40 Misi Operasi Bendera Palsu yang Tercatat Sejarah (Bagian 1)

40 Misi Operasi Bendera Palsu yang Tercatat Sejarah

Operasi Bendera Palsu, atau False Flag Operation, adalah “serangan” operasi intelijen rahasia tingkat tinggi, untuk “mengambinghitamkan” suatu kasus dengan tujuan agar masyarakat mempercayai apa yang telah pemerintah lakukan, dan apa yang telah mereka katakan.

Misalnya, “False Flag Terrorism” atau “Terorisme Bendera Palsu” didefinisikan sebagai pemerintah yang menyerang rakyatnya sendiri, kemudian menyalahkan orang lain untuk membenarkan peperangan melawan orang-orang yang telah dituduh salah tersebut. 

Wikipedia mendefinisikan: Operasi Bendera Palsu atau False Flag Operation adalah operasi rahasia yang dilakukan pemerintah, perusahaan atau organisasi, yang dirancang untuk muncul seolah-olah hal itu sedang dilakukan oleh entitas lain.

Sebutan ini berasal dari konsep militer yang mengibarkan warna bendera yang palsu atau salah, yaitu mengibarkan bendera negara lain dan bukan benderanya sendiri. Operasi Bendera Palsu tidak terbatas pada operasi perang dan operasi kontra-pemberontakan (counter-insurgency operations), namun juga digunakan pada masa damai, misalnya selama strategi ketegangan di Italia.

Istilah ini berasal dari kapal-kapal perang kayu di masa lalu, ketika salah satu kapal perang itu justru mengibarkan bendera musuhnya, sebelum menyerang kapal lain dari pihak musuh mereka.

Jadi, yang dikibarkan dari kapal yang ikut menyerang adalah justru bendera musuhnya, dan bukan bendera negara yang sebenarnya. Bendera musuh itu digantung dan dikibarkan, dan hal itu mengecoh lawan. Maka, sejak itu, taktik tersebut dikenal sebagai “Serangan Bendera Palsu” atau “False Flag Attack”.

Konsep ini diterima dengan baik, dan hal itu digunakan juga untuk Angkatan Laut, Angkatan Udara, Angkatan Darat, ataupun peperangan di darat. Namun, pada masa itu, semua pihak melarang Serangan Bendera Palsu atau False Flag Attack.

Walaupun mungkin ada ratusan, namun paling tidak sudah ada 42 kasus Serangan Operasi Bendera Palsu atau False Flag Operation Attack yang diakui oleh pemerintah seantero dunia.

Ada banyak dokumentasi serangan Bendera Palsu, dimana pemerintah melakukan serangan teror, kemudian menyalahkan musuhnya untuk tujuan politik.

Dalam 42 kasus berikut, pejabat di pemerintahan yang melakukan serangan itu (atau secara serius mengusulkan serangan) telah mengakui hal itu, baik secara lisan maupun tertulis. Berikut di antara Operasi Bendera Palsu atau False Flag Operation dari seluruh dunia:

1. Insiden Mukden (Mukden Incident)

Mukden Incident, atau disebut di Jepang sebagai Insiden Manchuria atau Manchurian Incident, pada 18 September 1931, adalah insiden yang terjadi di Manchuria selatan, ketika jalur kereta api yang dimiliki Jepang, di dekat Mukden (kini Shenyang), dibom oleh opsir junior Jepang.

Tentara Jepang memicu ledakan kecil di jalur kereta api pada tahun 1931, dan secara palsu menyalahkan hal itu kepada China, untuk membenarkan invasi Manchuria. Hal ini dikenal sebagai “Insiden Mukden” (Mukden Incident) atau “Insiden Manchuria” (Manchurian Incident). 

Tokyo International Military Tribunal menemukan bahwa Mukden Incident telah direncanakan:

“Beberapa partisipan dalam rencana itu, termasuk Kolonel Kingoro Hashimoto (seorang perwira tinggi tentara Jepang), memiliki berbagai pengakuan bahwa itu semua adalah bagian misi mereka dalam plot, dan telah menyatakan bahwa tujuan ‘insiden’ itu agar mereka mampu membuat alasan untuk pendudukan Manchuria oleh Tentara Kwantung…” lalu Kolonel Kingoro Hashimoto masuk dalam Tokyo War Crimes Trial.

2. Insiden Gleiwitz (The Gleiwitz incident)

Insiden Gleiwitz adalah serangan rahasia Nazi Jerman di stasiun radio Jerman, Sender Gleiwitz (saat ini Gliwice, Polandia), pada malam 31 Agustus 1939.

Sebuah agenda besar dengan pasukan SS Nazi diakui, bahwa di pengadilan Nuremberg, yang berada di bawah perintah dari jenderal Gestapo, ia dan beberapa operasi Nazi lainnya telah memalsukan serangan Polandia terhadap rakyat mereka sendiri dan sumber daya yang mereka miliki, dengan menyalahkan Polandia.

