Kisah Suku Xhosa dan Sejarah Kelam di Afrika (Bagian 1)

Kisah Suku Xhosa dan Sejarah Kelam di Afrika

Naviri Magazine - Orang-orang kulit hitam sudah beribu-ribu tahun mendiami benua Afrika. Diduga, kaum San (yang kemudian disebut orang kulit putih sebagai suku Bushmen atau orang semak) merupakan keturunan asli nenek moyang orang Afrika dari masa prasejarah, yang menjadi pribumi Afrika. Merekalah yang diketahui sudah mendiami Afrika selama ribuan tahun sebelum Masehi.

Namun, jika menyebut soal orang Afrika (saat ini), barangkali orang-orang kulit hitam dari suku bangsa Bantu adalah yang dominan. Terutama yang mendiami kawasan Afrika bagian Selatan. Mereka yang berbahasa Bantu tercatat sudah memiliki peradaban di Afrika sejak 2.000 tahun lalu.

Sayangnya, sejarah kehidupan di Afrika Selatan tidak terdokumentasikan dalam bentuk peninggalan tertulis, sampai akhirnya orang-orang Eropa tiba di sana sekitar tahun 1400-an. Satu-satunya bukti yang bisa dipelajari dari mereka adalah legenda, mitologi, pola budaya, dan artefak kuno, serta bahasa ibu mereka.

Xhosa adalah satu sub suku berkulit hitam Afrika berbahasa Bantu, yang mendominasi wilayah Afrika Selatan. Merekalah yang menjadi nenek moyang orang-orang Afrika Selatan masa kini, yang awalnya melakukan migrasi dari wilayah Afrika bagian utara.

Perpindahan suku Xhosa ke Afrika selatan secara besar-besaran terjadi pada tahun 1500-an. Lebih dari setengah populasi suku Xhosa, yang berjumlah 5 juta jiwa, kini mendiami kawasan Eastern Cape Province di Afrika Selatan.

Umumnya, orang-orang kulit hitam suku Xhosa adalah bangsa peternak dan petani. Namun, mereka lebih senang menjadi petani dan peternak nomaden. Lambang kekayaan bagi anggota suku Xhosa diukur dari kepemilikan ternak (biasanya sapi). Begitu pun, suku Xhosa tak mau menyantap daging sapi peliharaan mereka. Sapi atau ternak lain hanya dikorbankan untuk kepentingan ritual keagamaan atau perayaan. Karena itu, makanan pokok mereka lebih didapat dari hasil tani.

Kaum lelaki Xhosa terbiasa mengikuti tradisi poligami, mereka suka memiliki istri lebih dari satu, mungkin karena menjadi simbol keperkasaan.

Aslinya, suku Xhosa suka tinggal dalam komunitas keluarga besar dalam satu kompleks rumah. Satu keluarga besar memiliki areal kompleks masing-masing, dengan rumah-rumah kecil berbentuk kerucut beratap ilalang, untuk satu kepala keluarga. Namun, tradisi bermukim secara berkelompok keluarga besar ini kemudian sirna sejak tahun 1900-an.

Kehidupan asli Xhosa yang dulunya cukup makmur, mulai berubah drastis setelah kedatangan orang Eropa di Afrika Selatan. Sejumlah besar "bule" asal Inggris dan Belanda membentuk koloni besar-besaran di daerah Xhosa.

Walau awalnya suku Xhosa angkat senjata menentang kedatangan orang Eropa, namun penduduk asli ini akhirnya tergusur dan terdesak di wilayah mereka sendiri, setelah kalah dalam beberapa pertempuran dengan orang-orang Inggris pada abad ke-19. Mereka pun akhirnya menjadi budak atau pekerja kasar bagi koloni orang-orang kulit putih.

Kini, suku Xhosa sudah kehilangan gaya hidup dan tradisi leluhur mereka. Banyak orang Xhosa yang akhirnya hidup di perkotaan. Akibat kehilangan ladang dan kesulitan mendapatkan ternak sendiri, mereka memilih sebagai kaum pekerja di peternakan atau pertanian orang-orang kulit putih. Mereka harus mengurut dada saat berhadapan dengan politik diskriminatif kulit putih terhadap kulit hitam.

