Memahami dan Mewaspadai Bahaya Jejak Digital

Memahami dan Mewaspadai Bahaya Jejak Digital

Naviri.Org - Jejak digital atau digital footprint adalah jejak-jejak yang kita tinggalkan di dunia maya, yang dilatari aktivitas yang kita lakukan. Sebagaimana jejak yang kita ciptakan di dunia nyata—misal jejak kaki di pasir pantai—kita sering tidak peduli dengan jejak-jejak tersebut. Pertama karena jejak-jejak itu ada di belakang kita, dan kedua karena kita menganggapnya tidak penting.

Berbeda dengan jejak di dunia nyata yang mudah hilang atau terhapus, jejak digital di dunia maya sulit hilang dan sulit terhapus, bahkan meski telah bertahun-tahun. Ketika jejak-jejak digital itu jatuh ke tangan pihak tak bertanggung jawab, bisa jadi jejak itu disalahgunakan yang berpotensi merugikan kita. Karena itulah, kita perlu memahami apa itu jejak digital dengan baik, sekaligus mewaspadai potensi bahaya yang bisa ditimbulkannya.

Sandi S. Varnado, dalam jurnalnya berjudul “Your Digital Footprint Left Behind at Death: An Illustration of Technology Leaving the Law Behind”, mengatakan bahwa jejak digital merupakan kumpulan jejak dari semua data digital, baik dokumen maupun akun digital. Jejak digital dapat tersedia, baik bagi data digital yang disimpan di komputer maupun yang disimpan secara online.

Manusia masa kini menghasilkan jejak digital jauh lebih besar dibandingkan masa sebelumnya. Ini terjadi karena masifnya penggunaan smartphone. Tahun 2017 diperkirakan ada 2,32 miliar pengguna smartphone di seluruh dunia. Pada tahun ini jumlahnya diprediksi meningkat hingga mencapai 2,53 miliar pengguna.

Melalui smartphone, hampir segala jejak digital bisa tercipta. E-mail yang dikirim/diterima, pembaruan status di media sosial, jejak navigasi GPS, hingga foto/video yang disimpan, semuanya menghasilkan jejak digital.

Dalam laman Techterm, jejak digital terbagi menjadi dua, dilihat dari cara bagaimana suatu kegiatan digital menghasilkan jejak. Ia adalah jejak digital pasif dan jejak digital aktif.

Jejak digital pasif merupakan jejak yang tidak sengaja ditinggalkan. Tidak ada tindakan aktif yang dilakukan si pemilik jejak dalam menghasilkan jejak digital itu. Contoh dari jejak digital pasif ialah rekaman linimasa Google Maps. Segala tujuan, rute, maupun titik-titik yang dikunjungi, terekam oleh Google Maps. Perekaman tujuan maupun rute dilakukan tanpa ada tindakan aktif si pemilik jejak digital untuk memberikannya.

Google Maps mampu merekam jejak, terutama bagi segala smartphone yang memasang aplikasi tersebut dengan mengaktifkan fitur GPS. Sayangnya, dalam laporan yang dirilis Quartz, Google dikatakan tetap mengumpulkan data lokasi meskipun fitur lokasi atau GPS dimatikan pemilik smartphone.

Sementara itu, jejak digital aktif merupakan segala jejak digital yang tercipta atas peran aktif si pengguna. Ini misalnya termuat dalam segala unggahan atau pembaruan status di media sosial. Serta segala e-mail yang dikirim pemilik jejak digital. Dengan sadar mereka menciptakan jejak digitalnya sendiri.

Jejak digital, yang tercipta atas segala tindak-tanduk digital penggunanya, sesungguhnya lebih tepat disebut sebagai bom ranjau yang tertanam di dalam si pemilik jejak. Bom akan "meledak" terutama jika ada pihak-pihak tertentu yang menargetkan si pemilik jejak digital. Apalagi jika si pemilik jejak diketahui memiliki data-data digital yang merugikan dirinya.

Kelly Moore, dalam jurnal berjudul “The Influence of Personality on Facebook Usage, Wall Posting, and Regret”, menyatakan bahwa 20 persen pengguna Facebook tak mau apapun yang ia unggah ke media sosial itu dilihat oleh atasan mereka.

Gwenn Schurgin O’Keeffe, dalam jurnal berjudul “The Impact of Social Media on Children, Adolescents, and Families”, menyatakan bahwa meskipun jejak digital memiliki risiko yang berbahaya, pemilik umumnya tak menyadari. Ia mengatakan, ada anggapan “apa yang terjadi di ranah online, hanya ada di dunia itu” oleh para pemilik jejak digital.

Soal bahaya jejak digital juga dilontarkan oleh Pramono Anung, Sekretaris Kabinet pada pemerintahan Joko Widodo. Melalui akun Twitter resminya, Pramono mengatakan, “Bagi siapapun yg pengen jabatan politik, dan harus ikut berkompetisi dlm pilihan, hati2 dengan sampah digital yg berkaitan dgn tindakan moralitas akan tersimpan dengan rapi dan akan dikeluarkan pada saat yg tepat #BOMSampahDigital #SekedarInfo.”

Jejak digital terbukti merupakan sebuah "barang" yang berharga. Berbeda dengan jejak fisik yang mudah dihilangkan, jejak digital sangat sulit untuk dihapuskan, bahkan setelah bertahun-tahun. 

“Kehadiran fisik dari data (jejak digital) yang sangat kecil yang bahkan kita tidak pikirkan (bisa) menjadi kekacauan,” terang Michael Kaiser, direktur eksekutif National Cyber Security Alliance pada Wired. “Tapi (akumulasi kehadiran fisik yang kecil itu) kita mengumpulkan banyak sekali serpihan (jejak digital), dan beberapa di antaranya bisa berbahaya jika hilang atau dicuri,” tambahnya.

Salah satu contoh jejak digital berharga ialah informasi pribadi yang dengan mudah diberikan pengguna, guna menukarkannya dengan akun e-mail gratis, akun media sosial gratis, atau akun-akun digital lain secara gratis. Tong Sun, pimpinan pada Scalable Data Analytics Research Lab, yang berada di bawah naungan Xerox, menulis di Wired bahwa ini tercipta atas iming-iming “personalisasi” yang ditawarkan pemilik layanan digital.

Jejak digital, merujuk karya Varnado, yang dimiliki masing-masing warga Amerika Serikat diperkirakan berharga mendekati $55 ribu. Sayangnya, nilai berharga jejak digital ini banyak tak disadari pemiliknya. Jejak digital akan berharga bila si pemilik dirugikan atas jejak digital dirinya, yang dimanfaatkan pihak-pihak tak bertanggung jawab.

Baca juga: Hati-hati, Kini Muncul Malware Penambang Bitcoin

Related

Technology 8389357061375968224

Recent

Hot in week

Ebook

Koleksi Ribuan Ebook Indonesia Terbaik dan Terlengkap

Dapatkan koleksi ribuan e-book Indonesia terbaik dan terlengkap. Penting dimiliki Anda yang gemar membaca, menuntut ilmu,  dan senang menamb...

item