40 Misi Operasi Bendera Palsu yang Tercatat Sejarah (Bagian 4)

40 Misi Operasi Bendera Palsu yang Tercatat Sejarah

Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (40 Misi Operasi Bendera Palsu yang Tercatat Sejarah - Bagian 3). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik dan urutan lebih lengkap, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

27. Surat Berisi Anthrax (The Anthrax Letters)

Kebohongan yang dilakukan Amerika Serikat terhadap Irak dan Yahudi.

Meskipun FBI kini telah mengakui bahwa serangan bakteri Anthrax pada tahun 2001 lalu dilakukan oleh seorang atau lebih ilmuwan dari pemerintah AS sendiri, namun seorang pejabat senior FBI mengatakan bahwa FBI benar-benar telah diberitahu untuk menyalahkan serangan Anthrax itu pada Al-Qaeda oleh para pejabat Gedung Putih, melalui amplop berisi Anthrax.

Pejabat pemerintah juga menegaskan bahwa Gedung Putih mencoba untuk menghubungkan serangan bakteri Anthrax kepada Irak, sebagai pembenaran untuk menyerang dan melakukan perubahan rezim di negara itu.

28. Tragedi 9/11 (9/11 Tragedy)

Demikian pula, operasi “bendera palsu” oleh AS telah menyalahkan Irak untuk memainkan peran dalam serangan September 9/11 seperti yang ditunjukkan oleh memo dari Menteri Pertahanan AS sebagai salah satu pembenaran utama untuk dapat melakukan perang terhadap Irak.

Bahkan setelah Komisi 9/11 (the 9/11 Commission) mengakui bahwa semua itu tidak ada hubungannya, Dick Cheney mengatakan ada bukti-bukti “luar biasa” bahwa Al Qaeda memiliki hubungan dengan rezim Saddam Hussein.

Cheney “mungkin” memiliki informasi yang sebenarnya tidak ada kepada Komisi 9/11, dan bahwa media tidak ‘melakukan pekerjaan rumah mereka’ dalam melaporkan hubungan tersebut.

Pejabat tinggi pemerintah AS kini mengakui bahwa perang Irak benar-benar dilakukan untuk minyak, tidak untuk peristiwa September 9/11 ataupun senjata pemusnah massal. 

Banyak pejabat pemerintah AS sekarang mengatakan bahwa serangan September 9/11 adalah teror yang disponsori oleh AS, negaranya sendiri, dan Irak bukan negara yang didukung oleh para pembajak.

29. Al-Qaida Tak Pernah Ada (Al-Qaeda Doesn’t Exist)

Mantan Departemen Kehakiman, pengacara John Yoo, menyarankan pada tahun 2005 bahwa AS harus melawan serangan terhadap al-Qaeda yang memiliki “badan-badan intelijen” dan telah membuat organisasi teroris palsu.

Lalu, organisasi itu bisa memiliki website sendiri, pusat rekrutmen, kamp pelatihan dan operasi penggalangan dana.

Semua ini akhirnya bisa meluncurkan sebuah Operasi Teroris Palsu dan mengklaim untuk mendapat serangan teroris yang nyata, membantu untuk menabur kebingungan dalam jajaran al-Qaeda yang menyebabkan keraguan identitas orang lain dan mempertanyakan validnya komunikasi. 

30. Pemberontak Irak (The Insurgents in Iraq)

United Press International melaporkan pada bulan Juni 2005 silam:

“Para perwira intelijen AS melaporkan bahwa beberapa kelompok perlawanan di Irak telah menggunakan pistol Beretta-92 model terbaru, tapi ternyata pistol-pistol itu tak memiliki nomor seri alias telah dihapus.”

Angka-angka pada pistol tidak tampak dan telah dihapus secara fisik, dan pistol tampaknya sengaja didatangkan dari jalur produksi tanpa nomor seri apapun. Analis memperkirakan bahwa tidak adanya nomor seri pada pistol telah menunjukkan bahwa senjata-senjata itu memang ditujukan untuk operasi intelijen atau sel-sel teroris dengan dukungan yang cukup besar dari pemerintah AS.

Analis berspekulasi bahwa senjata ini mungkin dipasok oleh Mossad atau CIA. Analis juga berspekulasi bahwa agen-agen provokator mungkin menggunakan senjata yang tak dapat dilacak ini. Walaupun pemerintah AS menggunakan serangan gerilyawan terhadap warga sipil, namun dengan tidak adanya nomor seri pada senjata dapat menjadi bukti bahwa AS tidak mengakui perlawanan tersebut.

31. Operasi Rumah Kaca (Operation Glass Houses)

Mata-mata tentara Israel mengaku pada tahun 2005 lalu melempari tentara Israel lainnya, sehingga mereka bisa menyalahkan Palestina, sebagai alasan untuk menindak protes damai oleh Palestina. 