Penderitaan itu semakin parah kala konflik antar suku Xhosa dan Zulu (kelompok suku terbesar di Afrika Selatan) terjadi pada kurun 1080-an sampai 1990-an. Perang saudara ini menimbulkan korban tewas ribuan orang di kedua belah pihak. Perang ‘modern’ mereka ini hanya karena perbedaan pandangan politik.

Perang hitam-putih

Tragedi tahun 1856 ini tertulis dalam catatan sejarah kehidupan suku Xhosa. Kelompok suku terbesar kedua yang menempati wilayah Afrika Selatan itu nyaris punah, hanya karena seorang gadis 14 tahun. Kepercayaan mereka pada kekuatan magis ternyata membawa petaka yang menewaskan lebih dari 50.000 anggota suku!

Gadis kecil itu bernama Nongqause. Seorang perempuan muda suku Xhosa yang diyakini menjadi gadis muda pilihan para dewa leluhur. Ia melihat sebuah penampakan gaib yang dipercaya sebagai pesan dari dunia lain.

Nongquase dianggap sebagai mediator suku Xhosa dengan para leluhur dan dewa-dewa mereka. Ia membawa pesan penting yang dipercaya bisa mengubah nasib suku Xhosa yang teraniaya, namun kepercayaan berlebih suku Xhosa justru membawa mereka ke jurang maut!

Kala itu, suku Xhosa sedang terpuruk. Mereka terdesak oleh ekspansi dan kolonialisasi orang-orang kulit putih Eropa. Setelah kalah dalam beberapa pertempuran yang tak seimbang, kaum Xhosa tergusur dan menderita di tanah airnya sendiri.

Kaum Xhosa, yang dulunya dikenal sebagai bangsa gagah perkasa di antara orang-orang kulit hitam Afrika, tak bisa menerima kekalahan telak mereka dalam pertempuran. Pada 1853, para pejuang suku Xhosa yang gagah berani melakukan konsolidasi untuk pertempuran penghabisan, mengusir orang-orang kulit putih dari teritori mereka.

Sebelum serangan dimulai, pada 1854 penyakit ternak misterius mewabah dan menyerang hampir semua hewan ternak orang-orang Xhosa. Faktanya, penyakit ternak itu ditularkan dari hewan ternak orang-orang kulit putih, namun orang-orang Xhosa justru menganggap penyakit itu disebar oleh mantra sihir orang-orang "bule", yang disebut ubuthi.

Banyaknya hewan ternak yang mati dan gagalnya hasil panen akibat kemarau, membuat kaum Xhosa frustasi dan membatalkan serangan.

Ramalan

Lalu, pada Mei 1856, Nongqause tampil. Saat itu, gadis belia usia 14 tahun tersebut berniat mengambil air di sebuah kolam di tepi muara Gxarha River. Sekembalinya dari sungai, Nongqause melapor pada pamannya, Mhlakaza, bahwa ia telah bertemu 3 roh di kolam itu. Ia mengatakan bahwa ketiga roh tersebut berpesan padanya, agar seluruh hewan ternak kaum Xhosa disembelih dan panenan mereka dimusnahkan.

Setelah semua hal itu dilakukan, para pejuang dan satria suku Xhosa yang telah mati akan bangkit kembali, dan membantu mereka mengusir orang-orang kulit putih. Lalu roh leluhur Xhosa akan memberi mereka ternak-ternak baru yang sehat dan gemuk, untuk menggantikan setiap ternak yang sudah disembelih.

Baca lanjutannya: Kisah Suku Xhosa dan Sejarah Kelam di Afrika (Bagian 2)

Related

World's Fact 6737732273529800003

Recent

Hot in week

Ebook

Koleksi Ribuan Ebook Indonesia Terbaik dan Terlengkap

Dapatkan koleksi ribuan e-book Indonesia terbaik dan terlengkap. Penting dimiliki Anda yang gemar membaca, menuntut ilmu,  dan senang menamb...

item