Emma Goldman, Wanita Anarkis Paling Berbahaya (Bagian 4)


Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Emma Goldman, Wanita Anarkis Paling Berbahaya - Bagian 3). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik dan urutan lebih lengkap, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Goldman tidak merasa bersalah ketika mengedepankan isu-isu yang paling tabu dan menghamparkan diskusi-diskusi yang jujur dan terbuka tentang seks, cinta dan perkawinan. Tampil dengan sangat berbeda, Goldman meyakini bahwa perkawinan dan cinta seringkali bersifat antagonistik. Manakala cinta telah lahir sebagai pendorong yang paling kuat dalam mendobrak sekumpulan adat yang mengikat, perkawinan justru malah melayani kepentingan negara dan gereja dengan memberinya kesempatan untuk mencampuri urusan-urusan kita yang paling pribadi. 

Padahal, sesungguhnya, itu seringkali melulu sebuah urusan murni ekonomi, dengan memenuhkan-diri pihak perempuan dengan kebijakan asuransi, sistem penjamin kebutuhan materi itu, dan bagi pihak laki-laki, dirinya kini punya sebuah mainan cantik yang sekaligus berlaku sebagai perkakas bagi pengukuhan terus-menerus peran pihak lelaki. 

Demikianlah perkawinan, “upaya mempersiapkan perempuan untuk sebuah kehidupan sebagai parasit, pelayan yang tergantung tanpa daya, sementara pada saat yang sama institusi ini memberikan hak penggadaian barang bergerak bagi laki-laki atas kehidupan seorang manusia”. 

Oleh sebab itu, seorang perempuan mengemansipasikan dirinya manakala dia menjunjung seorang laki-laki hanya karena kualitas hati dan pikirannya. Seorang perempuan mengemansipasikan dirinya ketika dia menegaskan hak untuk melangkah mengikuti jalur cinta tanpa hambatan apapun, dan menyatakan hak absolut bagi keibuan yang bebas. Untuk perkara ‘pasar perkawinan’ ini, kiritik paling tajam yang diajukan oleh pemikir anarkis, muncul dari William Godwin.

Goldman tidak hanya menganjurkan cinta bebas, namun juga mempraktekkannya. Dia punya, setidaknya, sebuah hubungan dengan seorang perempuan lainnya. Di usianya yang ke-20 dia tinggal dengan Berkman dan Fedya sebagai menage a trois (bentuk poliamori, keluarga yang dimulai dengan tiga orang -red). Pada tahun 1908 saat dia menginjak usianya yang ke-38, Goldman menjalin-kasih dengan Ben Reitman yang lebih muda sembilan tahun darinya. 

Reitman dikenal sebagai “Hobo King” sehubungan pekerjaannya sebagai dokter bagi para gelandangan di Chicago. Dengan segenap pernyataan kebebasan dirinya, Goldman menjadi terobsesi dengan sosok yang “kasar namun rupawan”. Reitman membangkitkan “nafsu mendasar yang deras” dalam diri Goldman; sesuatu yang tak terbayangkan sebelumnya oleh Goldman bahwa seorang laki-laki akan dapat membangkitkannya. Dia mengakui “Saya merespon tanpa malu-malu pada panggilan primitif tersebut, keindahan telanjang dan kenikmatan yang melenakan.”

Reitman tetap terus melakukan hubungan seksual dengan beberapa perempuan lain dalam sepuluh tahun hubungan mereka. Dan, sebagaimana ditunjukkan oleh surat-surat antar mereka, Goldman tidak dapat menahan rasa cemburu dan rasa ingin tahu ketika Reitman sedang bersama perempuan lain. 

Rasa gundah Goldman bisa saja ditafsirkan sebagai sebuah kontradiksi dan mungkin sebagai kegagalan filosofinya. Goldman menyadari bahaya dirinya tersebut dan menulis kepada Reitman: “Aku tidak punya hak berbicara tentang Kebebasan saat aku sendiri menjadi budak hina dalam cintaku.” Tapi pengalaman pribadi Goldman sebagai kekasih yang ditolak dan diabaikan tidak hadir sebagai kontradiksi, namun justru memberi bobot pada pemikiran dan pernyataan publiknya.

Dalam sebuah esai berjudul Jealousy yang kemungkinan ditulis pada tahun 1912, Goldman menegaskan bahwa kesedihan mendalam lantaran kehilangan cinta yang mengilhami kebanyakan penyair Romantik, tidak ada hubungannya dengan rasa cemburu, yang hanya membuat orang menjadi marah, dengki dan sedih. 

