Film Satria Dewa Gatotkaca Flop di Pasaran, Apa yang Salah?

Film Satria Dewa Gatotkaca Flop di Pasaran, Apa yang Salah?

Sejak tayang 9 Juni 2022, Satria Dewa Gatotkaca mencatat angka penjualan tiket yang kurang memuaskan untuk sebuah film berbujet puluhan miliar rupiah.

Menurut data filmindonesia.or.id yang diakses Selasa (28/6), Satria Dewa Gatotkaca hanya membukukan 186.133 tiket terjual. Bila rataan tiket bioskop seharga Rp40 ribu, maka film ini baru mengantongi box office sekitar Rp7,4 miliar.

Padahal, saat perilisan film ini awal Juni lalu, pihak studio dengan bangga mengatakan Satria Dewa Gatotkaca berbujet Rp24 miliar. Saat perilisan pun, tak sedikit pujian untuk film ini.

Sementara itu, beberapa film yang bukan dari proyek film berbujet besar mampu mengantongi penonton lebih banyak atau menjadi blockbuster karena sukses secara komersil. Saat momen perilisan pun, Gatotkaca tak banyak memiliki pesaing besar.

Lalu, apa yang salah dari Gatotkaca?

"Kambing hitam utama biasanya ada pada promosi," kata pengamat film dan budaya populer Hikmat Darmawan.

"Publik tentu kaget dan bertanya-tanya, kenapa penonton Gatotkaca bisa kurang dari 200 ribu penonton, sementara biaya produksinya mencapai Rp24 miliar," lanjutnya.

"Catatan penting untuk film ini adalah segi biaya produksinya sudah seperti film blockbuster, karena memang disiapkan untuk seperti itu," kata Hikmat Darmawan.

"Namun jika ditilik dari segi pemasarannya, itu sama sekali tidak terlihat seperti film blockbuster, jadi failed," katanya.

Perihal pemasaran alias marketing memang jadi nyawa ketiga setelah cerita dan produksi yang menentukan kesuksesan sebuah film. Apalagi di Indonesia, jaringan bioskop cukup memiliki aturan ketat soal penayangan.

Jaringan bioskop tak akan sungkan dan segan menurunkan film dari layar mereka bila performa penjualan tiket tak memuaskan. Hal ini wajar, lantaran pendapatan bioskop juga datang dari film yang dipajang.

Maka tak heran, meski sudah ada aturan undang-undang perihal jatah layar untuk film garapan Indonesia, bioskop juga tak bisa mengelak bahwa menyediakan studio untuk film yang tak laku terlalu lama akan merugikan secara bisnis.

Nasib Gatotkaca di layar bioskop pun tak sekuat seperti legendanya. Per Selasa (28/6), film ini kini hanya tersedia satu atau dua layar di satu-dua bioskop jaringan Cinema XXI di sejumlah kota besar di Indonesia.

Di Cinema XXI, Gatotkaca hanya ada di dua bioskop di Jakarta dengan masing-masing 3-4 jam tayang. Kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Semarang, jatah film ini hanya ada di satu bioskop dengan dua jam tayang.

Sementara di jaringan CGV dan Cinepolis yang diketahui sebagian kepemilikannya merupakan perusahaan asing, film Gatotkaca sudah lenyap entah sejak kapan.

"Apakah kemudian Gatotkaca ini mendapat jatah tayang yang memadai? Seperti jam, lokasinya, dan hal-hal lain yang memengaruhi kemauan penonton untuk menyaksikan film terkait," kata Hikmat.

"Nah sekarang kecenderungannya, kalau dalam tiga hari film itu tidak berhasil menyentuh angka penonton yang diinginkan, itu udah dianggap gagal. Geser deh sama film blockbuster," lanjutnya.

Tercatat, beberapa film blockbuster yang lebih awal tayang daripada Gatotkaca masih bertahan di tiga jaringan bioskop tersebut. Mereka adalah Top Gun Maverick dan KKN di Desa Penari yang sudah tayang sejak Lebaran lalu.

Dua film ini masih terus mendulang penonton, meski sudah lebih dari sebulan tayang di bioskop Indonesia. Keviralan dua film ini melalui unggahan di media sosial pun masih hilir-mudik.

Dalam menyiasati permasalahan jadwal tayang yang kini telah dihadapi oleh film Satria Dewa: Gatotkaca, Hikmat menilai studio seharusnya dapat berandil besar untuk mengatasi hal tersebut.

"Untuk konteks dari performa Gatotkaca yang anjlok, faktor-faktor seperti negosiasi dan strategi dari pihak PH kepada pihak bioskop untuk mendapatkan jadwal tayang yang memadai tentu juga berpengaruh," kata Hikmat.

"Kita ambil contoh saja ke Ngeri Ngeri Sedap, film ini kan tidak diproyeksikan untuk jadi film blockbuster, tapi akhirnya justru berhasil dapat 2 juta penonton," tukas Hikmat.

Hikmat kemudian mendasari pernyataannya bahwa strategi pemasaran menjadi hal penting yang terlewat dari Satria Dewa: Gatotkaca.

Menurutnya, pihak Satria Dewa selaku rumah produksi tidak menuntaskan hal penting tersebut sehingga film ini tidak berhasil mendapatkan porsi tayang yang cocok, yang berpengaruh terhadap antusiasme publik untuk pergi menonton di bioskop.

Padahal di sisi lain, tim studio sudah tampak melakukan banyak cara untuk memasarkan film ini.

Menurut pantauan di media sosial Satria Dewa Gatotkaca, ada beragam cara sudah dilakukan, mulai dari wawancara di media, kuis, hingga nonton bareng. Namun tetap saja, film ini tak jua menyentuh 200 ribu penonton di 20 hari penayangan.

"Jadi bisa ditarik kalau ini bukan salah filmnya, tapi lebih ke aspek strategi pemasarannya. Bagaimana siasat untuk menghadapi permasalahan jatah tayang tersebut," jelas Hikmat.

"Karena kalau film tidak tersedia di bioskop dan jam yang primer, penonton akan malas untuk menonton film di jam atau studio sisa," kata Hikmat Darmawan.

Related

News 6420130190246782418

Ads

Topic

Recent

item