Skandal Hoax Terbesar dalam Sejarah Amerika

Skandal Hoax Terbesar dalam Sejarah Amerika

Naviri.Org - Istilah hoax atau hoaks memang populer akhir-akhir ini, namun bukan berarti di masa lalu tidak ada hoax. Di masa lalu, sebagaimana di masa kini, ada orang-orang yang sengaja melakukan penipuan atau rekayasa tertentu, yang ditujukan untuk mendapatkan keuntungan, khususnya materi. Salah satu kisah hoax yang pernah mengguncang Amerika Serikat adalah hoax terkait Raksasa Cardiff.

Raksasa Cardiff adalah sebutan untuk fosil mirip manusia yang memiliki ukuran tinggi sampai tiga meter. Fosil itu terkubur di dalam tanah. Ketika ditemukan, keberadaan fosil yang disebut Raksasa Cardiff itu pun seketika menggegerkan dunia, karena seolah-olah umat manusia menemukan nenek moyang mereka dari zaman lampau, yang berukuran raksasa.

Semua berawal pada 10 Oktober 1869. Ketika itu, dua orang penggali sumur suruhan William C. “Stub” Newell, Gideon Emmons dan Henry Nichols, menemukan sesuatu yang janggal di belakang gudang rumah Newell, di Cardiff, Amerika Serikat.

Mereka menemukan manusia setinggi 3 meter yang mati membatu di dalam tanah. Sontak, penemuan tersebut menggemparkan—tidak hanya bagi warga Cardiff dan Amerika—tapi seluruh dunia. Apalagi penemuan ini hanya berselang sekitar 10 tahun dari penerbitan buku Origin of Species-nya Charles Darwin. Tidak heran, ribuan orang berbondong-bondong ke lokasi untuk sekadar menyaksikan si Manusia Raksasa.

Pada pekan pertama saja, 2.500 orang datang ke lokasi. Newell, sebagai pemilik tanah, mematok harga 50 sen untuk siapa saja yang ingin masuk dan melihatnya.

Total, usai penipuan ini terkuak, Newell memperoleh keuntungan sebesar 20.000 dolar Amerika. Jumlah yang sangat besar pada era itu.

Banyak yang menganggap Raksasa Cardiff sebagai penemuan arkeologi terpenting yang mungkin berhubungan dengan teori evolusi. Sosok ini diperkirakan adalah nenek moyang jauh dari warga suku asli, Onroaga iroquois. Penemuan ini juga seolah menjawab misteri tentang keberadaan manusia raksasa yang selama waktu tersebut menjadi mitos. Namun, banyak juga yang meragukan keasliannya.

Kebenaran terungkap

Selang beberapa lama, kebenaran pun terkuak. Temuan tersebut bukanlah manusia raksasa yang mati membatu, melainkan hanya sebuah patung yang terbuat dari gipsum.

Adalah Othniel C. Marsh, paleontolog terkenal dari Universitas Yale, yang mengatakan bahwa penemuan itu omong kosong belaka. Tidak butuh waktu lama untuk memastikan bahwa Manusia Raksasa tersebut hanyalah sebuah patung.

Pendapat itu pun didukung para ahli. Mereka mengatakan bahwa Manusia Raksasa yang menghebohkan tersebut terbuat dari gipsum. Sejumlah pahatan terlihat jelas di sekujur tubuh sang fosil buatan.

Siapa dalang di balik hoaks ini?

Bukan, bukan Newell. Namun, sepupunya, yaitu George Hull. Hull hanyalah penjual tembakau yang tidak mengenyam bangku sekolah, sekaligus ateis. Namun, Hull memang diketahui memiliki minat yang tinggi pada dunia sains.

Tujuannya, selain motif ekonomi, tentu saja ingin mengguncang dunia, khususnya para penganut agama. Tujuan yang sebenarnya justru menjadi ironis, karena dengan membuat kebohongan tersebut, malah sempat membuktikan kebenaran dalam Kejadian di Kitab Perjanjian Lama yang mengatakan bahwa ada raksasa yang pernah tinggal di bumi.

Hull membuat rekayasa tersebut dengan cukup teliti. Ia bahkan menuangkan beberapa bahan kimia untuk menciptakan kesan tua pada patung tersebut. Dia lantas memindahkan dan menguburkan patung tersebut secara diam-diam—dibantu Newell tentunya—di belakang rumah Newell.

Dengan sabar, mereka membiarkan patung tersebut terkubur selama setahun. Lalu, Newell berpura-pura ingin menggali sumur di belakang rumahnya, dan menyewa dua penggali sumur. Hingga akhirnya, mereka berdua menemukan Sang Raksasa Cardiff. Pada 10 Desember 1869, Hull akhirnya mengakui kebohongannya di hadapan pers.

Ketika penipuan terkuak, Hull memang tidak serta-merta mengakui kebohongannya. Euforia masyarakat pun masih cukup besar.

Hull lantas menjual patung tersebut ke sindikat pedagang yang dipimpin oleh David Hannum, senilai 23.000 dolar. Mereka lalu memindahkannya ke New York, tepatnya di American Museum, untuk dipamerkan. Hannum berniat mengelola Sang Raksasa sendiri, tidak peduli itu asli atau palsu.

PT. Barnum, yang merupakan perusahaan spesialis pameran barang antik, pun berani menawarkan 50.000 dolar untuk patung tersebut. Namun, karena niat Hannum sebelumnya, jelas dia menolak mentah-mentah.

Kesal dengan penolakan tersebut, PT. Barnum diam-diam menyewa seorang pria untuk mebuat replika serupa. Setelah itu, patung tersebut dipamerkan di New York. PT. Barnum lantas mengklaim patung miliknya adalah Raksasa Cardiff yang asli, sementara milih Hannum adalah palsu.

Hannum pun tidak tinggal diam. Disebut Raksasa Cardiff-nya palsu, ia pun menggugat PT. Barnum. Namun hakim dalam kasus ini sangat cerdik. Hakim memutuskan bahwa Barnum tidak dapat digugat telah menyebut raksasa Hannum yang memang palsu sebagai benda palsu.

Akhirnya, pada 2 Februari 1870, kedua raksasa tersebut—baik milik Hannum atau PT. Barnum—diputuskan sebagai palsu di pengadilan.

Baca juga: Kisah Skandal Hoax Terbesar Jurnalisme Amerika

Related

Insight 5873518816461669337

Recent

Hot in week

Ebook

Koleksi Ribuan Ebook Indonesia Terbaik dan Terlengkap

Dapatkan koleksi ribuan e-book Indonesia terbaik dan terlengkap. Penting dimiliki Anda yang gemar membaca, menuntut ilmu,  dan senang menamb...

item