40 Misi Operasi Bendera Palsu yang Tercatat Sejarah (Bagian 2)

40 Misi Operasi Bendera Palsu yang Tercatat Sejarah

Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (40 Misi Operasi Bendera Palsu yang Tercatat Sejarah - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik dan urutan lebih lengkap, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

7. Intelijen Militer Israel di Mesir (Israel Military Intelligence in Egypt)

Operasi bendera palsu oleh intelijen militer Israel membom Mesir. Israel mengakui bahwa pada tahun 1954, sebuah sel teroris Israel yang beroperasi di Mesir menanam bom di beberapa bangunan, termasuk pada fasilitas diplomatik AS, kemudian “meninggalkan bukti” yang melibatkan orang-orang Arab sebagai penyebabnya.

Salah satu bom meledak sebelum waktunya, sehingga pihak Mesir dapat mengidentifikasi pelaku pemboman, dan beberapa dari pihak Israel kemudian mengakuinya.

8. Agen Intelijen CIA di Iran (The CIA in Iran)

Badan intelijen Amerika Serikat, Central Intelligence Agency atau CIA, melakukan operasi bendera palsu dan melakukan pemboman di Iran.

CIA mengakui bahwa mereka telah menyewa warga Iran di tahun 1950-an untuk mengaku sebagai komunis, dan melakukan pemboman di Iran untuk mengubah opini masyarakat di negara itu terhadap Perdana Menteri yang sah dan telah terpilih secara demokratis.

9. Yunani Mengebom Konsulat Turki (Greek Bombing Attack on the Turkish Consulate)

Serangan bom di Yunani pada 5 September 1955 adalah operasi bendera palsu yang dilakukan oleh Turki, yang justru melakukan serangan bom di konsulat Turki sendiri yang berada di Athena, Yunani.

Hal ini menjadi pemicu kerusuhan terburuk sepanjang sejarah di Turki, yang dikenal sebagai “Istanbul Pogrom” (Pogrom Istanbul) atau Istanbul Riots (Kerusuhan Istanbul) atau dalam bahasa Turki: 6–7 Eylül Olaylari atau “Peristiwa 6-7 September”. Yaitu serangan massa terorganisir terhadap minoritas Yunani di kota Istanbul pada 6–7 September 1955.

Kerusuhan ini didalangi oleh Kelompok Mobilisasi Taktis (Tactical Mobilisation Group), pusat dari cabang Turki, dalam Operasi Gladio (Operation Gladio), Kontra-Gerilya (Counter-Guerrilla), dan Layanan Keamanan Nasional (National Security Service), sebagai pendahulu dari Organisasi Intelijen Nasional (National Intelligence Organisation) pada masa kini.

Operation Gladio (Operasi Gladio) adalah nama sandi untuk operasi rahasia yang dibuat oleh NATO (North Atlantic Treaty Organization) di Eropa secara diam-diam selama Perang Dingin (Cold War).

Sasaran warga Turki adalah menghancurkan properti pribadi warga Turki keturunan Yunani, Gereja Orthodox, dan Pemakaman Yunani di sekitar kota Istanbul. Mereka juga memperkosa wanita keturunan Yunani, bahkan membunuh warga Turki keturunan Yunani hingga ribuan jiwa. Dari sensus tahun 1927, keturunan Yunani di Istanbul yang tadinya 119.822 jiwa, turun drastis hingga hanya sekitar 7.000 pada tahun 1978.

Peristiwa ini dipicu oleh kabar palsu bahwa konsulat Turki di Thessaloniki, Yunani utara—rumah di mana Mustafa Kemal Atatürk dilahirkan pada 1881—telah dibom sehari sebelumnya.

Sebuah bom dipasang oleh seorang Turki di konsulat tersebut, yang kemudian ditahan dan mengaku telah menghasut peristiwa tersebut. Pers Turki bungkam terkait penangkapan itu, dan lebih memilih untuk menyampaikan bahwa orang Yunani telah meledakkan bom tersebut.

Perdana Menteri Turki mengakui bahwa pemerintah Turki telah melakukan pemboman pada tahun 1955 di konsulat Turki di Yunani, yang juga merusak tempat kelahiran pendiri Turki modern, karena lokasinya yang sangat dekat, dan menyalahkan tragedi itu pada Yunani dengan tujuan untuk menghasut dan membenarkan aksi Kekerasan Anti-Yunani (anti-Greek violence), yang dikenal sebagai Istanbul Pogrom tersebut.

10. AS dan Inggris Menggulingkan Pemerintah Syria (U.S. and Britain Topple Syrian Government)

AS dan Inggris telah menggunakan ekstremis Islam untuk menggulingkan Pemerintah Suriah (Syiria), bukan dalam tahun-tahun ini, tapi operasi bendera palsu ini sudah terjadi sejak tahun 1957 silam.

Perdana Menteri Inggris mengakui bahwa ia dan Menteri Pertahanan serta Presiden Amerika, Dwight Eisenhower, telah menyetujui rencana pada tahun 1957 untuk melakukan serangan di Suriah, dan menyalahkan pemerintah Suriah sebagai cara untuk mempengaruhi perubahan rezim di Suriah.

