40 Misi Operasi Bendera Palsu yang Tercatat Sejarah (Bagian 3)

40 Misi Operasi Bendera Palsu yang Tercatat Sejarah

Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (40 Misi Operasi Bendera Palsu yang Tercatat Sejarah - Bagian 2). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik dan urutan lebih lengkap, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

15. Operasi Mongoose I (Operation Mongoose I)

Amerika Serikat menyerang Organisasi Negara-negara Amerika dengan “operasi benda palsu” melalui “Proyek Kuba” (Cuban Project) atau lebih dikenal sebagai Operasi Mongoose, yaitu operasi rahasia badan intelijen AS, Central Intelligence Agency (CIA), yang dikembangkan pada tahun pertama masa pemerintahan Presiden John F. Kennedy.

Pada tanggal 30 November 1961, Presiden Kennedy memberi lampu hijau untuk operasi rahasia agresif terhadap pemerintahan Fidel Castro di Kuba. Operasi ini dipimpin oleh Jenderal Angkatan Udara Amerika Serikat, Edward Lansdale, dan dilaksanakan setelah Invasi Teluk Babi gagal.

Pada tahun 1963, Departemen Pertahanan AS menulis sebuah makalah yang mempromosikan serangan terhadap negara-negara dalam Organisasi Negara-Negara Amerika (Organization of American States), seperti Trinidad dan Tobago, atau Jamaika, dan kemudian menyalahkan secara palsu bahwa serangan-serangan itu terhadap Kuba.

16. Operasi Mongoose II (Operation Mongoose II)

Tak hanya menyerang negara-negara di benua Amerika, Departemen Pertahanan AS melalui “Proyek Kuba” (Cuban Project) atau lebih dikenal sebagai Operasi Mongoose, AS juga merencanakan menyerang negara-negara bagian dalam negerinya.

Departemen Pertahanan AS bahkan menyarankan secara diam-diam, dan membayar seseorang dalam pemerintahan Fidel Castro, untuk menyerang Amerika Serikat:

“Satu-satunya daerah yang tersisa untuk dipertimbangkan kemudian akan menyuap salah satu komandan bawahan Castro, untuk memulai serangan terhadap Guantanamo.”

17. Perang Vietnam: Insiden Teluk Tonkin (Vietnam Wars: The Gulf of Tonkin Incident)

Badan Keamanan Nasional AS atau National Security Agency (NSA) mengakui bahwa mereka berbohong tentang apa yang sebenarnya terjadi pada insiden di Teluk Tonkin Vietnam, pada 2-4 Agustus 1964, dengan memanipulasi data agar terlihat kapal Vietnam Utara seperti sedang menembaki kapal AS, USS Maddox, sehingga tercipta pembenaran palsu oleh AS untuk memulai perang terhadap Vietnam.

18. Kampanye Cointelpro (Cointelpro Campaign)

Komite Kongres AS mengakui bahwa, sebagai bagian dari “Kampanye Cointelpro” terhadap aktivis politik AS, FBI telah menggunakan banyak provokator pada tahun 1950-an sampai tahun 1970-an, untuk melakukan tindakan kekerasan, dan secara palsu menyalahkan para aktivis politik.

19. Pasukan Turki Membakar Masjid (Turkish Forces Burned Down a Mosque)

Tentara Turki melakukan “operasi bendera palsu” dengan membakar sebuah masjid di Siprus. Seorang jenderal Turki, Sabri Yirmibesoglu, mengakui bahwa pasukan Turki membakar sebuah masjid di Siprus pada tahun 1970-an, dan menyalahkan insiden itu pada musuh mereka.

Jenderal Sabri Yirmibesoglu menjelaskan, “Dalam Perang Khusus, tindakan-tindakan sabotase tertentu perlu dilakukan, untuk kemudian menyalahkan musuh agar dapat meningkatkan ketahanan masyarakat. Kami melakukan ini pada Siprus, kami bahkan membakar masjid.”

Menanggapi hal ini, para koresponden terkejut. Jenderal Turki itu lalu berkata, “Akulah yang memberikan contoh.”

20. Lubang Sel (Celle Hole)

Kebohongan yang dilakukan Jerman Barat terhadap Jerman Timur.

Pemerintah Jerman Barat mengakui bahwa pada tahun 1978, dinas rahasia Jerman Barat meledakkan bom pada dinding luar penjara di Celle, yang juga barada di Jerman Barat, dan membuatnya hancur berlubang, dan peristiwa ini disebut “Lubang Celle” atau Celle Hole.

Kemudian, dinas rahasia Jerman Barat menanam “alat untuk melarikan diri” kepada tahanan Jerman Timur, yaitu para anggota Fraksi Tentara Merah (Red Army Faction) agar bisa kabur dari penjara di Jerman Barat, yang mana dinas rahasia Jerman Barat akhirnya mengakui bahwa merekalah yang melakukan pengeboman terhadap penjara di Celle.

21. Mossad Menanamkan Pemancar Radio (Mossad Planted a Radio Transmitter)

Seorang agen Mossad mengakui bahwa pada tahun 1984 Mossad telah melakukan operasi intelijen “Bendera Palsu” (False Flag Operation) dengan cara menanam pemancar radio di kompleks rumah Gaddafi di Tripoli, Libya.

Kemudian, Mossad menyiarkan trasmisi teroris palsu yang sebelumnya telah direkam oleh Mossad melalui pemancar yang telah ditanam itu.