Hal itu dilakukan untuk membenarkan invasi Jerman ke Polandia, yang kemudian dikenal sebagai The Gleiwitz Incident atau dalam bahasa Jerman sebagai Überfall auf den Sender Gleiwitz; dan oleh Polandia disebut Prowokacja gliwicka.

3. Insiden Kebakaran Reichstag (The Reichstag Fire Incident)

Insiden Kebakaran Reichstag adalah peristiwa penting selama masa Jerman Nazi. Terjadi pada pukul 21:15 di malam 27 Februari 1933, kantor pemadam kebakaran di Berlin menerima panggilan alarm, bahwa Gedung Reichstag, lokasi majelis Parlemen Jerman, dibakar.

Di luar ruangan, ditemukan Marinus van der Lubbe, seorang pengacau dari Belanda, anggota dewan komunis, dan tukang batu pengangguran, yang saat itu tiba di Jerman, mengusung kegiatan politik.

Kebakaran itu digunakan sebagai bukti bahwa komunis memulai plot terhadap pemerintah Jerman. Sebagai akibatnya, 4.000 komunis ditangkap. Kanselir saat itu, Adolf Hitler, mendesak Presiden Paul von Hindenburg menggolkan dekrit untuk menghadapi “konfrontasi bengis terhadap KDP”.

Jenderal Nazi, Franz Halder, juga bersaksi di pengadilan Nuremberg, mengakui bahwa pemimpin Nazi, Hermann Goering, mengaku telah membakar gedung parlemen Jerman pada tahun 1933, dan kemudian secara palsu menyalahkan kaum komunis terhadap pembakaran itu, yang dikenal sebagai Possible responsibility for the Reichstag Fire.

4. Pemberondongan Mainila (Shelling of Mainila)

The Shelling of Mainila (Mainilan Laukaukset) atau “memberondong Mainila” adalah insiden militer pada 26 November 1939, dimana Tentara Merah Uni Soviet menembaki desa Rusia, bernama Mainila (terletak dekat Beloostrov), dan menyatakan bahwa tembakan berasal dari Finlandia di perbatasan terdekat, dan diklaim telah kehilangan banyak personil.

Melalui operasi itu, Uni Soviet memperoleh dorongan propaganda besar untuk meluncurkan Perang Musim Dingin (Winter War) empat hari kemudian.

Pemimpin Soviet, Nikita Khrushchev, mengakui secara tertulis bahwa Tentara Merah Uni Soviet (Soviet Union’s Red Army) membombardir desa Rusia, Mainila, pada tahun 1939, sementara mereka menyalahkan serangan itu terhadap Finlandia, sebagai dasar untuk meluncurkan “Perang Musim Dingin” (Winter War) untuk melawan Finlandia. 

Presiden Rusia, Boris Yeltsin, sepakat bahwa Rusia telah menjadi agresor dalam Perang Musim Dingin itu.

5. Pembantaian di Hutan Katyn (The Katyn Massacre)

Katyn Massacre atau Pembantaian Katyn, juga dikenal sebagai “Pembantaian Hutan Katyn”, adalah pembunuhan massal yang dilakukan terhadap bangsa Polandia oleh polisi rahasia Soviet, NKVD, pada April-Mei 1940.

Pembantaian ini dilakukan atas proposal Lavrentiy Beria untuk mengeksekusi semua anggota Korps Perwira Polandia, tertanggal 5 Maret 1940.

Parlemen Rusia dan Presiden Rusia, Vladimir Putin, serta mantan pemimpin Soviet Mikhail Gorbachev, mengakui bahwa pemimpin Soviet, Joseph Stalin, memerintahkan polisi rahasia dalam operasi “bendera palsu” untuk mengeksekusi 22.000 perwira militer Polandia dan warga sipil pada tahun 1940, dan pembunuhan massal itu, oleh Soviet, digunakan untuk menyalahkan Nazi Jerman.

6. Operasi Memalukan (Operation Embarrass)

Operation Embarrass atau “Operasi Memalukan” adalah operasi “bendera palsu” yang dilakukan oleh badan intelijen Inggris, MI6, yaitu pengeboman pura-pura atau bohong,  untuk mencoba membendung imigrasi Yahudi ke Palestina.

Pemerintah Inggris mengakui, antara tahun 1946 dan 1948 mereka telah membombardir 5 kapal yang mengangkut orang-orang Yahudi yang berusaha melarikan diri dari Holocaust untuk mencari keselamatan di Palestina.

Mereka membentuk sebuah kelompok fiktif dan palsu, yaitu “Pembela Arab Palestina” (Defenders of Arab Palestine), dan kemudian “pseudo-group” atau grup fiktif dan palsu itu disalahkan, dan mengklaim bertanggung jawab atas pemboman itu.

Baca lanjutannya: 40 Misi Operasi Bendera Palsu yang Tercatat Sejarah (Bagian 2)

Related

History 3988683083169303482

Recent

item