi - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik dan urutan lebih lengkap, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

“Al-Jahiz secara spesifik menyebut seleksi alam adalah proses dari keinginan makhluk untuk bertahan hidup. Dia juga menjelaskan kesiapan fisik dan perubahan fungsi tubuh organisme akan mendukung ambisi tersebut,” kata Diogo. “Al-Jahiz sekaligus menyimpulkan bila dalam spesies yang sama, makhluk yang lebih sehat dan kuat lebih berpeluang bertahan dibanding sejawatnya yang lemah, lalu mewariskan keturunan yang juga mampu hidup di kondisi berat.”

Gagasan evolusi, yang seringkali diserang kaum religius karena dianggap menyamakan manusia dengan binatang lain, bahkan ditulis secara spesifik oleh Abu Alraihan Muhammad Ibnu Ahmad Al-Beruni, 800 tahun sebelum Darwin membuat kesimpulan serupa.

Alraihan menyatakan, manusia “hijrah” dari kerajaan fauna lalu mencapai kondisi yang lebih sempurna di muka bumi sebagai makhluk yang memiliki akal. Alraihan meyakini primata seperti kera merupakan salah satu proses hijrah sebelum manusia menjadi spesies unggul.

Ilmuwan muslim tenar lainnya, Ibnu Khaldun, yang berkarya di Afrika Utara sepanjang abad 14, turut menuliskan proses perubahan gradual tiap spesies, termasuk manusia, agar sesuai dengan proses seleksi alam. 

Khaldun juga menyinggung bahwa perbedaan ras sebagai efek dari adaptasi manusia terhadap lingkungan tinggalnya selama berabad-abad, yang kemudian diwariskan lewat proses genetik. Khaldun memakai argumentasi ini untuk menolak rasisme.

“Kulit hitam bukan tanda seorang manusia berdosa,” tulis Khaldun, seperti dikutip Diogo. “Kulit semacam itu adalah kausalitas dari iklim yang panas di wilayah selatan benua ini, sehingga pigmen meresponsnya menjadi lebih hitam agar manusia lebih tahan beraktivitas di alam bebas.”

Para ilmuwan muslim tersebut juga meyakini evolusi tidak bertentangan dengan iman. Ibnu Miskawayh, filsuf muslim asal Persia yang hidup pada abad 10, menulis kalau bukti di alam menunjukkan manusia berkembang dari makhluk lain yang lebih sederhana. Tapi berkat Allah, manusia menjadi satu-satunya yang memiliki akal dan budi pekerti.

Pemikiran para ilmuwan muslim itu sudah pasti beredar luas, menjadi perbincangan, dan kelak menginspirasi pemikir-pemikir Eropa sebelum Darwin. Bahkan Darwin secara tegas mengaku terinspirasi mendalami evolusi karena membaca karya-karya pakar botani Joseph Dalton Hooker, geolog Charles Lyell, dan kakeknya sendiri, Erasmus Darwin

“Kadang orang komentar, ‘tapi kan teori ilmuwan muslim berbeda dari Darwin’. Ya memang beda. Kajian saya tidak berusaha bilang yang dipikirkan Darwin sudah dipikirkan orang Islam, bukan seperti itu,” kata Diogo. 

“Tapi saya mau bilang, gagasan para filsuf dan pemikir dari peradaban Islam ini jelas masuk kategori teori evolusi. Sebagian dari mereka tegas menulis kalau manusia dan kera berasal dari garis keturunan yang sama. Jadi dimensi kajiannya tentu layak disebut masuk teori evolusi.”

“Darwin sepanjang yang saya tahu tidak pernah mengenal pemikiran Jahiz dari catatan pribadinya, jadi tidak mungkin ada pencurian ide atau plagiasi gagasan,” kata Rebecca Stott, yang menulis buku Darwin's Ghosts. “Namun saya yakin, andai Darwin berkesempatan membaca buku Jahiz, dia akan menyetujui beberapa kesimpulannya.”

Peradaban Islam di masa keemasan, terutama saat Dinasti Abbasiyah berkuasa di Irak, disebut-sebut berjasa besar memuluskan transisi peradaban barat menuju masa modern. Sebab karya-karya pemikir Islam dari era tersebut merawat filsafat Yunani serta pengetahuan Romawi Kuno, ketika di abad yang sama, Eropa sedang berada dalam keterpurukan.

Sebagian ilmuwan modern berhati-hati memasukkan pemikiran ulama muslim masa lalu dalam kurikulum ilmiah. Alasannya karena mereka masih mempertimbangkan keterlibatan Tuhan dalam setiap peristiwa alam, sehingga tulisan-tulisan tersebut lebih pas disebut kajian agama, atau spekulasi mistik.

Namun, Diogo atau Hameed meyakini kalau sudut pandang itu bisa didamaikan. Sebab ilmuwan manapun pasti pernah pada satu titik mempertimbangkan agama. Darwin sendiri ketika mencetuskan teori evolusi juga sempat bimbang memikirkan dampak teorinya pada keyakinan agama.

Pemikiran itu tergambar dalam suratnya pada 1879 pada seorang kolega. “Saya tidak pernah merasa diri ini atheis, dalam arti menyangkal keberadaan Tuhan. Saya mungkin lebih tepat tidak memikirkan esensi ketuhanan saat membahas fenomena alam, sehingga saya lebih nyaman disebut agnostik,” tulis Darwin.

Ilmuwan Barat lain yang legendaris, seperti Isaac Newton, bahkan jelas-jelas pribadi yang religius. Dalam korespondensinya di surat pada rekan sejawat, Newton menegaskan kalau Tuhan berperan besar dalam penempatan planet-planet dengan menempatkan sistem gravitasi.

Hameed menyatakan, istilah dan definisi ‘ilmuwan’ baru muncul pada abad 19. Sebelum era itu, laku Darwin atau Newton masuk kategori kerja-kerja filsuf atau sejarawan hukum alam.

“Sehingga, saya pikir tidak bijak bila kita mengabaikan kajian pemikir sebelum abad 19, hanya karena mereka terpengaruh pandangan agama. Tidak adil rasanya karena berarti kita harus mengabaikan kontribusi para pemikir abad pertengahan dari ilmu modern,” kata Hameed.

Di kalangan akademisi muslim sendiri, mulai muncul renungan mengapa teori Darwin sering ditolak oleh ulama. Lewat esainya di jurnal Nature, guru besar Universitas Yordania, Rana Dajani, menyatakan penolakan kalangan muslim terhadap teori evolusi baru muncul secara agresif pada abad 20.

Sebab, teori Darwin dipakai negara-negara Barat menjustifikasi penjajahan. “Ada asosiasi kuat mulai awal 1900-an, yang mengaitkan teori Darwin dengan kolonialisme, imperialisme, atheisme, serta rasisme,” tulis Dajani. 

Namun, dari penelusurannya, cukup banyak ilmuwan muslim sejak abad pertengahan yang menyinggung teori seleksi alam.

Higham sendiri mengaku keputusannya memasukkan nama-nama ilmuwan muslim dalam kurikulum kampusnya adalah cara untuk mengajak mahasiswa menyadari bila perkembangan pengetahuan senantiasa terjadi secara gradual, dalam waktu yang panjang. 

“Prosesnya juga melibatkan banyak individu dari wilayah berbeda di seluruh dunia,” tandasnya. “Sebab dengan begitu, kita menyadari siapapun bisa berkontribusi pada pengetahuan, tak peduli dari mana dia berasal.”

Related

Science 5104217021910977800

Recent

item