Goldman menelusuri akar permasalahannya pada gagasan tentang hadirnya monopoli seks eksklusif yang dimapankan oleh gereja dan negara. Inilah yang mewujud sebagai kode etik kehormatan-diri yang ketinggalan jaman, yang berbasis pada kepemilikan dan pembalasan (sanksi). Itulah juga yang meramu kesombongan laki-laki dan rasa cemburu perempuan. 

Untuk mengobatinya, pertama, dengan menyadari bahwa tak seorang pun (berhak) memiliki fungsi seksual orang lain. Kedua, dengan membuka diri untuk menerima hanya cinta atau perhatian intim yang diberikan secara sukarela: “Segenap pencinta akan melakukannya dengan indah hanya dengan membuka lebar-lebar pintu cinta mereka”. 

Dalam sebuah kuliah terbukanya, berjudul “Kesalahan-kesalahan Fundamental Cinta Bebas”, Goldman membedakan dengan cermat antara kebebasan memilih dalam mewujudkan cinta dengan persetubuhan bebas. 

Sebagaimana suratnya kepada Reitman pada saat yang sama, “Cinta saya adalah seks, dan juga kasih-sayang, kepedulian, hasrat-gelisah, kesabaran, persahabatan, segalanya….“. Goldman senantiasa punya pandangan yang romantis tentang cinta, ia merayakan “keliaran-bengisnya” sekaligus keindahan idealnya, dan juga sepenuhnya sadar bahwa cinta layaknya sebilah pedang bermata dua.

Namun boleh pula dinyatakan adanya keberatan bahwa sangatlah mudah bagi Goldman untuk mempraktekkan cinta bebas, karena dia tidak subur dan menderita penyakit endometriosis. Tapi sebenarnya dia dapat menjalani operasi untuk menyembuhkan penyakit tersebut; dia memilih tidak melakukannya. Sebuah pilihan yang bisa ditanggapi sebagai bentuk sukarela dari kontrol kelahiran. 

Lebih lanjut, Goldman bukannya tidak memiliki rasa keibuan, sebagaimana yang dia tulis pada Reitman: “Aku menumpahkan naluri keibuan yang mendalam bagimu, bayiku; naluri itu telah menyelamatkan banyak hal dalam hubungan kita.” 

Namun hal itu tidak mencegahnya untuk kerap menyerang mitos-mitos keibuan dan sembari menegaskan hak pilih bebas bagi setiap perempuan untuk menjadi orang tua. Sebagai tambahan, Goldman berjuang melawan hukum-hukum yang menentang kontrol kelahiran, sehingga dia dipenjarakan pada tahun 1916. Sebagaimana dikaji oleh feminis sezamannya, Margaret Anderson, Goldman dipenjara karena menyerukan agar “para perempuan tidak seharusnya selalu tutup mulut dan membuka selangkangannya.”

Goldman menyerukan sebuah masyarakat baru dimana individu-individu bisa membaca, menulis, dan menyatakan apa yang mereka inginkan, serta memiliki kesempatan yang sama tanpa membeda-bedakan gender untuk menyadari potensi mereka sepenuhnya. 

Dia ingin perempuan memiliki kontrol penuh atas tubuhnya dan mendapat kesempatan mempraktekkan kontrol kelahiran. Dia berharap perempuan dan lelaki menjadi individu-individu sejati yang menjalani hidup dalam asosiasi sukarela. Dia menuju ke sebuah revolusi yang mengantarkan pada perubahan internal dan eksternal, komunisme ekonomi serta juga transformasi total dari nilai-nilai.

Kendati pada akhir hidupnya Goldman menyadari bahwa dia - seiring harapan yang semakin pupus - semakin tak terhubung dengan lingkungan sezamannya, namun dia justru berhasil mendapatkan publikasi yang meluas setelah kematiannya. Pada masa kini, karya Goldman dibaca secara luas dan dihormati lantaran kritik-kritiknya yang tajam terhadap institusi-institusi yang represif dan seruannya bagi kesempurnaan pemenuhan individu. 

Dialah perempuan paling berbahaya di Amerika, yang pernah dihina dan ditolak, yang kemudian menjadi sosok pengilham utama feminis modern dan ibu penggagas anarko-feminisme. 

Ia mengatakan sesuatu yang tersirat dalam sebuah pertemuan anarkis: “Jika aku tidak terdorong untuk menari, maka itu bukanlah revolusiku”. Jika revolusi pada masa berikutnya bersemangat feminis dan libertarian, bisa dipastikan itulah nada-nada favoritnya.

Related

Figures 5422963674163026317

Recent

Hot in week

Ebook

Koleksi Ribuan Ebook Indonesia Terbaik dan Terlengkap

Dapatkan koleksi ribuan e-book Indonesia terbaik dan terlengkap. Penting dimiliki Anda yang gemar membaca, menuntut ilmu,  dan senang menamb...

item