Memahami Empati: Sikap Baik Pada Orang Lain dan Diri Sendiri (Bagian 2)


Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Memahami Empati: Sikap Baik Pada Orang Lain dan Diri Sendiri - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik dan urutan lebih lengkap, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Beda Empati dan Belas Kasih 

Jadi bagaimana jalan keluar supaya masih tetap bisa menunjukkan kepedulian tanpa meninggalkan diri sendiri? Jawabannya bukan dengan menghilangkan empati. Melainkan dengan menambahkan beberapa perilaku pelengkap serta mengembangkan empati menjadi belas kasih. 

Studi komprehensif Clinical Psychology Review mendefinisikan belas kasih sebagai mengenali penderitaan, memahaminya, dan merasakan empati penderita, tetapi juga menoleransi perasaan tak nyaman seseorang yang berempati. Dan yang terpenting adalah bertindak untuk meringankan penderitaan itu. 

Sementara jurnal Social Cognitive and Affective Neuroscience mengungkapkan, mereka yang mengembangkan welas asih mampu menurunkan perasaan negatif dan membangkitkan rasa positif setelah menyaksikan penderitaan orang lain. 

Empati dan belas kasih adalah peristiwa yang berbeda di otak. Empati untuk merasakan penderitaan orang lain mengaktifkan area di otak yang terkait dengan emosi negatif. Karena kita merasakan penderitaan orang lain, batas antara diri sendiri dan orang lain bisa menjadi kabur jika kita tidak memiliki batasan atau keterampilan pengaturan diri yang baik dan kita mengalami “penularan emosi”. 

Sebaliknya, belas kasih dikaitkan dengan aktivitas di area otak yang terkait dengan emosi dan tindakan positif. Belas kasih dapat didefinisikan secara sederhana sebagai empati, ditambah tindakan untuk meringankan rasa sakit orang lain. Bagian tindakan dari belas kasih membantu kita memisahkan sistem emosional kita dari orang lain, dan melihat bahwa kita adalah individu yang terpisah. 

Kita tidak perlu merasakan kepedihan mereka ketika kita menyaksikannya. Namun, memiliki perasaan ingin membantu. Belajar melihat ketidaknyaman orang lain dan memberikan bantuan dapat meringankan beban orang lain, menjadikannya kesempatan bagi kedua belah pihak merasa lebih baik. Dengan demikian, belas kasih bukan hanya menyelamatkan si penderita, tetapi juga membantu si penolong itu sendiri. 

Mengembangkan Belas Kasih 

Brooks setuju bahwa mengembangkan belas kasih tak semudah membalikkan telapak tangan. Brooks mengatakan, ada dua cara yang bisa dilakukan untuk mengembangkan belas kasih. Pertama, menjadi lebih tangguh untuk menghadapi rasa sakit orang tanpa terganggu untuk bertindak. Lalu yang kedua adalah jangan hanya merasa, tapi lakukan. 

Saat berempati, Brooks berpendapat, kita tak dapat membantu orang yang kesusahan untuk berkomitmen pada sebuah resolusi. Pasalnya, bantuan kita hanya terhenti pada perasaan korban. Tapi dengan belas kasih, kita dapat membantu mereka dalam bentuk tindakan, meski itu tidak diinginkan atau disukai oleh orang yang menderita. 

Tapi yang perlu dicatat, ini semua dilakukan demi kebaikan mereka. Misalnya saja memberikan nasihat jujur yang cukup sulit didengar oleh orang yang sedang dalam masalah. 

Meski kepedulian ke orang lain pada level tertentu baik, namun paparan informasi yang menjadi pemicu berbagai emosi yang mengarah pada empati berlebih pun perlu dibatasi. Alasannya agar kita terhindar dari peningkatan stres dan emosi negatif. 

Keseimbangan dalam mengonsumsi informasi atau konten kesedihan yang terus mengalir di sekitar kita, baik di media sosial atau berita di televisi, perlu dikelola dalam kehidupan sehari-hari. Yang pasti, peduli dengan sesama itu perlu, tapi jangan sampai lupa untuk bersikap baik dengan diri sendiri.

Related

Psychology 2925484141708525232

Recent

Hot in week

Ebook

Koleksi Ribuan Ebook Indonesia Terbaik dan Terlengkap

Dapatkan koleksi ribuan e-book Indonesia terbaik dan terlengkap. Penting dimiliki Anda yang gemar membaca, menuntut ilmu,  dan senang menamb...

Banner BlogPartner Backlink.co.id
item