Hal itu dilakukan untuk menuduh Gaddafi sebagai pendukung teroris. Tak lama sesudah operasi intelijen False Flag itu, Ronald Reagan segera membom dan menyerang Libya untuk membunuh pemimpin Libya.

22. Afrika Selatan Membom Kendaraan Polisi (South African Force Bombing the Police Vehicle)

Kebohongan yang dilakukan pemerintah kulit putih Apartheid Afrika Selatan terhadap Kongres Nasional Afrika pada masa Apartheid.

Apartheid (arti dari bahasa Afrika: apart berarti memisah, heid berarti sistem atau hukum) adalah sistem pemisahan ras yang diterapkan oleh pemerintah kulit putih di Afrika Selatan, dari sekitar awal abad ke-20 hingga tahun 1990. 

Orang kulit putih yang menjajah Afrika Selatan pada waktu itu menetapkan, di antaranya:

Melarang orang kulit hitam memiliki “homeland” di luar wilayah tempat tinggal yang telah ditentukan, pemisahan tempat tinggal orang-orang kulit putih dan kulit hitam, dan mewajibkan semua orang kulit hitam untuk mendaftarkan diri menurut kelompok suku masing-masing.

Biro Kerjasama Sipil Angkatan Pertahanan (The Civil Cooperation Bureau) Afrika Selatan melakukan operasi intelijen “Bendera Palsu” dengan membom kendaraan polisi untuk mendiskreditkan the African National Congress (ANC) pada masa Apartheid masih berlaku di Afrika Selatan.

Dewan Kebenaran dan Rekonsiliasi Afrika Selatan (The South African Truth and Reconciliation Council) menemukan bahwa pada tahun 1989, Kerjasama Biro Sipil (Civil Cooperation Bureau) cabang rahasia Angkatan Pertahanan Afrika Selatan,  mendekati seorang ahli bahan peledak dan memintanya “untuk berpartisipasi dalam operasi yang ditujukan untuk mendiskreditkan the African National Congress atau ANC (Kongres Nasional Afrika) dengan membom kendaraan polisi untuk menjadikan sebuah insiden pembunuhan“, sehingga mengambinghitamkan ANC atas pengeboman itu.

23. Tentara Aljazair Membantai Warga Sipil (The Algerian Army Massacred Civilians)

Tentara Aljazair (Algeria) sering membantai warga sipil Aljazair sendiri melalui “operasi bendera palsu” dan kemudian menyalahkan militan Islam. 

Seorang diplomat Aljazair dan beberapa perwira tentara Aljazair mengakui bahwa pada 1990-an, tentara Aljazair sering membantai warga sipil Aljazair, dan kemudian menyalahkan militan Islam atas seluruh pembunuhan itu.

24. Invasi Chechnya (Invasion Chechnya)

Seorang perwira militer senior Rusia dan intelijen senior Rusia mengakui bahwa KGB meledakkan bangunan apartemen Rusia pada tahun 1999, dan secara palsu menyalahkan hal itu pada Chechnya, untuk membenarkan invasinya ke Chechnya.

25. Pemerintah Makedonia membunuh Imigran (Macedonian Government Murdered Immigrants)

Kebohongan yang dilakukan pemerintah Makedonia terhadap warga sipilnya.

Seperti dilansir BBC, New York Times, dan Associated Press, pejabat Makedonia mengakui bahwa pemerintah telah membunuh 7 imigran yang tidak bersalah dan berpura-pura bahwa mereka adalah tentara Al-Qaeda yang berusaha membunuh polisi Makedonia.

Hal itu dilakukan pemerintah Makedonia terhadap warga sipilnya, agar menyetujui untuk bergabung dalam “perang melawan teror” (War on Terror).

26. Polisi Italia Menanam Bom di KTT G8 (Italian Police Planted Molotov at the G8 Summit)

Kebohongan yang dilakukan polisi Italia terhadap demonstran dan warga sipilnya.

Sebuah insiden terjadi pada pertemuan KTT G8 yang ke-27 di Genoa (Genova) Italia, dari tanggal 21–22 Juli 2001, yang kala itu terjadi protes besar olah para demonstran, yang mengakibatkan kerusuhan.

KTT G8 kala itu dihadiri oleh kepala pemerintahan Kanada, Perancis, Jerman, Italia, Jepang, Rusia, Inggris Raya, Amerika Sekikat, dan dihadiri juga perwakilan dari Uni Eropa, IMF, PBB, Bank Dunia, dan WTO (World Trade Organization).

Kerusuhan pada KTT G8 itu mengakibatkan lebih dari 400 aktivis dan 100 petugas keamanan terluka, 239 aktivis ditahan, dan seorang aktivis bernama Carlo Giuliani (dijuluki sebagai Carlo Giuliani of Genoa) ditembak mati oleh seorang Carabiniere (sebuah komponen militer nasional Italia yang mengurusi sipil dan militer) bernama Mario Placanica.

KTT G8 ke-27 tahun 2001 di Genoa Italia diingat dan dikenang sebagai puncak gerakan anti-globalisasi di seluruh dunia, serta untuk kejahatan hak asasi manusia terhadap demonstran.

Polisi senior di Genoa, Italia, mengakui bahwa pada bulan Juli 2001, saat pertemuan puncak negara-negara G8 yang ke-27 di Genoa, telah menanam dua bom molotov dan memalsukan peristiwa penusukan seorang polisi untuk membenarkan tindakan kekerasan oleh pihak kepolisian terhadap para pengunjuk rasa.

Baca lanjutannya: 40 Misi Operasi Bendera Palsu yang Tercatat Sejarah (Bagian 4)

Related

International 854911863310204604

Recent

item