32. Agen Polisi Provokator I (Police Agent Provocateurs I)

Polisi Quebec, Kanada, mengakui bahwa pada tahun 2007 lalu, terlihat para preman membawa batu pada saat protes damai. Namun sebenarnya, mereka adalah para polisi Quebec yang sedang menyamar menjadi pengunjuk rasa.

Paling tidak, ada tiga perwira polisi yang menyamar sebagai demonstran selama protes masyarakat terhadap para pemimpin Amerika Utara pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) tahun 2007 lalu di Montebello, Quebec, Kanada.

33. Agen Polisi Provokator II (Police Agent Provocateurs II)

Sebanyak 35.000 orang protes dan berdemonstrasi dengan berbaris melalui London, pada 28 Maret 2009, menjelang KTT G20 di London pada 2 April 2009.

The Put People First Alliance, yang terdiri dari 160 serikat pekerja, kelompok pembangunan, agama, dan lingkungan, menyerukan para pemimpin G20 untuk mengakui bahwa “hanya kebijakan yang adil dan berkelanjutan dapat membawa dunia keluar dari resesi, dan bahwa kembali ke ‘bisnis seperti biasa’ – dengan kemiskinan, ketidaksetaraan, dan perubahan iklim yang terkait – bukanlah sebuah pilihan.”

Kelompok Kristen, termasuk World Vision dan Tearfund, mengorganisasi sebuah layanan ekumenis di Methodist Central Hall, diawasi oleh Uskup London. Delegasi bergabung dengan pawai dari seluruh dunia, termasuk Belgia, Republik Ceko, Prancis, Jerman, Hongaria, Italia, Luxemburg, Belanda, Portugal, Rumania, Slovenia, Spanyol, Korea, AS, Australia, Afrika Selatan, Zambia, Kanada, dan Filipina.

Hingga sebuah insiden terjadi, pada siang hari tanggal 1 April 2009. Ian Tomlinson, seorang penjual surat kabar di London, meninggal dalam kepungan polisi, saat terjadi protes G20 dekat Bank of England.

Awalnya, Kepolisian Kota London menyangkal ada insiden, dan kematian itu disebut disebabkan oleh sebab-sebab alami. Beberapa hari kemudian, The Guardian menerbitkan video yang menunjukkan Tomlinson telah didorong oleh petugas Dinas Kepolisian Metropolitan, dan dipukul dengan tongkat kecil, beberapa menit sebelum dia pingsan dan meninggal.

Pada saat terjadi aksi protes terhadap KTT G20 di London pada 2 April 2009, anggota parlemen Inggris melihat polisi berpakaian preman yang mencoba menghasut para pengunjuk rasa agar melakukan tindak kekerasan.

34. Penjarah Mesir (Egyptian Looters Were)

Hal ini terjadi ketika Revolusi Mesir tahun 2011. Demonstrasi besar-besaran yang terjadi di seluruh Mesir menuntut agar Presiden Hosni Mubarak, yang telah berkuasa selama 30 tahun, untuk melepaskan jabatannya. Rezim Mubarak menuduh negara-negara asing (termasuk AS) ikut campur dalam urusan Mesir.

Pemerintah berusaha meredam usaha para demonstran, yang menggalang aksinya dari internet, dengan cara memberhentikan saluran internet dan komunikasi hingga batas waktu yang tidak ditentukan.

Kala itu, tentara Mesir memikul tanggung jawab keamanan yang lebih besar, yaitu menjaga ketertiban dan keamanan museum Mesir, The Egyptian Museum of Antiquity. Namun, yang terjadi adalah kerusakan terhadap beberapa artefak tak ternilai. 

Hal ini menyebabkan tuduhan terhadap para pengunjuk rasa, dan terjadilah kerusuhan. Setelah demonstrasi berlangsung selama 18 hari, akhirnya Presiden Mubarak mundur pada tanggal 11 Februari 2011.

Politisi Mesir mengakui dan melihat bahwa pegawai pemerintah menjarah artefak yang tak ternilai di museum pada tahun 2011, untuk mendiskreditkan para pengunjuk rasa.

35. Kolonel Kolombia (Colombian Colonel)

Seorang kolonel dari Angkatan Darat Kolombia, bernama Luis Fernando Borja, telah mengakui bahwa unitnya telah membunuh 57 warga sipil pada tahun 2007, kemudian memberikan pakaian seragam kepada mayat mereka, dan mengklaim bahwa mereka adalah pemberontak yang tewas dalam pertempuran.

Baca lanjutannya: 40 Misi Operasi Bendera Palsu yang Tercatat Sejarah (Bagian 5)

Related

International 2050892576831069966

Recent

item