11. Teroris Hentikan Bangkitnya Sayap Kiri (Terrorists to Stop Rise of Left)

Mantan kepala kontra-intelijen Italia mengakui bahwa NATO, dengan bantuan Pentagon dan CIA, telah melakukan teror bom di Italia dan serangan teror di Perancis, Belgia, Denmark, Jerman, Yunani, Belanda, Norwegia, Portugal, Inggris, dan negara-negara lainnya, untuk mengambinghitamkan komunis.

Teroris dibantu Badan intelijen AS, CIA, menghentikan kebangkitan sayap-kiri di Italia, Prancis, Belgia, Denmark, Jerman, Yunani, Belanda, Norwegia, Portugal, Inggris, dan negara lain pada tahun 1950-an.

Mantan Perdana Menteri Italia, seorang hakim Italia, dan mantan kepala kontra-intelijen Italia, mengakui bahwa NATO dengan bantuan Pentagon dan CIA, telah melakukan teror bom di Italia dan negara-negara Eropa lainnya pada tahun 1950-an, dan menyalahkan komunis, dalam rangka menggalang dukungan dari rakyat bagi pemerintah mereka di Eropa, untuk mendukung perjuangan melawan komunisme. 

Salah satu oknum dalam program rahasia ini menyatakan, “Anda harus menyerang warga sipil, pria, perempuan, anak-anak, orang yang tidak bersalah, orang tak dikenal, untuk menjauh dari permainan politik. Alasannya cukup sederhana. Mereka seharusnya memaksa orang-orang, masyarakat Italia, agar berpaling ke negaranya, untuk meminta jaminan keamanan yang lebih besar.”

Italia dan negara-negara Eropa lainnya yang tunduk pada kampanye teror palsu ini telah bergabung ke NATO sebelum pengeboman terjadi. Dan mereka disarankan menonton program BBC untuk acara khusus itu. Mereka juga diduga melakukan serangan teror di Perancis, Belgia, Denmark, Jerman, Yunani, Belanda, Norwegia, Portugal, Inggris, dan negara-negara lainnya, untuk mengambinghitamkan komunis.

12. Usaha Pembunuhan Fidel Castro (Killing Fidel Castro)

Amerika Serikat menggunakan operasi bendera palsu (false flag operation) untuk membunuh pemimpin Kuba, Fidel Castro. 

Pada tahun 1960, Senator AS, George Smathers, menyatakan, “Amerika Serikat meluncurkan serangan palsu di Teluk Guantanamo, yang akan memberi kita alasan untuk memulai peperangan atau menggerakkan pertempuran, yang kemudian akan memberi kita alasan untuk masuk ke Kuba dan menggulingkan Fidel Castro.”

13. Operasi Northwoods I (Operation Northwoods I)

Para Kepala Gabungan (Joint Chiefs) dan pejabat tingkat tinggi Amerika Serikat lainnya membahas “operasi bendera palsu” dan akan meledakkan konsulat di Republik Dominika melalui Operasi Northwoods, yaitu operasi intelijen yang sebenarnya akan melakukan serangan teroris di Amerika Serikat, dan kemudian membuat seolah Kuba pelakunya, namun konsulat AS di Dominika juga akan dibom oleh CIA, agar dapat menarik Dominika untuk membantu AS dan membuat pangkalan militer di sana.

Dokumen Departemen Luar Negeri resmi menunjukkan bahwa pada tahun 1961, Kepala Staf Gabungan dan pejabat tinggi lain juga membahas untuk meledakkan konsulat mereka di Republik Dominika, untuk membenarkan invasi ke negara itu. Rencana itu tidak dilakukan, tapi mereka semua membahasnya sebagai proposal yang serius.

14. Operasi Northwoods II (Operation Northwoods II)

Militer AS ingin melakukan “operasi bendera palsu” dengan cara memprovokasi perang dengan Kuba melalui Operasi Northwoods. Operasi Northwoods adalah sebuah operasi intelijen yang diusulkan pada tahun 1962 oleh Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat.

Menurut usulan tersebut, badan intelijen AS, Central Intelligence Agency (CIA), atau agen pemerintah lainnya, akan melakukan serangan teroris di Amerika Serikat, dan kemudian membuat seolah Kuba adalah pelakunya.

Seperti diakui oleh pemerintah AS, dokumen yang baru dibuka untuk publik menunjukkan bahwa pada tahun 1962, Gabungan Kepala Staf Amerika menandatangani rencana untuk meledakkan pesawat Amerika, dengan menggunakan rencana rumit yang melibatkan switching pesawat. Dan juga untuk melakukan serangan teroris di tanah Amerika sendiri, dan kemudian menyalahkan Kuba untuk membenarkan invasi terhadap Kuba.

Baca lanjutannya: 40 Misi Operasi Bendera Palsu yang Tercatat Sejarah (Bagian 3)

Related

History 6238119639447662482

Recent

item